Udara beku. Hari ini, musim yang selalu semi tiba-tiba turun salju. Benda putih itu jatuh menyentuh kulitku. Dingin. Bukankah sekarang musim semi? Kenapa turun salju.
“Anomali cuaca, seperti biasa.” Pikirku. Aku lupa, ternyata musim selalu berganti empat bulan sekali. Aku meraparkan sweaterku yang tipis. Salju turun semakin banyak, aku memikirkan Rafa, ku putuskan untuk menelponnya.
“Pulanglah cepat, pulanglah kerumah, kau tidak lihat salju ini? kita akan mati membeku jika tidak masuk ke dalam rumah.” Aku setengah berteriak memperingatinya.
“Aku tidak bisa pulang.” Rafa menjawab singkat
“Kenapa? Sedang turun salju, pulanglah segera. Pulang ke rumah!” Aku tiba-tiba merasa khawatir, ada kecemasan besar dalam kalimatku itu, tidak biasanya Rafa tidak pulang, apapun yang terjadi, dia pasti pulang.
“Mungkin aku tidak akan pulang, jadi carilah seseorang untuk menemanimu di rumahmu.” Rafa lagi-lagi memberikan jawaban mengejutkan dalam suara yang sangat datar. Begiti tenang, sementara itu dingin terasa menamparku, aku merasa ada satu titik hangat yang tiba-tiba muncul di dalam diriku, kontras dengan tanganku yang mulai gemetar kedinginan. Titik hangat itu dengan cepat memanas, aku merasakannya di kedua bola mataku, mendidihkan air mataku yang kemudian jatuh menyentuh pipiku yang mulai beku. Mengalir. Panas.
“Jangan!, rumahku? Rumah ku kau bilang? Itu rumah kita. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengisinya selain kita. ” Aku merasa takut, sedikit memohon aku memintanya pulang. Berkali-kali dengan tangis yang tertahan. Hatiku beku, mungkin karena salju. Aku kaku, seluruh tubuhku.
“Itu rumahmu, kau boleh mengajak siapapun.” Lagi-lagi Rafa berbicara dengan sangat tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap kalimatnya telah memancing ombak di hatiku untuk bergemuruh. Aku tak lagi mempedulikan salju yang membekukan tubuhku, atau panas air mata yang mendidih di kedua bola mataku, memerah.
“Sudah ku bilang ini rumah kita, pulanglah dan jangan berkata yang tidak-tidak, kenapa kau tiba-tiba tidak ingin pulang? Adakah kesalahan besar yang telah kulakukan?” Sekarang aku lebih nampak seperti orang yang sedang menghiba dari pada mengajak kompromi, aku memelas. Memohon agar dia pulang.
Sebenarnya, aku sudah mulai bosan dengan rumah itu, juga dengan mu. Jadi kuputuskan aku tidak akan kembali.” Rafa memberikan penjelasan yang mengejutkan. Air mataku tumpah, oh tuhan, sepertinya dia tidak akan pernah pulang. Mengapa?
Rafa memutuskan sambungan telepon tanpa memberiku kesempatan. Aku menggigil, sementara salju turun dengan tenang, tak memperdulikanku. Setenang Rafa menjelaskan perpisahan. Sementara badai salju yang sebenarnya terjadi dihatiku, menghancurkan semuanya, membekukan segalanya. Janji-janji, harapan, mimpi-mimpi, semuanya hancur, porak-poranda oleh badai salju, semuanya membeku, keras, seperti sebongka es.
Dengan tubuh gemetar ku pungut kembali semua yang telah luluh lantah oleh badai saljuku sendiri, susah payah aku mencari kunci ku dan mebuka pintu rumahku dengan tubuh yang mulai membeku. Setengah menyeret langkahku yang mulai goyah aku berjalan menuju kamarku, memandangi sekelilingnya, di dikamar ininlah aku dan Rafa selalu memadu kasih, merajut harapan dan mimpi-mimpi, terlelap dalam pelukannya dan terbangun sambil memandang senyumnya.
