Prolog
Jamila duduk di pinggir ranjang. Sebuah ranjang Jati
berukir merak di kepalanya. Dengan tangannya yang halus, dielusnya seprei beludru
merah yang terpasang rapi. Seprei belundru merah itu adalah hadiah dari ibu
mertuanya di hari pernikahannya dengan
Salman. Erang-erang[1]
yang dibawa bersama peralatan rumah tangga lainnya. Ruangan bernuansa merah itu
adalah kamarnya dengan Salman. Baru empat bulan mereka tempati sejak pindah
dari kontrakan. Sebuah rumah KPR sederhana yang di DP dari hasil tabungan
Salman. Air matanya menetes.
***
Sudah dua hari Salman tidak pulang. Suaminya tercinta.
Jamila mulai khawatir. Melalui panggilan pintas di nomor 3 ponselnya, dia
menghubungi Suaminya.
“Tidak pulangki lagi Daeng?”
kata Jamila melalui telepon genggamnya.
“Sudah ku bilang Jamila, ini proyek penting. Rancangan gambar gedung ini
harus ku selesaikan cepat. Mengertiki
kodong[2],”
kata Salman di ujung telepon.
“Tapi Daeng…”
“Jamila, apa yang kita takutkan?
Saya tidak seperti laki-laki lain yang sibuk selingkuh. Ini demi masa depan
keluargata’ berdua. Lagi pula, sejak
lama pasti Kita tahuji, Saya
tidak suka berurusan dengan perempuan. Saya menjalani bisnis dengan laki-laki
semua,” Salman menjelaskan dengan nada tinggi.
“Bukan begitu Daeng, saya Cuma khawatir. Ituji,” kata Jamila setengah berbohong. Ada rasa curiga dalam
benaknya.
“Mauki bicara sama Fardi?” Usul
Salman.
“Hallo? Jamila, ini saya Fardi. Janganmi
khawatir. Sepanjang waktu sama terusja
Salman. Aman.” Suara lembut laki-laki itu entah mengapa begitu dipercayai
Jamila. Seperti obat penenang. Seperti candu.
Setelah berbicara dengan Fardi, Jamila menutup teleponnya. Fardi adalah
sahabat suaminya. Sepanjang pengetahuaannya. Salman dan Fardi sudah
bersama-sama sejak SMA, hingga kuliah di jurusan Arsitektur di perguruan
tinggi, mereka tidak pernah berpisah. Terlebih lagi, Fardi tidak pernah
berbohong padanya.
Jamila berdiri dari pinggir ranjang menuju meja rias di sisi kiri tempat
tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin.
Apa yang berbeda dari diriku?
Apakah kecantikan yang dulu dipuja-puja suamiku ini sudah luntur? Apakah
kecantikan darah bugisku telah hilang? Batin Jamila.
Sebenarnya, tidak ada alasan bagi Jamila untuk curiga pada suaminya.
Sejak menikah, meskipun tanpa pacaran, tidak pernah sekalipun Salman main mata
dengan seorang perempuan. Meskipun sikapnya kepada istrinya tidak begitu
hangat, namun khas sikap laki-laki
Makassar yang tidak begitu pandai bersikap romantis. Salman berkali-kali
menceritakan bahwa dia tidak suka berkomunikasi dan berkerja sama bisnis dengan
perempuan. Terlalu Jabe.[3]
***
Kesibukannya mengejar deadline pengerjaan rancangan bangunan hotel
terbesar di kawasan pesisir membuat Salman tidak pulang hingga dua minggu. Tiba
di rumah dia disambut dengan interogasi panjang dari istrinya.
“Daeng, tegata tinggalkanka dua minggu. Tidak sempatki telepon ke rumah biar satu kali?
Tidak ada kabarta sama sekali.”
Gerutu Jamila.
“Saya sudah bilang sibukka. Kenapaki tambah hari tambah capila[4].
Apa mauta?” Salman menjawab
dengan nada kesal.
“Saya rindu Daeng. Sudah tiga bulan tidak pernah kita sentuhka. Saya ini
istrita Daeng. Agama kita tidak
menganjurkan ini. Seorang suami harus memberikan nafkah pada istrinya. Lahir
dan Batin” kata Jamila setengah merintih.
Mendengar penjelasan istrinya itu, Salman naik pitan. Ditariknya dengan
kasar tangan sang istri, nyaris dia seret. Salman membanting tubuh Jamila ke
atas seprei beludru merah. Satu persatu pakaiaannya dia lucuti, sambil terus
memaki.
“Jadi iniji pale Kau mau. Ini?
Ambilki. Rasakanmi. Nikmati sepuasmu.” Salman dengan buas menindih istrinya.
