MATAHARI DAN REMBULAN

0

Pada siapa kutitipkan rindu ini ketika ia telah menggunung, tidak
dapat kutemukan kertas dan penaku untuk mengubahnya ke dalam secarik
puisi manis. Akulah pujangga yang penanya telah patah, tintanya
mengering, kertasnya basah oleh penyesalan. Aku telah kehilangan kau,
benar-benar kehilangan sejak terakhir ku baca pesan singkat yang tidak
mungkin kubalas. Aku mulai mengutuk zaman yang nampak terlalu modern. 

 Aku berharap pesan singkatm udapat kuubah ke dalam selembar kertas merah
muda yang wangi, untuk kuselipkan di antara tumpukan kenangan yang telah
kubungkus rapi dan kusimpan di sudut hatiku yang telah lebam oleh luka
kekalahan telak yang kau hamtamkan tepat pada tulang rusukku.  Membekaskan luka dan duka yang dalam bagi laki-laki yang telah lelah
berkamuflase ini. Pura-pura tegar. 


Tangisku pecah. Mata laki-lakiku yang
selalu tajam menatap, yang mampu menaklukkan perempuan-perempuan dan
memaksa mereka menyerah tanpa syarat untuk kemudian bermandi cinta palsu
dalam pelukanku, kini mata itu  berkaca-kaca lalu meneteskan cairan
haram, air mata. Seluruh jiwaku mengumpati bagian dari diriku yang
tiba-tiba menjadi lemah , hatiku.


Aku mulai mengenangmu rembulan,
menikmati setiap inci tubuhmu yang lelah ku cumbui dalam khayalan, kau
terlalu tinggi untuk kugapai? Atau aku terlalu lama mengulur-ulur waktu?

“Berdamailah
dengan waktu”  kata – katamu itu. Berputar, berpendar di kepalaku.Tak
mau hilang. Ingin ku ludahi kalimatmu itu dengan sejuta argument tentang
bagaimana aku mampu untuk mengalahkan waktu dan membawamu berbaring di
sisiku.Merasakan hangat pipimu yang halus di dadaku. Namun sekali lagi
kau membuktikan teorimu benar, bahwa pada akhirnya aku tidak dapat
melakukan apa-apa selain mengumpat pada waktu yang terasa begitu cepat
berlalu saat aku bersamamu. Kini kau menang perempuan brengsek. Kau
pergi dan membawa keteduhan mu wahai rembulanku. Dan matahari ini
kehilangan sinarnya.


 Sekarang dengarlah, dengarkan aku , bukan kah telah lama kau menginginkan kata ini kurapalkan?

“Aku
mencintaimu”, karena aku memang mencintaimu, aku bersembunyi di balik
pembenaran bahwa aku bukanlah pemuja kata. Aku hanya tidak ingin tampak
lemah di hadapanmu dengan mengakui cinta yang telah menggerogoti hampir
seluruh keakuaanku. Berbaliklah perempuan brengsek. Sekali saja dan
dengarkan aku.  Tempat tidur dan seluruh tubuhku masih mnginginkanmu.
Terlebih lagi hatiku. Aroma tubuhmu, tawamu, tatapanmu.Aku menjadi gila
karenamu.

                                    ****

Sudah ku
bilang kau memang angkuh, dan sekarang kau memperlihatkan keangkuhanmu
dengan pergi terlalu cepat. Dan aku harus apa?Tidak dapat kulakukan
apapun selain memandangi punggungmu yang mulai menghilang dalam
bayanganku. Kabut dan kau berlalu tanpa jejak untuk ku kejar. Aku
lumpuh.meratapi kelemahanku karena jatuh pada cinta yang salah. Ah, aku
meragukan kata-kata ku.Mungkin kau adalah cinta yang paling tepat
bagiku, hanya saja aku menemukanmu di waktu yang salah.


Lihatlah,
betapa puitisnya aku sekarang. bukankah kau selalu menginginkan sebuah
puisi yang kutulis dalam penyerahan diriku dalam cinta untukmu? Aku telah
takluk rembulan. Takluk pada teduhmu yang tak dapat kumengerti. Bahkan
saat kau justru purnama di sisinya.


Tak pernah kau temukan cinta
sebesar dia mencintaimu? Benarkah?  Itu alasanmu begitu cepat memilih
untuk mengucapkan selamat tinggal padaku lalu melangkah sambil merangkul
lengannya? Aku masih ingin kita bergandegangan tangan rembulan. Lalu
apakah karena aku mencintaimu tanpa kata cinta lantas kamu tak dapat
merasakan itu? Terlalu naifkah kamu? Atau ada sesuatu yangtidak ku
ketahui tentang kita yang selama ini kau sembunyikan?  Tolonglah
rembulan sekali lagi, purnamalah di sisiku.





 Seandainya
laki-laki mu itu bukan sahabatku, laki-laki yang padanya aku rela
menyerahkan nyawaku untuk kebahagiaannya. Laki-laki yang ku kenal seumur
hidupku, yang meminjam nafasku saat dia tersengal, laki-laki yang ku
pinjam nyawanya saat aku sekarat. Dia adalah sahabatku, saudara
laki-lakiku yang lahir dari rahim yang lain dan lebih dari segalanya aku
begitu menyayanginya. Seandainya bukan dia yang kau pilih,  seandainya
dia adalah laki-laki lain, aku bersumpah akan kurebut kau dari
langitnya. 

Kau tidak berhak untuk menjadi penghias langit lain,  kau
adalah rembulanku . Tempatmu adalah di sisiku, menjadi rembulan
yang  memantulkan cahaya yang kau terima dariku. Dan aku ingin setiap
purnamamu kau alami karena cahayaku. Hanya cahaya ku rembulan, yang
pantas menyinarimu. Bukan yang lain. 

Tapi dia sahabatku, dia laki-laki
yang sama dengan aku, aku tidak mungkin meruntuhkan langitnya
denganmencuri rembulannya. Satu-satunya penghias langit yang paling dia
inginkan. Aku tidak mungkin mencuri bahagianya. Tidak mungkin.

  Maka
dengan hati yang berbalut luka ini kukatan, Pergilah... selamat jalan. Junjung
kehormatannya seperti kau memelihara keanggunanmu. Sayangi dia sebesar
kau menyakitiku. Lukiskan senyuman pada setiap sisi kehidupannya.
Pinjamkan nyawamu saat dia sekarat,  pinjamkan nafasmu saat dia
tersengal. Seperti yang selalu ku lakukan untuknya. Karena tepat di hari
kau mengucapkan selamat  tinggal padaku, maka akutelah benar-benar pergi
meninggalkan kalian. Ku titipkan cintaku rembulan, kutitipkan saudara
laki-lakiku pada tangan halusmu, pada pelukanmu yang hangat. Selimuti dia
dengan cinta yang besar, sebesar kau membakarku dengan cemburu yang tak
akan pernah redam. Sekali lagi kutitip segalanya padamu. Jangan
pernah bertanya tentang kemana aku pergi. Selamat tinggal

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)