Aku membanting tubuh bekuku ke atas tempat tidur yang terasa begitu sepi. Aku berusaha berdamai denganr asa sakit, berdamai dengan dingin yang mengoyak kulitku, melumpuhkan setiap sendi-sendi pertahananku, berusaha untuk berdamai dengan gemuruh di dalam dadaku, yang terus mengalirkan air kepedihan di mataku. Aku berusaha keras untuk tidur. Malam sudah separuh waktu, detak jarum jam mendesah memperjelas sepi. Di dalam rumah sebesar ini, aku sendiri, memaksa diriku untuk terlelap. Berharap. Kepergiaan Rafa hanyalah mimpi dan hujan salju di luar sana akan reda, berharap esok, musim akan kembali bersemi.
***
Hari masih sangat pagi, aku terbangun sendiri, menyadari Rafa tidak ada di sampingku. Semburat merah anak cahaya matahari masih tersisa di kaca jendela. Aku menyadari , semalam bukanlah mimpi. Itu adalah sebuah tragedi, kepergian Rafa buka ilusi ataupun mimpi, itu nyata. Aku mengintip jendela, di luar masih turun salju, tiba-tiba aku membenci salju. Butir-butirnya menari di udara( pura-pura anggun) sebelum akhirnya jatuh menjumpai salju-salju yang telah lebih dahulu mendarat. sejauh mata memandang semua tampak putih, putih karena dominasi salju, aku muak. Kualihkan pandanganku pada tempat tidurku, tempat tidur kami, Rafa tidak ada di sana. Hatiku kembali pilu, air mataku kembali jatuh.
Aku menelepon Rafa, berkali-kali ku dengar nada tut…. Tut… tut….. tapi tidak pernah berakhir pada kata hallo dari suara yang tiba-tiba begitu ku rindukan. Dia tidak menjawab panggilanku. Ad apa? Apakah dia baik-baik saja? Tidur dimana dia semalam? Apakah salju tidak membuatnya beku?
Ketidakhadiran Rafa di rumah ini membuat semuanya nampak berbeda, ada kehangatan yang tiba-iba menghilang. Gelak tawanya, senyumnya, tatapan manjanya, marahnya dan sifat kekanak-kanakannya adalah perabotan rumah kami yang paling ku sukai, dan mereka ikut lenyap. Rumah kami kelihatan hampa. Benar- benar hampa.
Kesendiriaan ini membuatku mengawang-ngawang, menerka-nerka apa yang membuat Rafa tak ingin lagi kembali kerumah? Apakah yang membuatnya bosan? Atau jangan-jangan dia telah menemukan rumah yang lebih baik? Atau apakah aku telah membuat kesalahan yang tak termaafkan? Aku mulai terjebak dalam pikiranku sendiri, dalam ketakutanku, aku tidak dapat menemukan alasan yang tepat, jawaban yng tepat atas semua pertanyaan. Semua serba sekejap mata. Secepat salju yang tiba-tiba datang menghapus jejak musim yang kemarin masih bersemi, yang nampak begitu indah, begitu hidup, lagi air mataku kembali tumpah.
Sepertinya aku harus terbiasa dengan ini, aku harus belajar untuk menjadikan kenangan sebagai pelipur, lara dan rindu. Tapi entah mengapa setiap inci kenangan yang terbayang justru menjatuhkan semakin banyak air mata.
Waktu bergulir lambat menuju tengah hari, aku kembali menghubungi Rafa berharap menemukan penjelasan.
Rafa mengangkat teleponnya
“Hm… ada apa?” Nada suaranya cuek
“Kamu masih marah?” Aku bertanya, aku merasakan getaran dalam suaraku sendiri.
“Marah? Untuk apa marah?” Dia tidak memberikan jawaban dan justru bertanya balik.
“Kita tidak benar-benar pisahkan? Semalam kamu cuma bercandakan?” Aku menutup mata dan berdoa dalam hati berharap Rafa hanya mengeluarkan satu kata iya.
“ku pikir semalam semuanya sudah jelas” Rafa menjawab dengan sangat tenang
“Aku tidak akan sanggup Rafa!” suaraku bergetar , aku menggigit bibirku berusaha menahan air mataku agar tidak tumpah. Sakit.
