Telaah Sederhana tentang Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Hubungan Percintaan

0







Setelah
membaca tulisan
ini (http://www.profesi-unm.com/2014/12/perempuan-dalam-relasi-percintaan.html)
milik Suriadi Ketua Umum eLTIM saya merasa ingin sediki berkomentar.  Tulisan Adi menurut saya sangat inspiratif,. Sayangnya
Adi hanya memandang fenomena kekerasan dalam hubungan hanya terjadi pada
perempuan saja. Padahal bagi saya, Laki-laki maupun perempuan sama berpotensi.
Makanya saya tergelitik untuk menulis sebuah telaah sederhana mengenai relasi
antara perempuan dan laki-laki dalam hubungan percintaan seperti yang Adi
maksud dalam tulisannya. 





Kekerasan
Tidak Memandang Kelamin



*Menanggapi tulisan Suriadi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ketua
Umum eLTIM FBS UNM, Perempuan dalam Relasi Percintaan .



Kasus kekerasan terhadap pasangan dalam sebuah hubungan (pacaran dan
pernikahan) terus meningkat.  Saat hendak menyusun tulisan ini menjadi
lebih ilmiah saya mencoba mencari referensi mengenai kasus kekerasan dalam
hubungan (yang katanya) percintaan. Miris, yang saya temui kebanyakan adalah
kasus kekerasan terhadap perempuan.

Maka sampai di situ saya setuju dengan pernyataan Adi dalam tulisannya yang
menunjukan betapa perempuan telah menjadi korban kekerasan dalam sebuah
hubungan.



Namun data yang saya temukan mengenai kasus kekerasan terhadap laki-laki dalam
sebuah hubungan (yang juga) menunjukkan angka fantastik membuat saya
melanjutkan tulisan ini.



Sebuah situs berita (http://mediabanten.com/content/kekerasan-pada-laki-laki-capai-1300-kasus)
membuat saya tercengang. Data tersebut pada dasarnya tidak begitu update namun
setidaknya dapat menjadi gambaran. Pada tahun 2010 lalu Pusat Pelayanan Terpadu
Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merilis data yang menyebutkan bahwa
sepanjang tahun ada 1.300 kasus kekerasan terhadap laki-laki yang terjadi. Jika
dibandingkan jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah kasus
kekerasa terhadap perempuan yang mencapai 152.900 ribu. Yang membuat saya
pesimis adalah kondisi psikologis seorang laki-laki (yang secara sadar atau
tidak) sengaja dikonstruksi menjadi orang yang tidak mudah mengeluh dan
cenderung menyembunyikan aib. Melihat realitas tersebut, secara logika jumlah
kasus bisa jadi jauh lebih banyak apabila laki-laki bisa sedikit lebih terbuka.



Artinya, kekerasan dalam sebuah hubungan, pada dasarnya tidak dipicu oleh jenis
kelamin pelaku dan korban. Kekerasan terjadi terhadap mereka yang tidak bisa
mengendalikan logika dan perasaan yang sedang menjerat. Awalnya, sebuah
hubungan selalu berjalan dengan lancar. Diawali dengan komitmen-komitmen manis
yang (pasti) disepakati keduanya. Seterusnya, secara alami akan ada pihak yang
menjadi bergantung (jika terjadi pada keduanya akan lebih mudah). Seperti
halnya sebuah obat penenang atau obat lelap yang bakal meningkat dosisnya saat
terus digunakan. Intensitas pertemuan  juga terus meminta untuk
ditingkatkan seiring dengan bertambahnya rentang waktu yang dilalui. Puncak
dari segalanya adalah rasa bosan dan jenuh. Pada titik ini, perempuan akan
semakin terasa mengekang dan laki-laki akan terasa semakin menjauh. Dalam kasus
ini tidak ada yang bisa disalahkan. Dari pengamatan saya, semuanya adalah
siklus.



Dalam kurun waktu yang dijalani bersama, satu persatu karakter pasangan bakal
terungkap dengan sendirinya. Ada yang kemudian merasa beruntung, namun tak
jarang ada juga yang merasa menyesal dengan karakter-karater
pasangannya.Awalnya, yang pertama merasakan hal ini biasanya laki-laki. Seorang
perempuan yang dulu dia kenal sebagai pacar yang baik, sederhana dan tidak
neko-neko berubah menjadi seorang nenek sihir yang selalu bertanya lagi dimana?
sama siapa? kok gak ada kabar?. Kondisi seperti ini mulai memicu perubahan pada
sikap keduanya. (kondisi yang saya gambarkan diatas bisa berlaku sebaliknya.).



Bagaimana dengan peryataan Adi mengenai kekerasan seksual? Percayalah, tidak
ada hubungan pacaran atau pernikahan yang hubungan "Seksual" keduanya
didasari atas paksaan(apalagi jika sudah sering dilakukan). Kebutuhan biologis
manusia ini kerap berada pada posisi menguntungkan bagi perempuan untuk
dijadikan sebagai senjata agar mereka diposisikan sebagai korban. Pada
dasarnya, hubungan yang "intim" bakal membekas secara psikologis
bukan hanya pada perempuan. Laki-laki memiliki potensi yang sama untuk merugi
secara psikologis. (Ingat bahwa laki-laki juga adalah manusia yang susunan
syarafnya persis dengan perempuan).



Tulisan ini tidak mencoba mempertentangkan antara kaum mana yang paling hebat
dan mampu melakukan penyiksaan. mendominasi kemudian memarjinalkan
pasangannya.  Opini yang coba saya bangun adalah bagaimana sebenarnya
kekerasan bisa terjadi dalam sebuah hubungan dan apa yang harus kita lakukan
untuk menghindarinya.



Jatuh cinta, fitrahnya tidak bisa dihindari. Dia adalah insting paling murni
dari seorang manusia. Entah itu laki-laki atau perempuan. Selanjutnya sikap
bijak kedua insan yang sedang jatuh cinta mestinya dikedepankan (meskipun
banyak berpendapat bahwa cinta tak kenal logika). Sekali lagi, tiap-tiap
manusia memiliki kekuatan tuhan yang telah menyublim dalam dirinya (ini mungkin yang disebut Adi kemampuan mempertahankan diri). Jadi bukan hanya perempuan.
Laki-laki juga harus mempertahankan diri.

 






Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)