Sudra dan Brahmana (#6)

0

Aku sedang khawatir. Bukan karena semuanya berjalan tidak lancar. Justru, semuanya berjalan sangat lancar. Dua bulan terakhir banyak yang berubah. Yang awalnya kelabu, jadi merah. Yang awalnya, redup kembali bercahaya. Yang awalnya mati, hidup kembali.


Pernah sekali kudengar seorang detektif berkata bahwa alibi yang terlihat sangat sempurnalah yang harus dicurigai. Aku curiga. Curiga pada keadaan. Seluruhnya, yang berjalan dengan lancar ini, semoga bukan siasat. Siasat untuk memenggal harapan. Baru beberapa waktu lalu, aku berani bermimpi lagi. Cita-cita besar yang pernah ku kubur, bangkit.



Mileh benar, aku pernah bercita-cita menjadi penulis. Aku ingin hidup selamanya, dalam tulisanku. Aku ingin menerbitkan sebuah buku. Kumpulan sajak atau cerita abal-abal tentang apa saja. Yang penting menulis. Menulis saja asal ada untuk dikenang. Tapi itu dulu, kini tidak lagi, rasanya aku lupa bagaimana merangkai kata yang bagus. Jangankan puisi atau sajak, mengisi buku harian pun aku tak lagi pandai.


Pernah ku sampaikan pada Mileh, mengembalikan perahu besar yang pernah keluar dari jalurnya bukan hal mudah.

"Iyah," begitu kata Mileh. "Butuh ancang-ancang," kata dia.


Tapi aku tak tahu sampai kapan, dan di mana perahu besar ini bisa di putar setirnya. Yang pasti aku tetap berlayar. Pelan-pelan mengikuti angin, pelan-pelan mengembangkan layar. Banyak ombak di depan sana tapi aku tak takut. Aku hanya khawatir. Khawatir jika kapal kembali karam. Meski telah beberapa kali karam, pada akhirnya kapalku berhasil ditambal oleh waktu.


Kali ini,,, Aku tidak percaya diri. Jika karam lagi, rasanya aku dan kapalku akan tenggelam.


Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)