Hasrat, orang-orang menyebut dan mengenal perasaan itu sebagai hasrat. Perasaan menginginkan sesuatu yang terbawa hingga ke alam bawah sadar. Yang membuat kaki melangkah ketempat yang tidak difikirkan oleh otak, yang membuat mata memandang kearah yang tidak diperintahkan otak. Perasaan yang sama yang dirasakan seekor kumbang untuk mendekati setangkai bunga yang tumbuh di antara bunga-bunga lainnya. Tanpa sadar naluri membawa sayap-sayap kumbang itu menuju bunga mawar impiannya. Sekali lagi, kadang-kadang tanpa ia sadari.
Kumbang sedang mempersilahkan seorang perwakilan dari salah satu fakultas di kampusnya yang bergabung dalam sebuah aksi penolakan terhadap program birokrasi universitas tentang dana penunjang pendidikan yang akan dibebankan pada setiap mahasiswa baru yang akan masuk ke universitas mereka. Aksi ini diadakan karena mereka sadar bahwa dana pendidikan yang dianggarkan oleh pemerintah Negara ini- yang di ambil dari dana APBN setiap tahunnya yang mencapai 2,8 juta rupiah pertahun per mahasiswa- sudah cukup untuk menunjang segala bentuk pembiayaan pendidikan mereka -apalagi di tambah dengan SPP yang mereka bayar setiap semester-. Sebagai universitas negeri yang sebagian besar pengeluaran biayanya ditanggung oleh Negara maka kampus mereka dianggap tidak perlu melakukan pungutan apapun - di luar SPP yang memang telah ditetapkan dalam undang-undang- karena akan memberatkan mahasiswanya yang 70% dari mereka berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah kebawah.
Orator yang dipersilahkan oleh kumbang maju ke depan dan menyampaikan orasinya. Semua orang mendengarkan dengan antusias. Penuh semangat, orator itu melayang-layangkan tinju kirinya ke udara, sebuah symbol perlaawanan. Kumbang merasa senang dan bangga. Sebagai seorang jendral lapangan, kumbang sudah berhasil membawa aksi ini mejadi hidup dan penuh semangat. Menyusun stategi bersama para petinggi-petinggi lembaga kemahasiswaan sehari sebelumnya dalam konsolidasi. Dan hari ini adalah hasilnya. Ratusan mahasiswa dengan jaket almamater orange memenuhi halaman rektorat unuversitas mereka.
Kumbang melayangkan pandangannya menyapu kerumunan mahasiswa yang ada di sana ketika pandangannya tertarik pada seorang perempuan berbaju merah tanpa almamater sedang menatapnya. Sayang sekali hampir seluruh wajah perempuan itu ditutupi oleh selendang - sehingga yang terlihat hanya matanya- berwarna sama dengan bajunya, merah.
Kumbang masih memperhatikan perempuan itu bahkan setelah perempuan itu mengalihkan pandangannya kepada mahasiswa yang sedang menyampaikan orasinya. Kumbang menatapnya lekat-lekat namun pandangannya lalu terhalang oleh seorang lali-laki yang menerobos kedepan dan berdiri di depan perempuan itu. Menghalangi pandangan kumbang padanya.
Apakah itu kamu Mawar? Benar-benar kamu? Pertanyaan itu menggema berulang-ulang dalam kepala kumbang.
Aksi yang sudah berjalan selama satu jam itu akhirnya mendapatkan kemajuan, birokrasi kampus –rektor dan pembantu rektor 3 bidang kemahasiswaan bersedia untuk ditemui dan memberikan penjelasan terhadap pertanyaan dan memberikan tanggapan terhadap tuntutan aksi kali ini. Sementara itu kumbang sudah kehilangan jejak perempuan berselendang merah itu. Tubuh perempuan itu mungkin telah tenggelam dalam lautan manusia di halaman rektorat.