“Kau harus terbiasa, carilah orang lain.” Katanya
“Sudah ku bilang aku hanya menginginkan kau, bukan orang lain” Aku membentaknya, air mata mendesak dari balik pelupuk mataku
“Tapi aku sudah tidak menginginkanmu, aku sudah tidak mencintaimu, terima sajalah.” Suaranya masih sangat tenang, nyaris tidak ada ekspresi yang dapat ku tangkap di sana.
“’Aku akan mati.” Akhirnya tangisku benar-benar pecah
“Itu bukan urusanku, sudahlah matikan ponselmu, aku sudah tidak ingin bicara. Aku bosan dan mengantuk.” Lagi Rafa mematikan sambungan telepon secara sepihak.
****
Siang itu juga setelah Rafa mematikan sambungan telepon aku keluar dari rumah, tanpa menguncinya. Rumah yang tiba-tiba menjadi sangat dingin, gelap dan menyeramkan. Rafa tahu, aku begitu takut dengan kegelapan, tapi kenapa dia meninggalkanku tanpa cahaya? Aku berlari menjauhi rumah itu, terus berlari, aku tidak lagi peduli pada salju, rumahku jauh lebih dingin. Aku berlari dan hanya berlari, aku tidak punya tempat untuk di tuju, aku kehilangan arah, aku tak tahu hendak kemana, yang ku pikirkan adalah aku harus terus berlari, membawa luka hatiku. Dalam perjalanan itu aku melihat kenangan-kenanganku bersama Rafa, sesekali aku berhenti untuk memandanginya, meneteskan air mata dan memaksa membuat lengkungan senyum di bibirku. Sebelum akhirnya kembali berlari dan terus berlari.
Sekarang langkahku berhenti di depan sebuah bus yang sedang berhenti, aku mengenalinya sebagai bus yang dulu membawaku berangkat dari desaku menuju kota ini. desaku yang tidak mengenal musim, desaku yang selalu bersemi.
Entah apa yang membuatku tiba-tiba melangkahkan kaki memasuki bus itu, mengambil sebuah tempat duduk di dekat jendela, bus itu tampak kekurangan penumpang, ada banyak kursi yang kosong, sepertinya tidak banyak orang seperti aku yang ingin kembali ke desanya. Bus itu melaju, tiba-tiba kenangan tentang rumahku di desa berkelebat, bersama seorang laki-laki, laki-laki yang dulu tinggal bersamaku di rumah itu. Rumahku di desa. Bayangan laki-laki itu berebut tempat dengan bayangan Rafa dalam benakku. Bus terus melaju dan bayangan Rafa tidak dapat terkalahkan.
***
“Kau pulang Marsya?” Tanya laki-laki itu, laki-laki yang ternyata masih setia menunggui rumah tuaku di desa. Rumah yang kuncinya dulu sengaja ku buang karena kesalahpahaman antara aku, dia dan penduduk desa lainnya.
“Iya, aku pulang kak.” Suaraku datar, bergetar. Aku memejamkan mata, menahan laju air mata, di sana, di dalam mata yang terpejam aku menemukan bayangan Rafa.
“Kudengar kau telah membangun rumah istana di kota. Kenapa kau pulang? Apa kau tidak betah di dalamnya?” Dia berkata sambil tersenyum, senyumannya menikamku.
“Dia meninggalkanku, Rafa meninggalkanku di rumah besar itu.” Suaraku bergetar saat menyebut namanya. Ada luka yang kembali terbayang.
“Hahaha… seperti yang dulu kau lakukan padaku, ya kan?” dia menatap kedalam mataku yang sembab “kau terlalu banyak menangis” lanjutnya
“Maafkan aku kak!” Lidahku keluh saat mengucap kata maaf, aku masih merasa tidak pernah bersalah.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke rumah.” Dia menyentuh bahuku, memegangnya seperti sesuatu yang rapuh, sangat hati-hati dan lembut.
“Aku sudah membuang kunciku.” Kataku, ragu
“Kita pakai kunciku saja.” Katanya sembari tersenyum.
“Kak…” aku memanggilnya, seperti biasa saat aku merengek meminta sesuatu atau ingin menceritakan sebuah kesalahan
“Katakanlah!” Jawabnya
“Aku datang dengan hati yang remuk.” Suaraku kembali bergetar, tangisku nyaris pecah.
