Sudra dan Brahmana (#3)

0

10 Tahun Tak Menunggu


Masih ingat dengan cerita Sudra dan Brahmana?
Kami dihalangi untuk bertemu 10 tahun lamanya, sejak belasan hingga jelang seperempat abad.



Pertama, seragam abu-abu. Wajar, Jika Brahmana menolak sekolah yang katanya "Sawah-sawah". Ya itu sekolahku, sekolah Si Sudra. Sebenarnya tak terlalu rendah. Cukup bergengsi bagiku. Tapi Mileh menolak ke sana dan memilih sekolah di tengah kota. Dan kami batal bertemu. Tapi aku tak menunggunya, pun dia begitu.


Kedua, Mileh gagal menemuiku, sebab gagal masuk ke padepokan yang sama, dia belajar sejarah, aku bahasa asing. Itu kursi nya. Yang ku duduki, di kelas bahasa asing. Sebab dia ngotot di sana, lalu gagal. Aku yang terjebak malah berhasil dan kami tak bertemu. Tapi aku tak menunggunya. Pun dia begitu.


Ketiga, kami akhirnya bertemu di tahun kedua di padepokan. Aku berkunjung ke istana utama, rumahnya prabu Namundar Irash, musuhnya. Dan di sanalah pertama kali ku lihat sosok nya. Tapi aku tetap tidak mau menunggunya, pun dia demikian. Aku tahu, namanya Mileh dan kastanya Brahmana. Dia belum. Aku pergi.


Ke empat, aku mulai mengamati nya. Sayang, Mileh sedang jatuh, pada perempuan brahmana yang membuatnya gila. Lima tahun aku dihalangi dengan tameng sekuat itu. Kami tak bertemu. Tak masalah, aku sedang tidak menunggunya. Kulanjutkan perjalanan dan juga jatuh berkali-kali. Kepada ksatria, kepada Sudra. Belum pernah pada Brahmana. Aku tak mau. Tak suka.


Kelima, aku kehilangan Makhy-ku, dia kehilangan Mileh-nya. Kami berlari. Terus dan terus, saling menjauh. Tak pernah berkabar. Tak pernah bersua.


10 tahun kemudian, aku menabrak benda asing. Aku terkejut. Hei itu dia. Sedang jatuh tersungkur, ringkih. Cahayanya pudar, aku seperti ber cermin.


Tahu apa yang kubisikkan pada Mileh waktu itu?

"Hei kita berlari, saling menjauh, dan lupa bumi ini oval," kataku.


Mileh tersenyum. Aku melihat, Makhy perlahan-lahan hidup kembali.


Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)