Ada dua hal yang berkecamuk dalam fikiranku begitu lampu bioskop dinyalakan dan aku melenggang keluar. Rianti dan kalimat terakhir dalam Credit Title film tersebut. Aku hanya datang sendiri, biasanya aku di temani Rianti, tapi mana mungkin? Yang baru ku tonton tadi adalah film perdana yang dia sutradarai dan berhasil masuk kedalam pasar major, bukan lagi pada tataran film-film indie seperti yang digelutinya selama ini, selama kami bersama. Pikiranku cepat melesat, mencari sosok Rianti dalam kenanganku.
“Aku ingin menjadi seorang sutradara yang menyampaikan protes lewat film, sesuatu yang lebih dihargai dan dinikmati oleh banyak orang.” Rianti berbicara dalam nada suara yang tenang namun sarat harapan dan optimisme yang kuat.
“Jadi menurutmu selama ini protes dan perlawanan yang kita lakukan adalah hal yang sia-sia.” Ada sedikit rasa kecewa yang kurasakan ketika mendengar kata-kata Rianti.
“Bukan itu maksudku Bam, aku tidak bilang aksi demonstasi itu sia-sia, tidak. Tapi kalau kita dapat menyampaikannya dengan cara yang lebih benar, maka tidak ada yang salah bukan? Kita harus tetap berinovasi” Rianti menyentuh bahuku, seperti biasa perempuan itu dapat menaklukkanku dengan sentuhannya. Aku mengangguk, entah tanda setuju atau sekadar malas berdebat dengannya.
***
“Wah filmnya bagus ya? Feelnya dapat banget.” Seorang pemuda yang berbicara dengan suara yang cukup keras membuyarkan lamunanku.
“Iya, katanya sih sutradaranya itu cewek loh?” Teman yang ada di sampingnya menimpali, seorang laki-laki, mungkin sekitar 22 atau 23 tahun, penampilannya seperti seorang mahasiswa.
Aku tersenyum dengan banyaknya pujian-pujian yang diterima oleh Rianti. Ri, seandainya kamu di sini, mengapit lenganku seperti biasa, mengomentari film yang baru saja kita tonton, seperti biasa. Batinku.
Sekarang aku berjalan ke arah pintu keluar bioskop, aku masih sempat melirik poster film Rianti. Merdeka? Aku membaca judul film itu dalam hati, sekali lagi lalu melangkah meninggalkan bioskop.
***
“Bam, apa aku akan menyelesaikan film ini?” tanya Rianti padaku secara mengejutkan begitu selesai melakikan take scene yang ke 12, dimana pemain utamanya sedang menuliskan sebuah puisi untuk disampaikan dalam sebuah aksi besar-besaran esok paginya.
“Loh, kok ngomong gitu Ri? Ini Film pertama kamu loh. Kamu harus semangat, mana Rianti yang selalu optimis? Yang optimisnya kadang-kadang sampai bikin aku jengkel juga” Aku mencubit hidungnya, berharap itu dapat memberinya suntikan semangat. Rianti memelukku, erat. Aku dapat merasakan detak jantungnya merasakannya merapatkan tubuh kedalam dadaku, seolah-olah ingin tenggelam di sana. Aku ingin menyatu dengannya.
“Kamu bakal nonton film inikan Bam?” Tiba-tiba Rianti melepaskan pelukannya. Dan menatapku.
“Iya ialah, aku pasti nonton, ini kan master piecenya Rianti, calon sutradara terkenal.” Jawabku sambil menepuk bahunya.
“Kalo gitu kamu gak boleh liat proses editingnya yah?” kata Rianti sambil tersenyum.
“Kenapa?” Aku protes, selama ini setiap film indie yang digarap Rianti, aku selalu ikut Prosesnya, dan selalu jadi penonton pertamanya.
“Kamu harus menonton film ini sebagai orang lain di bioskop, bukan sebagai orang yang dekat dengan sutradaranya.” Terang Rianti.
“Memangnya kenapa?” lagi-lagi aku protes, ini tidak Seperti Rianti yang ku kenal.
“Objektivitas apresiasi.” Rianti tersenyum, menatap kedalam mataku.
“Jadi menurut kamu, selama ini aku menilai, dan mengapresiasi Film kamu tidak Objektif?” sekarang aku benar-benar tersinggung. Rianti tidak menjawab, dia hanya mengedipkan sebelah matanya padaku. Manis sekali.
