katanya, aku pantas untukmu

0

Kami
bertemu di atas sebuah kereta waktu, tepat pukul 01.00 dini hari waktu itu. Dia
tiba-tiba datang dan menjawab pertanyaan yang ku tudingkan kepada langit.  Dunia ini luas, namun jika pada akhirnya
dialah yang diutus semesta untuk menjawab pertanyaanku  dengan jawaban argumentatif, maka aku
membukakan sebagian pintu rahasia ini untuknya menjelajah ke dalam rekam jejak tentangmu.


“Tidak ada
perasaan yang bertepuk sebelah tangan, adik,” katanya. Tentu saja aku mengelak,
menceritakan kau yang membawa serta salju bulan Oktober dalam setiap tingkah
dan kalimatmu. Beku.


“Cobalah
untuk sedikit menghindar darinya, berikan dia kesempatan untuk merindukanmu dan
mencarimu, ” sarannya itu membuatku tersenyum kecut.  Dia mengajariku bermain layang-layang, tarik
ulur.  Dia tidak tahu, sudah sepekan ku
hapus kontak BBM mu dari daftar kontak di ponselku, dan mungkin kau tidak
menyadari itu. Apalagi akan merindukan dan mencariku?


“Saya
sedang berusaha menjauh dari dia kak, tidak baik seorang perempuan terlalu
kukuh menyukai seorang laki-laki,” kataku padanya dan dia hanya tertawa
mengejek. Katanya aku pantas memilikimu. Aku sangat pantas untukmu. Aku ikut
tersenyum. Tidak begitu jelas apa yang membuatku tersenyum. Semangat optimisnya
kah? Atau kalimatnya yang terlalu mengada-ada. Yang pasti, aku tidak percaya
dengan apa yang dikatakannya. Dan dia terus saja memaksaku percaya.






Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)