Kami terjun kedunia pers yang sebenarnya pada akhir maret yang lalu. Entah apa yang saya tulis ini akan menyinggung beberapa atau banyak orang tapi inilah dia. Tanpa sedikitpun bumbu yang coba saya tambahkan untuk membuat tulisan in menjadi menarik.
Dia adalah salah satu panutanku dalam hal memegang prinsip. Seorang laki-laki yang biasa-biasa saja namun sangat teguh memegang prinsipnya.
Dunia jurnalistik bukan hal yang baru baginya.
Dia adalah mantan pemimpin redaksi pers kampus. Sebuah pers kampus bergenre jurnalisme sastrawi.
Cerita ini Di mulai saat dia tiba-tiba Resign dari perusahaan besar yang belum sebulan kami tempati bersama. Sebuah perusahaan surat kabar terkenal di kota kami. Awalnya dia memberi alasan yang logis, tidak ingin kuliahnya terganggu. Sehingga saya tidak perlu mempertanyakan lagi keputusannya itu.lagi "lagi pula saya lebih tertarik dengan dunia design" katanya meyakinkan. Selanjutnya saya tidak lagi bertanya sampai seorang teman yang juga masih berstatus magang memberitahu saya sebuah informasi yang menurutnya sebuah rahasia.
"Jangan maki kasi tahu orang lain" katanya.
Dia sering menerima "amplop" sehabis meliput, hanya ucapan terima kasih, katanya dan saya mengangguk. Pertanyaan ini saya simpan untuk dia yang baru saja resign.
"Inilah yang membuat saya kecewa" katanya lalu tersenyum sinis.
Saya tidak ingin menyimpulkan apa-apa dari semua cerita itu. Tapi yang saya tahu, si teman yang resign ini telah beberapa kali mendorong vespanya karena kehabisan bensin sepulang kantor padahal saat meliput tadi, dia baru saja menolak "amplop" terima kasih.
Saya juga tidak menyalahkan teman penerima "amplop terima kasih"
"Saya sudah menolak tapi tandem saya bilang tidak apa, jadi saya ambil" katanya dengan polos. Dan saya lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
Saya benci untuk menggadaikan idealisme, namun apakah menerima amplop terima kasih ( bukan amplop sogokan) sudah termasuk menggadaikan idealisme? Dan mengapa teman yang resign ini mengatakan kecewa terhadap para penerima amplop terima kasih? Dan kenapa dia lebih memilih mendorong vespa dari pada menerima amplop terima kasih?
Saya tentu tidak akan mau menggadaikan idealisme saya, tapi saya juga tidak mau mendorong motor saya.
Menjadi idealis atau tidak sama sekali?
April 20, 2014
0