***
Aku sudah berada di pintu keluar mall, berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motorku untuk memacunya ketempat selanjutnya.
Aku memang tinggal di sebuah kota yang cukup besar, di kota ini ada sekitar 6 Mall, dan ini adalah Mall ke 5 yang kudatangi hari ini, karena hari ini adalah hari yang special. Aku ingin menghabiskan hariku dengan menonton film. Film yang sama.
“Mau nonton apa mas?” Perempuan cantik berseragam itu menyapaku dengan lembut.
“Merdeka?” jawabku, sengaja menberikan penekanan pada nada suara bertanyaku.
“Untuk berapa orang mas” tanyanya lagi
“Dua” jawabku singkat
“Duduknya mas?” tanyanya lagi-lagi dengan suara yang sangat lembut
“ Di sini mbak.” Kataku sambil menunjuk dua buah kursi di barisan kedua dari atas.
Perempuan itu mengarahkan kursor mousenya, kemudian aku mendengar suara Catrickmenggosok kertas, beberapa detik kemudian perempuan cantik barnama Maya –kubaca dari name tagnya- itu memberiku dua buah tiket. Aku tersenyum lalu berjalan menuju Studio film itu akan di putar.
***
Aku duduk di kursi empuk bioskop yang berwarna merah maroon , sengaja mengosongkan kursi di sampingku, untuk Rianti.
Film di Mulai.
Ini sudah ke empat kalinya aku melihat Film ini di Hari perdananya diputar di kotaku. Aku nyaris hafal setiap adegan-adegan dalam film ini. Sebuah adegan dimana seorang mahasiswa berkacamata dengan rambut sebahu sedang membacakan puisi di hadapan ratusan massa aksi membuatku bergetar, acting aktor itu sangat bagus, begitu menjiwai. Tapi ada satu hal yang lebih sarat makna, melampaui apapun, sebuah kenangan lagi.
“Itu kamu Bam!” kata Rianti sambil menunjuk salah satu aktor yang sedang take gambar.
“Loh? Kok aku?” kataku sambil memicingkan mata kearahnya
“kamu masih gak ngeh juga yah?” Rianti memegang rambut gondrong kucelku lalu merebut kacamataku.
“Aku gak bisa liat” protesku
“Hahahahaha” Rianti tertawa renyah lalu mengembalikan kacamataku ke tempat semestinya.
“Ri?” aku memanggil namanya.
“Ya?” Rianti menoleh padaku, aku menangkap pandangannya dengan pandanganku. Dia berhwnti tertawa.
“Kamu mau gak jadi pacarku?” aku menyampaikan kalimat itu dengan susah payah, aku memang sering menulis puisi, tapi bukan merangkai kata-kata cinta. Aku bukan orang yang romantis.
“Hahaha. Ada-ada aja kamu. Hahaha. ” tawa Rianti kembali pecah, kali ini sangat keras, sampai dia mengeluarkan air mata, tubuh kecilnya bergetar karena tawanya yang hebat.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanyaku heran bercampur jengkel dengan responnya. Rianti hanya menggeleng sambil terus tertawa memegangi perutnya. Aku sama sekali tidak menemukan unsur lucu dalam kalimatku yang dapat membuat Rianti tertawa sehoboh itu.
“Ri” aku memegang kedua bahunya cukup keras, memaksanya untuk berhenti tertawa.
“Ada banyak hal lebih berguna untuk kita lakukan dari pada sekadar pacaran Bam. Seperti film ini, puisi-pisi kamu yang udah siap terbit, pengawalan kita terhadap kasis-kasus ketidak adilan bagi mereka yang tersisihkan. Dan masih banyak lagi.” Lagi-lagi rianti memberikan jawaban yang sangat mengejutkan.
“Apologi!” aku meberikan penekanan pada kata itu. “kita masih bisa melakukan semua itu meskipun status kita berpacaran kan? Kalau kamu emang gak suka sama aku, ngomong aja langsung, gak usah pake alasan, sok jaim tahu?” kataku dengan sedikit nada membentak di ujung kalimatku
“kalau kamu menginginkan itu...” Rianti berhenti sejenak tapi aku tahu kalimat itu belum selesai. “akan ku katakan, aku emang gak suka sama kamu, dan aku emang gak mau pacaran sama kamu. Film ku jauh lebih penting untuk kupikirkan.” Rianti menyelesaikan kalimatnya.
