(1)Rindu itu sayang, seperti bulan, sering bahkan selalu datang di malam hari. Rindu itu juga seperti embun, kerap menitik di waktu subuh. Selalu mendahului ayam berkokok.
Rindu itu sayang, seperti kopi. Pahit. Gula adalah penawarnya. Dan ingatan tentang senyum mu adalah gula favoritku untuk kopi rindu yang kuseduh selepas isya.
Rindu itu sayang, seperti bangkai, harus dikuburkan segera, agar tak menyiksa. Dan peluk mu adalah makam yang paling sempurna untuk mengubur bangkai rinduku.
(2)Rindu itu sayang kau dan aku yang tak bertatap muka, melahirkan gelisah di ujung desah dan doa untuk segera berjumpa.
Rindu itu sayang, tidak kekal. Tapi amat rewel. Seperti obat yang harus segera ditebus. Dan matamu sayang, adalah apotik yang menjual segala jenis obat yang akan sembuhkan sakitku.
Rindu itu sayang, seperti dophin. Mampu membuatku terjaga hingga larut malam. Sayangnya, satu-satunya penawar insomnia karena rindu adalah kedua lenganmu
Dan rindu itu sayang sekarang sedang bergelayut manja di sisi kiriku. Tepat di Tempat yang sering kau berdiri saat di dekatku. Sayang, aku rindu
Makassar, 20 Maret 2016 , 01.54