Jamila menangis. Bukan perlakuan seperti ini yang dia inginkan. Dia
merindukan Salman yang dikenalnya di awal-awal pernikahan. Meski tidak selalu
berakhir dengan bercinta, Jamila rindu pelukan hangat suaminya. Jamila rindu
Salman bercerita tentang pekerjaannya sampai mereka tertidur berdua di atas
seprei belundru merah.
Salman memakai kembali pakaiannya. Memandang jijik pada Jamila.
“Kau, sebagai perempuan Bugis. Sebagai seorang istri, harusnya kau dukung
suamimu Jamila. Saya di luar sana, lupa makan, lupa tidur untuk selesaikan
proyek penting ini. Dan kau di rumah didatangi, itu saja di otakmu. Cih, ”
Salman mengakhiri ceritanya dengan meludah ke lantai. Hampir menyentuh ujung
jari kaki Jamila yang terkulai lemah.
Jamila merapikan pakaian lalu rambutnya. Dia berdiri, hendak ke kamar
mandi membersihkan diri.
“Kalau kamu hanya menginginkan itu dari seorang laki-laki dan tidak
menerima kesibukanku Jamila, cari saja laki-laki lain. ” kalimat itu
menghentikan langkah Jamila. Dia tidak menyangka suaminya akan berkata seperti
itu padanya. Siapa yang salah? Jamila tidak sanggup menimpali kalimat suaminya
itu. Hatinya mendidih. Setengah berlari, Jamila masuk ke kamar mandi, mengguyur
tubuh dan hatinya yang tiba-tiba terasa panas.
Tanpa mengganti pakaiaannya, Salman pergi lagi meninggalkan rumahnya. Dia
memacu motornya menuju kantor yang menjadi basecamp
para arsitek yang bekerja sama mengerjakan rancangan bangunan hotel megah itu.
Salman mendapat bagian mengerjakan bagian paling penting. Icon hotel, sebuah
pintu gerbang megah yang mengadaptasi bentuk rumah adat Toraja, Tongkonan, Juga
sebagian besar aula dan ruang konser termegah yang pernah ada di kotanya.
Tiba di kantor, Salman disambut Fardi. Dengan wajahnya yang lesu. Mudah
ditebak Fardi bahwa kawannya itu sedang ada masalah.
“Kenapaki?” Tanya Fardi begitu
Salman duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya.
“Jamila, dia berulah lagi. Saya capek hadapiki” keluh Salman.
“Mau saya telponkanki?” Usul
Fardi sambil memijat kepada Salman dengan lembut.
“Seandainya bisa, Kaumo ku
peristri. Lebih bisako uruska,” kata Salman dalam mata terpejamnya.
“Hahaha,” Fardi menepuk pundaknya lembut.
***
Setelah insiden “Pemerkosaan” Salman pada Jamila.
Salman tidak pulang hingga berminggu-minggu. Jamila tidak pernah berinisiatif
menghubunginya. Kalimat Salman yang memintanya mencari laki-laki lain masih
terlalu menyakitinya. Tumbuh dalam didikan budaya bugis yang kental dan
terbiasa dengan kalimat-kalimat dan tata karma lembut, Jamila menjadi perempuan yang amat perasa. Sedangkan budaya
Makassar yang membesarkan Salman dengan watak kerasnya amat berbenturan dengan
Jamila.
Selain
kekesalannya pada Salman. Jiwa pemberontak yang ternyata hidup dalam diri
Jamila menunjukkan eksistensinya. Merasa diremehkan dan dilecehkan suaminya
sendiri, Jamila mulai berani bergerak di luar jalur adat-adat masyarakat bugis
yang menjunjung Siri’[5].
Sebuah kebetulan yang kemudian
dinikmati Jamila hingga waktu yang cukup lama.
Sore itu, selepas membersihkan rumah, Jamila memilih
mandi sore, sekalian menghilangkan kejenuhannya menunggu sang suami yang tidak
kunjung pulang. Sudah seminggu sejak pertengkarannya dengan Salman. Saat sedang
mandi, Jamila mendengar pintu diketuk. Dia yakin itu Salman. Karena sejak
pindah ke rumah itu, memang belum ada seorang tamu pun yang berkunjung.
Buru-buru Jamila mengambil handuk dan membalut tubuhnya. Dengan tubuh yang
masih basah, Jamila bergegas membuka pintu, takut suaminya kesal jika menunggu
lama. Begitu pintu terbuka, betapa kagetnya dia, yang berdiri di hadapannya
bukanlah suaminya. Dia seorang laki-laki yang mungkin lebih mudah darinya.
“Ada kak Salman?” sapa laki-laki itu.
“Oh tidak adaki dek.
