KAU,AKU dan SI ORANGE

1

Temuan di desktop smartphone pagi ini. Catatan sang idealis
KAU, AKU, DAN SI ORANGE

Sudah hampir tiga bulan dia menemaniku tapi tak mengalahkan lamamu bersamaku. si orange, begitulah sebutan untuknya, motor Vespa yang setia menemaniku. Mulai hanya sekadar menemaniku membeli sebatang rokok di lorong sebelah rumah hingga mengantarmu pulang ke rumahmu lintas daerah, kab. Gowa. Ia setia, sepertimu.dengan suaranya yang khas, melaju mengantar aku dan kau.Sebenarnya ia milik temanku di Palu, tapi ia titip kepadaku. si orange sudah melupakannya.hehehheeh.ngarep. sudah begitu banyak kenangan yang aku alami bersamanya dan bersamamu. teringat saat aku bersamanya memburu berita saat magang jadi reporter di salah satu media cetak ternama. dengan bensin yang masih tersisa tanpa uang sesen pun melaju membelah jalan pettarani selepas meluput sidang gugatan pilrek unhas. dengan perasaan antara ingin cepat tiba di lokasi kebakaran dengan was2 si orange mogok di jalan..dengan tidak terlalu menacap gas, si orange pun tetap haus dan mogok di ujung fly over jalan urip sumoharjo makassar. aduh, anasnya....dengan tetap semangat, saya pun mendorongnya. terik matahari pukul 12.30 wita menjadikannya begitu haus, begitupun saya, ditambah lambung yang terakhir menyentuh makanan saat adzan maghrib kemarin. agh...komplit. disela lalu lalang kendaraan, terlihat botol kaca berisi bensin di tepi jalan jalur berlawanan. aku pun berhenti, menyandarkan si orange dan berfikir sejenak. menelepon teman, tidak ada yang menjawab panggilan. membuka2 tas, aku menemukan earphone putih. berharap bisa menjadi jaminan untuk membantunya dari kehausan. hanya itu yang terpikir. " berapa bensinya, bu?" "delapan ribu, de." setelah menceritakan yang sebenarnya ditambah dengan muka " sejuta harapan" akhirnya dapat sebotol bensin dengan jaminan earphone. mintanya 2 botol, tapi gagal. akhirnya rasa hausnya pun hilang sengan tambahan 2 takaran tutup botol oli 2t. dengan kekurangan yang ia miliki, aku mendorongnya sejauh 15 meter untuk sekadar mendengar suaranya yang khas itu. akupun melaju melanjutkan perjalanan dengan keringat di badan bersama si haus dan si lapar yang selalu mengikut. kerung- kerung, kelurahan barabaraiya, kecamatan makassar, lokasi kebakaran itu. bertanya dan teruz bertanya dengan orang yang ditepi jalan tentang jalan masuk kelokasi tersebut. ada yang bilang disana, disitu, masih jauh disana , lewat jalan ini jalan itu, sampai si orange mogok lagi di depan warung dengan 4 anak sekolahan lagi asyik ngobrol. dari mulai bertanya, membantu mendorong si orange, hingga mereka menemaniku ke lokasi dengan motor lain. kali ini aku tak bersamanya, hingga warnanya hilang di ujung belokan jalan tempat aku meninggalkannya. berdiri tanpa suara. melewati lorong demi lorong, kami tiba di lokasi kejadian dengan kerumunan warga, polisi, dan suara semburan air dari selang tangki pemadam kebakaran kota makassar. akupun mengucapkan terima kasih kepada 4 anak itu dan memintanya untuk tetap menungguku hingga selesai meliput. langsung menerobos kerumunan, petugas damkar, dan tangisan sebagian korban. dengan mengaplikasikan materi saat pembekalan magang beberapa hari sebelumnya, saya pun mewawancarai sebagian warga, salah satunya korban yang kehilangan rumah dan 9 becaknya. huh...kasihan. api perlahan padam, dengan ucapan terima kasih untuk kedua kalinya, merekapun pulang dengan seragam sekolahnya setelah menyimpan nomor hp dari salah satu dr mereka. bergabung dengan wartawan dr berbagai media. dasar magang, perasaan canggung, proses adaptasi, sok kenal, bermodalkan kartu magang dan notebook beserta pulpen, berlagak sok profesional....dengan sedikit arahan dari teman liputan, tandem, data liputan pun saya dapat. dengan menceritakan kondisi si orange, akupun membonceng di motor tandemku yang kebetulan juga vespa. si putih, sebutku dalam hati karena warnanya putih. aku teringat dia, si orange yang kesepian. saat sang surya hampir tenggelam, saya pun pergi mengambil si orange dengan minta bantuan teman magang mengantarku. memasuki lorong lorong yang hampir tidak kuingat, aku berjumpa dengannya beselimutkan dingin angin timur. akhirnya ia bersuara lagi selepas didorong oleh bantuan motor teman. alhamdulillah, ternyata, ia mogok karena lelah. ternyata tidak hanya wartawan yang lelah, ternyata si orange pun merasakannya. mengantar reporter magang yang lelah dan " payah". ia pun menyentuh lantai parkiran kantor. selepas itu ia kembali membelah dinginnya malam bersamamu di jalan pettarani. dengan suara khasnya, memecah ribuan ketenangan seiring dengan ketenangan para jurnalis, dingin membekukan idealismenya bersamaan dengan senyum profesionalismenya menerima uang dari narasumber yang katanya hanya uang ucapan 'terima kasih'. tetapi haruska terima kasih dibayar dengan uang? tidak sama yang mereka ajarkan kepadaku saat pembekalan jadi reporter. toh, si orange hanya butuh sebotol bensin untuk sebuah berita. menceritakan pengalaman seharian bersamamu memburu berita diselingi tawa dan canda. terkadang mengulang pertanyaan dan jawaban
yang sama karena suaranya begitu mendominasi....hhahahah si orange...si orange...hingga pelukanmu berakhir di depan pagar rumah..si orange pun istirahat untuk esok yang pastinya akan lebih keras....tetaplah seperti itu, si orangeku.....pongkiari47

Posting Komentar

1Komentar
Posting Komentar