Dengan perasaan kesal, aku meninggalkan Rianti tanpa kata. Rianti juga sama sekali tidak mencegahku pergi.
***
Sudah hampir seminggu aku tidak menemui dan menghubungi Rianti baik itu lewat telepon ataupun pesan singkat. Aku sudah tidak marah padanya, aku hanya sedikit kecewa dan sangat sibuk mengurisi launching Antologi puisi perdanaku. Aku mengirimkan undangan resmi untuk Rianti ke rumah produksinya. Namun Rianti tidak juga datang.
Apakah dia begitu marah padaku sampai-sampai dia membatalkan janjinya untuk duduk di barisan kursi paling depan saat launching Antologi puisiku ini berlangsung? Pikirku. Namun sampai akhir acara, jangankan mengisi kursi paling depan, dia bahkan tidak menampakkan batang hidungnya.
Didesak oleh rasa penasaran dan kecewa yang besar, begitu acara launching selesai, aku menelpon ke rumah produksinya. Tidak ada yang mengangkat telponku. Mungkin semua kru sedang keluar untuk shooting. Aku menelpon ponselnya, tidak juga diangkat. Aku memutuskan untuk menelpon Mira, astrada Rianti.
“Hallo, mas Bam?” sapa seorang perempuan dari seberang telpon
“Hallo Mir, kamu lagi sama Rianti gak?” aku bertanya straight to the point pada Mira
“Ia mas Bam, ini aku lagi nemenin mbak Rianti di rumah sakit Cipta.” Mira menjawab pertanyaanku dengan tenang.
“Rumah sakit? Siapa yang sakit Mir?” tanyaku, kaget
“Loh? Mas Bam gak tahu..” Mira memberikan jawaban yang tidak jelas “Eh, mas Bam?, mbak Rianti mau ngomong” lanjut Mira
“Hallo Bam” sebuah suara yang terdengar lemas menyapaku
“Hallo Ri? Itu kamu?”
"Iya Bam, ini aku, maaf ya, aku gak bisa datang launching puisi kamu, aku lagi gak sehat” Rianti berbicara sambil terbata-bata. Butuh waktu lama untuknya menyelesaikan kalimat itu.
“Iya, gak papa, yang penting kamu sehat dulu” jawabku
“Kamu, jadi make’ judul yang aku kasih?” tanyany Rianti masih dengan terbata-bata.
“Maaf Ri, aku gak jadi make’ Cinta untuk Bangsa sebagai judul” kataku.
“Trus apa dong Bam?” tanyanya.
“Untuk Ri dan Bangsaku” jawabku.
“Loh kok?” Rianti Tampak tidak setuju dengan judul yang ku pilih
“Kenapa?” protesku
“Terlalu subjektif” jawabnya singkat
“memang semua isinya cuma pandangan subjektif aku kok. Ah sudah lah, bagaimanapun judul itu sudah tercetak di sampul buku.” Aku baru saja ingin mendebat Rianti namun seketika sadar bahwa dia sedang sakit. “Tunggu aku, aku mau jengukin kamu di rukah sakit.” Tanpa menunggu jawaban dari Rianti aku mematikan telpon, mengambil sati buah kumpulan cerpen itu dan bergegas menuju rumah sakit.
***
“Sakit apa kamu? Kok gak ngabarin?” Kataku begitu tiba di dalam kamar tempat Rianti di rawat. Aku mengelus-elus punggung tangannya yang tertancap jarum infus.
“Kecapean, aku dan anak-anak ngebut Shooting, anak-anak pada sehat-sehat aja, malah aku yang tumbang, Sh*t.” Kata riani seperti sedang memaki dirinya sendiri. Aku melihat seulas senyum prihatin dari Mira yang duduk di kursi. Mira juga tampak kelelahan.
“Mir, kamu pulang aja dulu, istirahat, biar Mbak rianti kamu, aku yang jagain, Hari ini, waktuku Cuma buat dia.” Kataku sambil tersenyum. Tanpa berkata apa-apa, Mira meninggalkan kami berdua di ruangan itu.
Aku mengeluarkan buku antologi cerpen “Untuk Ri dan Bangsaku”. “Buat kamu.” Aku menyodorkannya pada Rianti, dia mengambilnnya dengan tangan kirinya yang tidak tertancap jarum infus.