Ada perlu apaki?” jawab Jamila kemudian.
“Bisa minta tolong kita
telpon? Saya mau ambil file. Bilangki
saja. Sandy sudah ada di rumahta,”
kata laki-laki muda itu sambil mengamati tubuh basah berbalut handuk itu.
Menyadari dirinya diperhatikan, Jamila buru-buru mempersilahkan tamunya itu
masuk lalu pamit untuk berpakaian.
“Dudukimi dulu
dek. Saya pakai baju dulu,” katanya undur diri.
Entah setan apa yang mempengaruhi laki-laki muda yang
tadi memperkenalkan diri sebagai Sandy itu. Dia berani menarik tangan Jamila,
menghalanginya untuk berpakaian.
“Tidak usah pakai baju,” dia berbisik di telinga
Jamila, lalu dengan cekatan menarik handuknya dan mengangkat tubuh mungil
Jamila dan merebahkannya di atas seprai beludru merah. Seprei yang diberikan
mertuanya sebagai hadiah Erang-erang. Dipengaruhi
nafsu dan kerinduan pada sentuhan laki-laki, Jamila merintih ditindih laki-laki
muda yang tadi datang mencari suaminya.
Itulah awalnya mengapa Jamila sudah tidak peduli lagi
dengan suaminya yang tidak pernah pulang. Berminggu-minggu, hingga hitungan
bulan. Jamila menikmatinya. Jamila suka, jika laki-laki muda itu datang
padanya, menggantikan peran Salman menyentuhnya. Memperlakukannya dengan
lembut.
***
Tiga bulan berlalu sejak hubungan gelapnya dengan
Sandy. Salman pulang setelah rancangan bangunan gerbang hotel disetujui
investor. Dia pulang dengan hati berbunga-bunga. Ingin beristirahat.
Memyampaikan kabar gembira itu pada istrinya. Jamila.
Jamila dan Sandy sedang asik berdua di atas seprei
beludru merah. Pintu tidak terkunci. Salman masuk ke kamar dan mendapati
istrinya ditindih orang lain. Dia bergeming. Berdiri mematung di hadapan dua
sejoli yang dimabuk birahi. Tanpa sepatah katapun Salman meninggalkan kamar
yang bau peluh dan melati. Motor dipacu dengan kecepatan nyaris penuh. Berbelok
ke salah satu hotel murahan di pinggir kota. Dia menemui Fardi. Matanya berkaca-kaca. Dipeluknya laki-laki
bersuara lembut menenangkan itu. Erat sekali, seolah ada lautan perasaan yang
ingin ditumpahkannya pada sahabat yang telah dikenalnya sejak SMA itu.
“Kita menang. Kita berhasil. Kita sudah berhasil sayang.”
Kata Salman lalu mengecup kening Fardi, lalu turun ke bibirnya. Mereka saling
melumat cukup lama.
“Besok kita ke Belanda” kata Fardi setelah melepaskan
bibir Salman. Mereka kembali berpelukan.
***
Epilog
Kekasihnya seorang laki-laki bertubuh kekar telah
menunggunya di atas altar megah sebuah gereja di Amsterdam. Dalam perjalannya
menuju Altar, Fardi mengenang sebuah kisah.
Dua orang remaja laki-laki jatuh cinta. Mereka menjalin hubungan terlarangnya sejak
lulus SMA. Benih cinta itu telah tumbuh sejak mereka duduk sebangku di kelas 2.
Lalu tumbuh kian hebat saat mereka beranjak dewasa. Takut hubungannya diketahui
orang tua. Fardi mengizinkan Salman menikah dengan seorang yang dijodohkan oleh
orangtuanya. Jamila.
Salman dan Fardi berjanji akan menikah di Belanda, dua
tahun setelah pernikahan “palsu” Salman dan Jamila. Untuk melancarkan aksinya.
Salman dan Fardi menyewa seorang anak muda tampan untuk menggoda Jamila yang
dipaksa hidup kesepian di rumah kecil di tengah kota. Mereka berhasil.
Saat Salman dan Fardi mengucap janji nikah di depan
pendeta. Jamila sedang duduk di atas ranjang Jati berukir merak di kepalanya,
mengelus seprei beludru merah dan merindukan suaminya, Salman.
[1]
Erang-erang dalam bahasa Makassar berarti Seserahan
[2]
Kodong dalam bahasa Makassar bisa diartikan sebagai nada memelas.
[3]
Jabe dalam bahasa Makassar berarti Cengeng atau lemah
[4] Capila
dalam bahasa Makassar berarti cerewet, dalam makna negatif
[5]
Siri’ dalam bahasa Bugis Makassar berarti kehormatan ada rasa malu.