Massa aksi memasuki sebuah auditorium berkapasitas 350 orang, sedangkan jumlah massa aksi jauh lebih banyak sehingga sebagian besar dari mereka harus menunggu di luar. Kumbang memilih untuk duduk di bagian belakang- di dekat pintu masuk- berharap dapat mencari sosok perempuan berselendang merah itu dan melihatnya dari dekat. Kumbang lupa, sebagai seorang jendral lapangan yang memiliki peran penting dalam aksi ini dia harus berada di barisan depan. Seseorang datang dan memintanya maju kedepan-duduk bersama para petinggi lembaga kemahasiswaan- berhadapan langsung dengan birokrasi kampus yang sedang mereka tuntut. Kumbang maju kedepan, melupakan pencariannya terhadap perempuan berselendang merah yang justru masuk kedalam ruang auditorium satu menit setelah kumbang maju kedepan dan duduk tepat di samping kursi yang tadi di pilih kumbang. Seharusnya mekera sudah duduk berdampingan sekarang. Seandainya takdir berbaik hati.
Dialog itu berjalan dengan lancar, meskipun pada akhirnya birokrasi kampus haanya menberikan sebuah janji. Janji bahwa mereka akan mempertimbangkan saran dari anak-anaknya(baca: mahasiswa).
“Kami harap ayahanda rektor dan pembantunya(baca: pembantu rector 3), semoga bukan hanya berjanji dan tidak pernah ada realisasinya. Semoga apa yang baru saja ayahanda sampaikan kepada kami adalah sebuah niat dan pelaksanaannya akan segera menyusul.” Perwakilan dari fakultas seni dan desain angkat bicara -seorang mahasiswa kurus dengan rambut ikal sebahu yang dibiarkan terurai- dan di sambut dengan teriakan mahasiswa lainnya
“Beetul, betuuul!” suara itu menggema memenuhi seluruh ruang auditorium.
“Tenang, tenang nanda, kami akan rapatkan kembali hal ini dan kami bawa dalam rapat yang lebih tinggi.” suara berat dari sang rektor menggema-karena pengeras suara- mengalahkan suara para mahasiswa “Ini adalah tugas kita semua untuk membuat kampus almamater kita tercinta, universitas kita tercinta menjadi lebih baik lagi.” rektor melanjutkan petuahnya dengan nada suara yang tenang. Sangat diplomatis dan seolah-olah tidak ada amarah di dalamnya. Hatinya? Siapa yang tahu….
Akhirnya dialog itu selesai, juga rangkaian aksi lainnya. Namun kumbang bahkan tidak melihat perempuan selendang merah itu pada saat evaluasi aksi di sekretariat BEM universitas. Sebagian besar mahasiswa memang langsung pulang ke kampus masing-masing setelah aksi bubar. Yang ikut dalam evaluasi aksi adalah mereka yang juga hadir pada saat konsolidasi. Mereka adalah perwakilan dari fakultas masing-masing. Perempuan selendang merah itu memang tidak hadir saat konsolidasi aksi, jadi wajar ketika dia tidak di utus oleh fakultasnya untuk ikut dalam evaluasi aksi. Kumbang memahami itu. Meskipun dalam hatinya dia masih menyimpan harapan bahwa perempuan itu adalah mawar. Bunga revolusi, bunga mawarnya yang angkuh.
“Semesta telah memberiku hadiah yang indah di aksi pertamaku setelah satu tahun di sekap oleh sari, jika itu memang benar-benar kamu. Kita akan bertemu lagi diaksi selanjutnya.” Kumbang tersenyum, didiliputi rasa bahagia. Banyak rindu yang terobati hari itu. Rindu pada bunyi sirine megaphone, orasi, dan massa aksi yang sama bersemangatnya dengan dirinya. Dengan penuh rasa semangat kumbang melangkah meninggalkan sekretariat BEM universitas dan pulang ke kampusnya sendiri, kesekretariat BEM fakultasnya, tempatnya merasa bebas dari tekanan Sari dan bebas menjadi dirinya sendiri, yang mencintai lembaganya dan mencintai bunga revolusinya. Kumbang bahkan tidak tahu takdir sedang mengasah pisaunya.
***
Mawar tidak pernah menyangka bahwa pilihannya mengikuti aksi hari ini akan membawa dampak yang sangat besar pada dirinya. Sebuah kenangan yang telah dia simpan dengan rapi selama hampir setahun dan tidak pernah ada niat baginya untuk mengusik kembali lipatan rapi itu. Sekarang, semua kenangan itu serta merta berhamburan memenuhi fikirannya. Ingatan-ingatan tentang masa lalu. Ingatan tentang bagaimana kerasnya dia berjuang untuk tidak pernah mengungkit atau mengingat sedikit saja tentang kenangan itu. kini, semunaya muncul ke permukaan begitu segar, begitu nyata dan begitu menyakitkan.