“Selama masih bisa diperbaiki. saya akan memperbaikinya” Mendengar kalimatnya itu tangisku pecah.
Dia memelukku, aku tenggelam dalam pelukannya, tenggelam dalam lengannya yang kuat, bersandar pada dadanya yang bidang. Aku menangis di sana, merindukan Rafa, merindukan detak jantungnnya, merindukan lengan kecilnya, merindukan pinggang kurusnya, aku merindukan pelukan Rafa, seandainya saja.
***
Pagi ini aku terbangun di rumah yang berbeda, terasa aneh. Ada sepucuk surat dari Rafa, mengagetkanku, entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada dalam genggamanku. Dia mengirim surat untuk memintaku tetap tinggal di desa.
Biar kacungmu saja yang menjaga rumah mewah ini begitu kira-kira kalimat terakhir dalam suratnya. Sepertinya dia sudah kembali kerumah kami dan tidak menemukanku disana. Aku tidak mengerti maksudnya, satu hal yang pasti, aku merasa terusir. Aku kembali menangis. Dia memang sangat pandai menjatuhkan air mataku, dengan kalimatnya yang pedas, dengan kalimatnya yang seperti belati. Tajam. Menikam tepat pada jantung perasaanku.
Laki-laki itu datang, aku menyeka air mataku. Aku tidak ingin tampak lemah di hadapannya.
“Apa kamu betah di rumah ini Marsya?” Dia bertanya sambil menyentuh punggung tanganku
“Entahlah , kak.”Jawabku singkat
“Apakah kamu masih Marsya yang dulu?HMarsya yang kukenal”
“Aku sendiri meragukan hal itu”
“Kau meragukanku?” Tanyanya heran
“Bukan” aku menggeleng “aku tidak pernah meragukanmu kak, aku meragukan diriku sendiri” aku menarik tanganku dari genggamannya lalu berbalik memunggunginnya.
“apakah kau sekarang adalah Marsya yang lebih baik, atau Marsya yang leih buruk?” Dia menyentuh pundakku, aku tidak bergeming.
“Aku sudah tidak pantas lagi kau cintai seperti ini kak, aku sudah tidak pantas lagi kau tunggu.” Aku menggigit bibirku sendiri
“Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau harus tidak pantas? Bagiku, kau selalu pantas.” Katanya sambil berusaha membalikkan badanku menghadapinya
“ Aku jatuh cinta” Kataku
“Anggap saja itu ujian bagi hubungan kita.” Dia bersikeras untuk meyakinkanku.
Aku memberanikan diri untuk menatapnya, menatap kedalam matanya. Mata tempat ku berteduh dari segala lelah selama bertahun tahun, mata yang selalu berhasil menundukkanku. Pagi ini aku menantang mata itu, bersitatap.
“Aku jatuh cinta kak, jatuh begitu dalam kepada Rafa,dia telah mengisi setiap sudut jiwaku dengan dirinya, jiwaku telah larut kedalam raganya. Aku tidak akan menanggalkan cinta ini, meskipun akan menjeratku hingga ku kehabisan nafas, atau bahkan mati karenanya, maafkan aku!” Setelah menyelesaikan kalimatku, aku berdiri dan sekali lagi menatapnya
“Maafkan aku”
“tapi Marsya…” Dia menarik tanganku
“Sudahlah kak, aku harus pulang ke rumahku.” Aku menepis genggaman tangannya dengan lembut. Mengambil langkah pertama untuk menjauh.
“Aku akan tetap menunggumu.” Aku masih sempat mendengar kalimat terakhirnya itu. Tapi aku tetap harus pulang. Pulang kerumahku, tempat dimana seharusnya aku berada.
Aku akan pulang kerumahku, meskipun bukan untuk tinggal di dalamnya, meskipun hanya untuk melihatnya dari jauh, meskipun aku harus mencintai Rafa secara sepihak. Dari jauh. Aku akan menggelandang, berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura menjadi temannya. Dan diam-diam menangis dalam kesendirian. Menikam rinduku atas cintanya. Berjanji, , pada luka yang parah ,dalam duka yang dalam aku akan menyempurnakan cintaku atasnya.
Menunggu!
RAFA DAN HUJAN SALJU
April 21, 2014
0
