Untuk hari pendidikan dan mereka yang sedang dididik

0

“Semua orang tahu betapa bobroknya sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan kita tidak bersahabat dengan potensi-potensi kreatif mahasiswa. Sebab kreatif artinya keluar dari pola umum. Dan ketika itu terjadi, tapi tidak terakomodir, maka satu-satunya ruang yang tersisa adalah PEMBERONTAKAN” Novel Sabda Dari Persemayaman.

Sebuah kondisi realitas yang begitu jauh terpuruk dari keadaan ideal yang kita inginkan telah terjadi di dalam kampus yang merupakan miniatur kehidupan, pencetak generasi-generssi penerus bangsa. Sebuah pemandangan yang telah dianggap biasa ketika lingkungan kampus terlihat sepi dan terasa tidak hidup, lapak-lapak diskusi menjadi suatu pemandangan langka atau bahkan mustahil terjadi di dalam kampus tercinta kita ini. Pertanyaannya adalah mengapa?

Merunut kembali kejadian 2 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 5 september 2011, terjadi pemecatan massal terhadap 19 mahasiswa Fakultas Bahasa Dan Sastra. Penyebabnya? Sampai sekarang belum ada yang dapat menjelaskan secara pasti. Tindakan indisipliner yang kemudian tidak di jabarkan secara rinci oleh pihak universitas dan sepertinya akan selamanya menjadi dosa rahasia para pelaku kejahatan terkooadinir ini akan selamanya menjadi alasan sekaligus momok menakutkan bagi para “koboi kampus” yang tersisa. Bukan hanya itu, pembekuan 24 lembaga kemahasiswa yang sedang berkibar di FBS pada saat itu ikut memperparah matinya ruang-ruang kreatifitas mahasiswa termasuk ruang-ruang diskusi yang biasanya berjamur di FBS mulai dari kajian ilmu kekiri-kirian sampai yang bersifat religius.

Besar kemungkinan bahwa hal inilah yang menjadi penyebab matinya keadaan intelektual di dalam kampus. Akan tetapi ternyata ada sesuatu yang jauh lebih bobrok di balik matinya keaadaan intektual di kampus FBS, ancaman personal yang ditujukan langsung kepada mereka yang tersisa, para pelaku sejarah yang lolos dari tragedi pemecatan massal ternyata menjadi korban kekerasan akademik secara terselubung. Salah seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku merasa ketakutan dan kehilangan nyali setalah di panggil face to face di ruangan pembantu dekan III bidang kemahasiswaan dan diberikan ancaman tentang Drop Out susulan yang akan segera dilayangkan jika terbukti masih ikut aktif dalam kegiatan demonstrasi di luar atau di dalam lingkungan kampus Bahasa dan Sastra. Pertanyaan selanjutnya, apakah ini adalah tindakan seorang pengayom mahasiswa? Orang yang telah diangkat oleh sistem menjadi ayah pengganti dari mahasiswa-mahasiswa FBS? Kebanyakan dari kita mungkin akan bingung, ada juga yang menggelengkan kepala, atau mungkin ada yang menganggukkan kepalanya. Kita semua bebas menjawab sendiri pertanyaan ini atau mungkin meminta pendapat orang lain.

Tuhan telah menyublim dalam diri kita semua, kita memiliki “perangkat kesadaran tuhan” yang membuat kita sebenarnya mampu untuk mengubah keadaan. Oleh sebab itutuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mau mengubahnya sendiri. Makanya belajar! Biar kita tidak dibodohi dan di tindas orang lain.


Semoga bermamfaat, panjang umur intelektualitas mahasiswa!!!


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)