Mawar masih belum percaya. Orang yang dipandanginya itu. Orang yang menatap kedalam matanya itu. Orang yang berdiri tidak lebih dari 10 meter darinya itu, jendral lapangan itu. Jendral lapangan yang memimpin aksi pertamanya sejak hari terakhir mawar mengikuti aksi hari anti korupsi setahun yang lalu. Orang itu adalah orang yang pernah begitu dirindukannya sehingga hampir menjadi gila. Laki-laki itu adalah kumbang. Wajah itu, baru dua kali dia lihat. -Sekali tanpa sengaja Dan sekali dengan sengaja dengan konsekuensi yang mereka berdua telah perhitungkan- namun telah berhasil membuatnya mengingatnya hingga kebagian paling detailnya. Tentang tiga kerutan di ujung maranya saat dia teertawa. Tentang barisan gigi-giginya yang berjejer rapi tapi tampak kunig karena kebanyakan mengisap rokok. Dan tentang matanya yang selalu menatap dengan tajam. Persis seperti caranya menatap siang tadi saat dia menghujamkan pandangannya kedalam pandangan mawar yang membuatnya terpaksa membuang pandangan ke arah lain.
Benarkah takdir ingin mempetemukan mereka lagi? Ataukah ini hanya sebuah lelucon? Mawar mengharapkan jawaban ya pada pertanyaan pertama dan jawaban tidak pada pertanyaan kedua yang muncul dalam benaknya saat itu. Jika benar jawaban ya berlaku untuk pertanyaan pertama, lalu kenapa mawar tidak berani menemuinya dan malah bersembunyi dibalik selendang merah itu? Bukankah dulu dia begitu ingin menemuinya? Bukankah mawar telah menunggu untuk mendapatkan sebuah penjelasan? Ataukah semua itu hanya persoalan dulu? Dan sekarang mawar tidak lagi menggarapkannya? begitu juga laki-laki itu! Karena dia juga sama, tidak menemuinya. Mawar hanya bisa menjawab pertanyaan yang terakhir dengan ragu-ragu.
Ya, aku tidak lagi menginginkannya. Fikiran mawar memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hatinya. Hati manusia memang selalu dipenuhi oleh pertanyaan. Karena hati manusia tidak pernah bisa menimbang. Hati hanya bisa merasakan lalu bertanya. Dan fikiranlah yang berhak memberikan jawaban setelah melakukan banyak pertimbangan.karena pertimbangan-pertimbangan itulah hati biasanya mendapatkan jawaban yang menyesatkan dari fikiran kita. Kadang-kadang pertanyaan dari hati tidak boleh dianggap sebagai pertanyaan tapi pernyataan, agar fikiran tidak terlalu banyak menjadi pemberi keputusan..
Sekarang sudah ada seseorang di sisinya -begitu keputusan yang diberikan oleh fikiran mawar- dan Mawar tidak mungkin menginginkan laki-laki lain lagi.termasuk kumbang. Ibnu mundzir -yang mendapat panggilan sayang Bennuh, dari mawar- adalah pacarnya. Satu-satunya laki-laki yang telah dia pilih untuk mendampinginya. Dan mawar tidak pernah main-main dengan keputusan besar yang telah dia ambil karena telah banyak pertimbangan sebelum itu. Bennnuh adalah masa depannya dan kumbang akan selamanya menjadi kenangan.
Berjam-jam mawar mempengaruhi fikirannya tentang melupakan kumbang. Namun hatinya justru sedang ingin memberikan sedikit tempat pada laki-laki itu. Mawar mengutuki dirinya sendiri.kenapa harus ikut aksi lagi? Bukankah dia sudah berjanji pada Bennuh? Terlebih lagi janji pada dirinya sendiri untuk menghindari tempat-tempat yang mungkin aka ada kumbang di sana. Tapi kenapa siang itu dia ada di sana? Apakah takdir sedang melakukan sebuah permainan yang akan melibatkannya lagi? Takdir bahkan tidak pernah bertanggung jawab dengan luka yang dialaminya. Lalu untuk apa dia mengikuti permainan ini? Takdir telah membawa kumbang pergi darinya tanpa sebuah penjelasan. Takdir telah membuatnya bersusah payah melupakan kumbang dan akhirnya hampir berhasil. Sekarang,takdir seenaknya membawa kembali laki-laki itu ke hadapannya. Benar-benar sebuah permainan yang membuatnya muak.
