Saya tidak lapar

0

Sore ini, aku sengaja berjalan-jalan cukup jauh. Ke sebuah taman yang tak terlalu populer. Di taman itu, hanya ada satu bangku besi tua yang ringkih dan mulai keropos. Catnya yang kelabu mulai terkelupas. Sepertinya, taman ini mulai terabaikan.


Aku berjalan menuju bangku itu. Di sana sudah ada orang lain sedang duduk dengan tatapan kosong kedepan, seolah-olah berusaha menembus daun-daun palem di depannya. Palem kecil sepinggang yang menghalangi pandangannya. Aku duduk di sampingnya. Tidak ada tempat lain.


Dua detik setelah bokongku menyentuh bangku yang terasa dingin, dia menoleh padaku. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi persahabatan. Tubuhnya terlihat lemah. Wajahnya kuyu, rambutnya berantakan tak terawat.


"Menurutmu apa alasan seseorang menahan lapar. Menjawab tidak ketika ditanyai, kamu lapar? Padahal dia belum makan seharian.?" Suaranya lemah dan bergetar, mungkin karena lapar, mungkin karena gugup bicara dengan orang asing.

"Mungkin orang itu sedang diet," jawabku spontan.


Tidak sedikit orang rela lapar untuk mendapatkan tubuh ideal. Bukankah itu lumrah?  Tapi sepertinya jawabanku terdengar amat lucu baginya. Bibirnya mulai melengkungkan senyum, lalu tiba-tiba tawanya meledak.


"Menurutmu orang seperti saya masih harus diet?" dia bertanya lagi, kali ini tanpa menoleh padaku.

Aku menggeleng, berharap dia melihatnya. Mendapat kesimpulan lalu berhenti bertanya. Lebih baik lagi dia berdiri dan pergi.  Dia bergeming di tempatnya.


Dalam hati, aku terus menerus berdoa agar dia segera pindah dari bangku besi ini. Sebab aku masih ingin di sini setidaknya jelang magrib. Seperti bisa membaca kata hati,  beberapa saat kemudian dia berdiri. Saya bersorak dalam hati, mungkin dia akan segera pergi.


Nanun aku ternyata keliru. Selang beberapa detik, peraaaanku berubah. Dia tiba-tiba berlutut di hadapanku. Memegang lututku lalu mulai bercerita.


"Saya lapar," katanya, "hanya orang bodoh yang tidak merasa lapar meski tak sebutir nasipun masuk ke lambungnya," lanjutnya. Dia meremas lututku, aku bergidik, ngeri.


Aku bertanya-tanya siapa orang ini? Dan dari mana datangnya? Kenapa memilihku untuk bercerita? Apa yang salah dengannya. Bersama fikiranku sendiri yang terus berbicara, lamat-lamat ku dengar kalimatnya yang lain.


"Saya hanya tidak ingin merepotkan orang lain, saya terbiasa untuk mandiri. Tapi, sejak saat itu. Sejak kehilangan besar itu. Rasanya seluruh kehebatanku ikut luruh bersamanya." katanya, matanya berkaca-kaca.


"Dulu, saya tidak terbiasa mengharapkan orang lain untuk mengisi perutku yang lapar, saya bisa makan di mana saja. Sekarang, saya lebih suka 'tidak lapar' dari pada bergantung pada orang lain. Itulah alasannya, jawaban 'saya tidak lapar'ku selama ini. Saya ingin orang-orang mengerti," katanya.


Mendengar ceritanya, aku penasaran untuk bertanya. Aku beranikan diriku bertanya satu atau dua pertanyaan padanya.


"Siapa kau, dari mana asalmu, dan cerita apa yang kau bawa itu?" kataku.


Dia tersenyum kecut.

Lalu menjawab.


"Nama saya Ego, saya adalah warga miskin dari desa sebelah. Saya ke sini untuk sekolah. Awalnya begitu. Tapi sejak ayah saya mengaku tak sanggup membayar uang sekolah dengan hasil ladang. Konsentrasi saya pecah. Saya bekerja. Lupa belajar. Guru di sekolah mengancam akan mengeluarkan saya jika tidak selesai semua mata pelajaran tahun ini. Saya berhenti mencari uang dan hendak fokus sekolah. Tapi sekarang, saya lapar dan tidak ada tenaga untuk belajar," katanya, panjang lebar.


Aku berdiri dari bangku besi itu. Aku meninggalkannya sendiri di sana. Menuju kamar kostku. Dan menulis surat pengunduran diri dari sekolah.


Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)