“Untuk Ri dan Bangsaku karya Abraham ‘Bam’ Mapparenta ” Rianti membaca sampul buku itu sambil tersenyum. Aku tetawa melihat perempuan sakit yang tampak lemah itu tiba-tiba nampak bersemgat membaca sampul buku itu seolah olah akan membacakan salah satu puisi didalamnya.
Rianti membuka salah satu halaman secara acak. “Bam, bacakan satu untukku” katanya tiba-tiba. Aku gelalapan. Lalu menggeleng.
“ayolah Bam, setelah itu ku ceritakan perkembangan Filmlu” Rianti merengek, suarah lemahnya karena sakit membuat iba. Aku merasa di pelonco. Aku mengambil buku itu dengan lembut dari tangannya. Membuka-buka halaman buku itu. Mencari sebuah judul.
RI
“Ri... coba jelaskan padaku tentang ketidakadilan yang sedang melilit leher bangsa kita
Dapatkah kau dengar jerit takut mereka yang digusur, Ri?
Dapatkah kau mencium bau pesing, pipis bocah kotor yang digertak pentungan Satpol PP?
Katakan padaku Ri!
Sudah berapa banyak lensamu merekam duka yang menetes dari mata hati mereka yang tersisih?
Ceritakan padaku Ri!
Sudah berapa banyak gambar pilu dan luka menganga dari dada-dada telanjang para pemulung yang tak sanggup beli baju itu kau potret Ri?
Ayolah Ri... berceritalah lewat gambarmu
Beri tahu mereka, tentang apa yang kau lihat sambil meneteskan air mata di sudut kota kita.
Jangan takut Ri, kau ada di jalan yang tepat.
Jangan gentar Ri, Tanganku siap Terkepal bersamamu. “
Selesai membacakan puisi itu, aku melihat Rianti menyeka air matanya. Lalu tersenyum menatapku.
“Kamu hebat Bam, kamu akan jadi saastrawan hebat” katanya
“Kita akan sama-sama menjadi hebat Ri, kamu juga akan jadi sutradara yang hebat” kataku sambil mengelus pipinya. Aku merasakan sebuah cairan hangat menyentuh kulit tanganku. Air mata.
“Bagaimana Film kamu? Katanya ngebut shooting?” tanyaku
“Sekarang sudah masuk tahap editing”, 2 minggu lagi mudah-mudahan sudah bisa launching.
“Kamu hebat Ri, akhirnya selesai juga kan?” kataku mantap
“Belum rampung” Rianti meralat pwrnyataanku.
“Iya deh ibu sutradara.” Kataku menggodanya
“Mudah-mudahan aku juga bisa ikut nonton” katanya lemah.
“Masih ada waktu 2 minggu, kamu pasti sembuh” aku menepuk-nepuk pundaknya pelan, takut menyakiti tubuhnya yang tampak semakin kurus.
“Semoga.” Katannya datar “aku capek Bam, aku mau tidur dulu yah?” lanjutnya sambil menutup mata. Aku membelai rambutnya. Berusaha mengantarnya menuju tidur yang lelap.
***
Aku terbangun dari lamunanku dan menyadari diriku masih ada di dalam bioskop yang gelap, film ini sudah hampir selesai. Maka aku berkonsentrasi unntuk melihat Credit titlenya dan sebuah kalimat janggal pada scene terakhir film itu.
“Untuk Bam... semoga kamu memaafkanku” tulisan itu berwarna putih, kontras dengan layar hitam yang membungkusnya. Lagi, aku berfikir. Salah apa?
***
Kepalaku pusing, mungkin karena terlalu banyak menatap layar besar bioskop. Akhirnya aku tidak melanjutkan perjalananku menuju Mall yang terakhir, aku memutuskan untuk pulang ke rumah untuk beristirahat.
Setibanya di rumah Ibuku memberikan sebuah paket, katanya dibawa oleh dua orang tadi siang.
“kalo ibu gak salah ingat namanya, Bobbi dan Mira, cewek, cowok, berantakan kayak kamu.” Kata ibu.