ARGHHH
***
Ponsel yang begetar di saku celananya berhasil membuyarkan lamunan mawar dan kebenciannya pada takdir. Mawar mengambil ponsel dari saku celananya dan memeriksa layarnya.Sebuah pesan singkat.
From: Bennuh
Syg. Bs pnjm supernova km? pntng nih!
Seulas senyum tersungging dari sudut bibir mawar. Dari Bennuh, laki-lakinya. Mantan kekasihnya saat SMA yang kembali dipacarinya sebulan yang lalu. Setelah berbulan-bulan berjuang sendiri untuk melupakan kumbang. Merasa kesepian tanpa seorangpun di sisinya. Dan Bennuh hadir menjanjikan sosok kekasih yang sempurna. Selau ada untuknya dan memberikan apapun yang dibutuhkannya. Cinta, perhatian dan banyak waktu. Bennuh yang dapat menerimanya apa adanya. Kecuali untuk satu hal. Aksi demonstrasi. Dan mawar menggadaikan itu dengan suka rela. Ada perasaan lega dalam hatinya saat mengingat betapa beruntungnya dia memiliki Bennuh. Mawar tesenyum sambil mengetik balasan untuk pesan dari laki-lakinya itu.
To: bennnuh
Yg bgian mna?
Semuanya?
Pesan terkirim. Satu menit kemudian ponselnya kembali bergetar.
From: Bennuh
Akar.
Jari-jari mawar dengan lincah menari diatas keypad ponselnya.
To: Bennuh
Kan udh bc?
Buat apa?
Mawar sengaja bertanya tentang tujuan Bennuh meminjam buku itu karena jika tidak penting dia tidak akan meminjamkannya. Bukan apa-apa. Buku itu sudah di simpan di dalam kardus. Karena dianggap sudah out of date dan mawar sudah membacanya berkali kali. Sayang sekali jika harus membongkar-bongkar kardus untuk sesuatu yang tidak penting. Ponsel mawar bergetar.
From: Bennuh
Tgs kul.
Mawar Mengetik lagi.
To: Bennuh
Bsk aj. Sklian mmpir k t4 km. OK?
Bergetar
From: Bennuh
OK. Thnks. J
Kirim-terima pesan berakhir. Mawar tidak membalas pesan terakhir Bennuh lagi. Mawar memang bukan tipe orang yang suka berlama-lama ngobrol apalagi lewat pesan singkat. Jika menurutnya percakapan penting sudah selesai maka dia akan berhenti membalas pesan. Mawar tidak ingin berbasa-basi sekalipun itu dengan pacarnya sendiri. Aneh? Memang aneh dan bukan hanya itu kenehan mawar.
Orator yang dipersilahkan oleh kumbang maju ke depan dan menyampaikan orasinya. Semua orang mendengarkan dengan antusias. Penuh semangat, orator itu melayang-layangkan tinju kirinya ke udara, sebuah symbol perlaawanan. Kumbang merasa senang dan bangga. Sebagai seorang jendral lapangan, kumbang sudah berhasil membawa aksi ini mejadi hidup dan penuh semangat. Menyusun stategi bersama para petinggi-petinggi lembaga kemahasiswaan sehari sebelumnya dalam konsolidasi. Dan hari ini adalah hasilnya. Ratusan mahasiswa dengan jaket almamater orange memenuhi halaman rektorat unuversitas mereka.
Kumbang melayangkan pandangannya menyapu kerumunan mahasiswa yang ada di sana ketika pandangannya tertarik pada seorang perempuan berbaju merah tanpa almamater sedang menatapnya. Sayang sekali hampir seluruh wajah perempuan itu ditutupi oleh selendang - sehingga yang terlihat hanya matanya- berwarna sama dengan bajunya, merah.
Kumbang masih memperhatikan perempuan itu bahkan setelah perempuan itu mengalihkan pandangannya kepada mahasiswa yang sedang menyampaikan orasinya. Kumbang menatapnya lekat-lekat namun pandangannya lalu terhalang oleh seorang lali-laki yang menerobos kedepan dan berdiri di depan perempuan itu. Menghalangi pandangan kumbang padanya.
