Cerita ini hanya fiktif belaka tapi ada kesamaan lokasi dan nama tokoh

0
Bang Ingin sekali ku katakan ini padamu. Hanya saja aku terlalu ciut. Tabungan keberanian belum cukup untuk membeli susunan kata yang bisa ku gunakan agar kau tak tersinggung.
Aku sangat menyukaimu bang,  Aku tergila-gila padamu. Meski belum berani ku sebut ini cinta.
Bang taukah kau? Tiap kali ku paksa tatapanku menerobos kedalam mata.mu. aku kalah bang, aku tak sanggup. 
Bang, tahu kah kau tiap kali ingin ku ajak kau bicara. Lidah ku keluh. Aku kehilangan diksi bang. Aku yang begitu pandai berkawan. Aku bodoh di hadapan.mu.
Aku bingung bang, mengapa aku jadi begitu sensitif.
Seperti sakitnya hatiku saat kau berlalu begitu saja, saat ada waktu untul kita duduk semeja kecuali meja rapat redaksi yang selalu memisahkan, seperti tadi...
Bang mungkin suatu hari nanti akan ku katakan semuanya padamu. Atau bisa jadi ini akan selamanya terpendam sebagai rahasia hati yang pernah menunjukmu.  Begitu singkat waktu yang ku lalui berada di sekitarmu. Mengawasi dari jauh. Dan sekali lagi aku sangat menyukaimu, meski belum berani ku katakan ini cinta.
Bagaimana pendapatmu bang, tentang perasaan perempuan yang masih terlalu muda untuk mu ini? Terlalu cepatkah? Atau terlalu mengada-adakah?
Bang, sering ku bayangkan diriku mencegatmu saat lewat di samping. Aku ingin tersenyum padamu saat tiba-tiba bertemu pandang di lift atau di meja rapat redaksi.
Tapi aku keluh bang, aku terlalu pengecut.  Bahkan sekadar menyapamu basa-basi.
Bang, sering kali ku perhatikan kau dari jauh, entah bagian mana dari dirimu yang membuatku begitu menyukaimu?
Bisakah kau jelaskan padaku bang?
Ayolah bang, jangan diam, bicaralah mendahuluiku sekali-kali, di meja redaksi sehabis rapat atau saat kau akan bergegas pulang.
Ayolah bang, ajari aku menjadi akrab denganmu, bertukar canda dan tawa. Setelah itu biarkan ku perkenalkan hatiku padamu. Dan kau juga boleh mengenalkan hatimu padaku. Itupun jika belum ada seseorang di sana.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)