Aku menerima paket yang terbungkus oleh paper bag berwarna coklat itu dan membawanya kedalam kamarku. Aku membukanya dengan hati-hati, ada 2 album foto di dalam paper bag itu. Satu buah album besar berisi Foto-foto yang kebanyakan hitam putih, gambar para pemulung, gelandangan, pengamen dan mereka semuah yang Rianti sebut kaum tersisih. Pada halaman terakhir, sebuah kertas termpel di sana. Tetap perjuangkan mereka Bam! . Album yang lebih kecil itu dengan sampul berwarna biru Langit, di depannya terdapat tulisan MY INSPIRATION dengan tangan gemetar aku mebukanya. Aku terbelalak menemukan gambar diriku sedang berorasi ad di halaman paling awal album foto itu, kemudian pada halaman-halaman selanjutnya aku menyadari satu hal, hanya ada satu orang yang gambarnya terdapat dalam album itu. Aku.
Selain kedua album foto ‘mengejutkan’ itu, masih ada sebuah kepingan DVD di dalam paper bag itu, hanya ada satu kalimat di kepingan DVD itu, untuk Bam. Tanpa menunggu lama, aku menyalakan leptop ku dan memasukkan kaset DVD itu kedalam CD roomnya. Ternyata dugaanku benar. Kaset itu ternya berisi film Merdeka? Yang sudah ku tonton 5 kali hari ini. Ku putuskan untuk memutar film itu langsung kebagian akhir. Dan lagi-lagi firasatku benar, ada misteri yang tersimpan dalam pesan pendek di belakang Credit tittle film yang ku tonton di bioskop. Penggalannya ada pada kaset ini, dan aku yakin kaset ini adalah satu-satunya yang berisi penggalan kalimat-kalimat itu.
Untuk Bam, kekasih jiwaku. Maafkan aku karena tidak menerimamu menjadi pacarku, aku memang tidak menyukaimu Bam, aku mencintaimu. Aku tidak ingin menjadi pacarmu, karena aku tahu waktuku tidak cukup banyak Bam.maka biarkan aku mencintaimu tanpa meminta tempat di hati dan kehidupanmu. Semoga kamu memaafkanku.
Membaca kalimat itu, pertahananku runtuh, untuk pertama kalinya, seorang Bam, Abraham mapparenta, meneteskan air mata untuk seorang perempuan dan kamu memang pantas Ri.
***
“Kamu sudah bangun Ri? Gimana tidurnya? Nyenyak?” tanyaku begitu Rianti membuka matanya. Dia mengangguk lemah tapi tetap tersenyum. Matanya sayu.
“Mira sudah datang, aku mau pulang dulu, besok aku datang lagi. Okey?” aku mengelus pipinya. Dia memejamkan mata. Kuberanikan diriku mengecup keningnya sebelum berlalu dan melihat Mira menyeka air mata.
Begitu tiba di rumah, ponselku berdering. Dari Mira.
“Mas Bam, mbak Rianti kritis” katanya panik
Tanpa menunggu waktu, aku memacu motorku, membayangkan wajah Rianti yang sedang kesakitan. Aku tidak peduli lagi dengan keadaan aku memacu motorku. Tiba-tiba gelap.
“Mas Bam, kok bisa begini sih?” Mira sudah ada di depanku, matanya sembab karena menagis.
“ada apa Mir?”
“Mas Bam tabrakan di depan rumah sakit” jawabnya
“Maksudku Rianti, ada apa dengan dia?” tanyaku panik
“Mbak Rianti ternyata tidak pernah cerita pada Mas Bam, Dia sakit mas Parah”
“Maksud kamu?” aku limbung entah karena luka di kepalaku atau karena informasi dari Mira.
“Kanker pembulu darah mas” Mira kembali menangis
“Sekarang dia dimana?” aku berusaha bangun dari tempat tidur tapi tidak bisa.
“Sabar mas, Mbak Rianti udah gak ada, orang tuanya sudah menuju kemari” kata-kata Mira seperti sebuah martil besar yang dihantamkan tepat di kepalaku. Bibirku keluh, kepalaku yang berdarah terasa sakit. Dadaku sesak. Atau entah apa namanya. Aku kehilangan suaraku. Aku kehilangan tenagaku. Aku kehilang Ri.
***
Akhir-akhir ini ku dengar film Rianti semakin banyak diperbincangkan oleh para budayawan, kritikus film dan para elite birokrat.
“Film itu begitu polos dan jujur, penuh semangat dan optomisme yang tinggi.” Kata salah seorang budayawan ketika diminta untuk mengomentari film besutan Rianti tersebut dalam sebuah talkshow. Aku tersenyum
“Kamu berhasil Ri, kamu berhasil!” Berkali-kali ku bisikkan kalimat itu pada diriku sendiri dan Rianti yang telah bersatu dengan Irrasionalitas