Apakah itu kamu Mawar? Benar-benar kamu? Pertanyaan itu menggema berulang-ulang dalam kepala kumbang.
Aksi yang sudah berjalan selama satu jam itu akhirnya mendapatkan kemajuan, birokrasi kampus –rektor dan pembantu rektor 3 bidang kemahasiswaan bersedia untuk ditemui dan memberikan penjelasan terhadap pertanyaan dan memberikan tanggapan terhadap tuntutan aksi kali ini. Sementara itu kumbang sudah kehilangan jejak perempuan berselendang merah itu. Tubuh perempuan itu mungkin telah tenggelam dalam lautan manusia di halaman rektorat.
Massa aksi memasuki sebuah auditorium berkapasitas 350 orang, sedangkan jumlah massa aksi jauh lebih banyak sehingga sebagian besar dari mereka harus menunggu di luar. Kumbang memilih untuk duduk di bagian belakang- di dekat pintu masuk- berharap dapat mencari sosok perempuan berselendang merah itu dan melihatnya dari dekat. Kumbang lupa, sebagai seorang jendral lapangan yang memiliki peran penting dalam aksi ini dia harus berada di barisan depan. Seseorang datang dan memintanya maju kedepan-duduk bersama para petinggi lembaga kemahasiswaan- berhadapan langsung dengan birokrasi kampus yang sedang mereka tuntut. Kumbang maju kedepan, melupakan pencariannya terhadap perempuan berselendang merah yang justru masuk kedalam ruang auditorium satu menit setelah kumbang maju kedepan dan duduk tepat di samping kursi yang tadi di pilih kumbang. Seharusnya mekera sudah duduk berdampingan sekarang. Seandainya takdir berbaik hati.
Dialog itu berjalan dengan lancar, meskipun pada akhirnya birokrasi kampus haanya menberikan sebuah janji. Janji bahwa mereka akan mempertimbangkan saran dari anak-anaknya(baca: mahasiswa).
“Kami harap ayahanda rektor dan pembantunya(baca: pembantu rector 3), semoga bukan hanya berjanji dan tidak pernah ada realisasinya. Semoga apa yang baru saja ayahanda sampaikan kepada kami adalah sebuah niat dan pelaksanaannya akan segera menyusul.” Perwakilan dari fakultas seni dan desain angkat bicara -seorang mahasiswa kurus dengan rambut ikal sebahu yang dibiarkan terurai- dan di sambut dengan teriakan mahasiswa lainnya
“Beetul, betuuul!” suara itu menggema memenuhi seluruh ruang auditorium.
“Tenang, tenang nanda, kami akan rapatkan kembali hal ini dan kami bawa dalam rapat yang lebih tinggi.” suara berat dari sang rektor menggema-karena pengeras suara- mengalahkan suara para mahasiswa “Ini adalah tugas kita semua untuk membuat kampus almamater kita tercinta, universitas kita tercinta menjadi lebih baik lagi.” rektor melanjutkan petuahnya dengan nada suara yang tenang. Sangat diplomatis dan seolah-olah tidak ada amarah di dalamnya. Hatinya? Siapa yang tahu….
Akhirnya dialog itu selesai, juga rangkaian aksi lainnya. Namun kumbang bahkan tidak melihat perempuan selendang merah itu pada saat evaluasi aksi di sekretariat BEM universitas. Sebagian besar mahasiswa memang langsung pulang ke kampus masing-masing setelah aksi bubar. Yang ikut dalam evaluasi aksi adalah mereka yang juga hadir pada saat konsolidasi. Mereka adalah perwakilan dari fakultas masing-masing. Perempuan selendang merah itu memang tidak hadir saat konsolidasi aksi, jadi wajar ketika dia tidak di utus oleh fakultasnya untuk ikut dalam evaluasi aksi. Kumbang memahami itu. Meskipun dalam hatinya dia masih menyimpan harapan bahwa perempuan itu adalah mawar. Bunga revolusi, bunga mawarnya yang angkuh.
“Semesta telah memberiku hadiah yang indah di aksi pertamaku setelah satu tahun di sekap oleh sari, jika itu memang benar-benar kamu. Kita akan bertemu lagi diaksi selanjutnya.” Kumbang tersenyum, didiliputi rasa bahagia. Banyak rindu yang terobati hari itu. Rindu pada bunyi sirine megaphone, orasi, dan massa aksi yang sama bersemangatnya dengan dirinya. Dengan penuh rasa semangat kumbang melangkah meninggalkan sekretariat BEM universitas dan pulang ke kampusnya sendiri, kesekretariat BEM fakultasnya, tempatnya merasa bebas dari tekanan Sari dan bebas menjadi dirinya sendiri, yang mencintai lembaganya dan mencintai bunga revolusinya. Kumbang bahkan tidak tahu takdir sedang mengasah pisaunya.
***
Mawar tidak pernah menyangka bahwa pilihannya mengikuti aksi hari ini akan membawa dampak yang sangat besar pada dirinya. Sebuah kenangan yang telah dia simpan dengan rapi selama hampir setahun dan tidak pernah ada niat baginya untuk mengusik kembali lipatan rapi itu. Sekarang, semua kenangan itu serta merta berhamburan memenuhi fikirannya. Ingatan-ingatan tentang masa lalu. Ingatan tentang bagaimana kerasnya dia berjuang untuk tidak pernah mengungkit atau mengingat sedikit saja tentang kenangan itu. kini, semunaya muncul ke permukaan begitu segar, begitu nyata dan begitu menyakitkan.
Mawar masih belum percaya. Orang yang dipandanginya itu. Orang yang menatap kedalam matanya itu. Orang yang berdiri tidak lebih dari 10 meter darinya itu, jendral lapangan itu. Jendral lapangan yang memimpin aksi pertamanya sejak hari terakhir mawar mengikuti aksi hari anti korupsi setahun yang lalu. Orang itu adalah orang yang pernah begitu dirindukannya sehingga hampir menjadi gila. Laki-laki itu adalah kumbang. Wajah itu, baru dua kali dia lihat. -Sekali tanpa sengaja Dan sekali dengan sengaja dengan konsekuensi yang mereka berdua telah perhitungkan- namun telah berhasil membuatnya mengingatnya hingga kebagian paling detailnya. Tentang tiga kerutan di ujung maranya saat dia teertawa. Tentang barisan gigi-giginya yang berjejer rapi tapi tampak kunig karena kebanyakan mengisap rokok. Dan tentang matanya yang selalu menatap dengan tajam. Persis seperti caranya menatap siang tadi saat dia menghujamkan pandangannya kedalam pandangan mawar yang membuatnya terpaksa membuang pandangan ke arah lain.
Benarkah takdir ingin mempetemukan mereka lagi? Ataukah ini hanya sebuah lelucon? Mawar mengharapkan jawaban ya pada pertanyaan pertama dan jawaban tidak pada pertanyaan kedua yang muncul dalam benaknya saat itu. Jika benar jawaban ya berlaku untuk pertanyaan pertama, lalu kenapa mawar tidak berani menemuinya dan malah bersembunyi dibalik selendang merah itu? Bukankah dulu dia begitu ingin menemuinya? Bukankah mawar telah menunggu untuk mendapatkan sebuah penjelasan? Ataukah semua itu hanya persoalan dulu? Dan sekarang mawar tidak lagi menggarapkannya? begitu juga laki-laki itu! Karena dia juga sama, tidak menemuinya. Mawar hanya bisa menjawab pertanyaan yang terakhir dengan ragu-ragu.
Ya, aku tidak lagi menginginkannya. Fikiran mawar memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hatinya. Hati manusia memang selalu dipenuhi oleh pertanyaan. Karena hati manusia tidak pernah bisa menimbang. Hati hanya bisa merasakan lalu bertanya. Dan fikiranlah yang berhak memberikan jawaban setelah melakukan banyak pertimbangan.karena pertimbangan-pertimbangan itulah hati biasanya mendapatkan jawaban yang menyesatkan dari fikiran kita. Kadang-kadang pertanyaan dari hati tidak boleh dianggap sebagai pertanyaan tapi pernyataan, agar fikiran tidak terlalu banyak menjadi pemberi keputusan..
Sekarang sudah ada seseorang di sisinya -begitu keputusan yang diberikan oleh fikiran mawar- dan Mawar tidak mungkin menginginkan laki-laki lain lagi.termasuk kumbang. Ibnu mundzir -yang mendapat panggilan sayang Bennuh, dari mawar- adalah pacarnya. Satu-satunya laki-laki yang telah dia pilih untuk mendampinginya. Dan mawar tidak pernah main-main dengan keputusan besar yang telah dia ambil karena telah banyak pertimbangan sebelum itu. Bennnuh adalah masa depannya dan kumbang akan selamanya menjadi kenangan.
Berjam-jam mawar mempengaruhi fikirannya tentang melupakan kumbang. Namun hatinya justru sedang ingin memberikan sedikit tempat pada laki-laki itu. Mawar mengutuki dirinya sendiri.kenapa harus ikut aksi lagi? Bukankah dia sudah berjanji pada Bennuh? Terlebih lagi janji pada dirinya sendiri untuk menghindari tempat-tempat yang mungkin aka ada kumbang di sana. Tapi kenapa siang itu dia ada di sana? Apakah takdir sedang melakukan sebuah permainan yang akan melibatkannya lagi? Takdir bahkan tidak pernah bertanggung jawab dengan luka yang dialaminya. Lalu untuk apa dia mengikuti permainan ini? Takdir telah membawa kumbang pergi darinya tanpa sebuah penjelasan. Takdir telah membuatnya bersusah payah melupakan kumbang dan akhirnya hampir berhasil. Sekarang,takdir seenaknya membawa kembali laki-laki itu ke hadapannya. Benar-benar sebuah permainan yang membuatnya muak.
ARGHHH
***
Ponsel yang begetar di saku celananya berhasil membuyarkan lamunan mawar dan kebenciannya pada takdir. Mawar mengambil ponsel dari saku celananya dan memeriksa layarnya.Sebuah pesan singkat.
From: Bennuh
Syg. Bs pnjm supernova km? pntng nih!
Seulas senyum tersungging dari sudut bibir mawar. Dari Bennuh, laki-lakinya. Mantan kekasihnya saat SMA yang kembali dipacarinya sebulan yang lalu. Setelah berbulan-bulan berjuang sendiri untuk melupakan kumbang. Merasa kesepian tanpa seorangpun di sisinya. Dan Bennuh hadir menjanjikan sosok kekasih yang sempurna. Selau ada untuknya dan memberikan apapun yang dibutuhkannya. Cinta, perhatian dan banyak waktu. Bennuh yang dapat menerimanya apa adanya. Kecuali untuk satu hal. Aksi demonstrasi. Dan mawar menggadaikan itu dengan suka rela. Ada perasaan lega dalam hatinya saat mengingat betapa beruntungnya dia memiliki Bennuh. Mawar tesenyum sambil mengetik balasan untuk pesan dari laki-lakinya itu.
To: bennnuh
Yg bgian mna?
Semuanya?
Pesan terkirim. Satu menit kemudian ponselnya kembali bergetar.
From: Bennuh
Akar.
Jari-jari mawar dengan lincah menari diatas keypad ponselnya.
To: Bennuh
Kan udh bc?
Buat apa?
Mawar sengaja bertanya tentang tujuan Bennuh meminjam buku itu karena jika tidak penting dia tidak akan meminjamkannya. Bukan apa-apa. Buku itu sudah di simpan di dalam kardus. Karena dianggap sudah out of date dan mawar sudah membacanya berkali kali. Sayang sekali jika harus membongkar-bongkar kardus untuk sesuatu yang tidak penting. Ponsel mawar bergetar.
From: Bennuh
Tgs kul.
Mawar Mengetik lagi.
To: Bennuh
Bsk aj. Sklian mmpir k t4 km. OK?
Bergetar
From: Bennuh
OK. Thnks. J
Kirim-terima pesan berakhir. Mawar tidak membalas pesan terakhir Bennuh lagi. Mawar memang bukan tipe orang yang suka berlama-lama ngobrol apalagi lewat pesan singkat. Jika menurutnya percakapan penting sudah selesai maka dia akan berhenti membalas pesan. Mawar tidak ingin berbasa-basi sekalipun itu dengan pacarnya sendiri. Aneh? Memang aneh dan bukan hanya itu kenehan mawar.
