cerpen (namanya tata mandong)

0
Dia hidup di antara pepohonan dan ailran air sungai. Jauh dari peradaban tapi sangat beradab. Jauh dari gemerlap harta materi namun  sangat kaya. Dia tertunduk dalam setiap tutur lisannya. Dia bersahaja dalam setiap gerak tubuhnya. Tanpa belajar di sekolah kepribadiaan dia menjadi manusia paling sopan yang kutemui sepanjang hidupku. Dia berteman dengan pohon – pohon markisa di belakang gubuk yang dia sebut istananya. Dia berbagi dengan sapi  - sapi yang berkeliaran di halamanya yang luas. Dia berteman dengan ayam hutan yang licah menghidar saat hendak terjamah manusia. Dia hidup berdampingan dengan alam.
Namanya mandong, orang - orang yang mengenalnya memanggilnya dengan panggilan tata mandong. Tata dalam bahasa Makassar yang berarti bapak atau ayah. Orang – orang mencintainya. Seperti aku yang jatuh cinta padanya pada jumpa pertama dan semakin jatuh cinta saat dia mulai bercerita tentang alam dan dirinya.
Usianya telah senja, namun Senyumnya adalah matahari terbit, bahasanya adalah anak sungai je’ne berang  yang mengalir membawa kesejukan. Tatapannya tajam, menusuk yang bersalah.  Lembut seperti kabut menentramkan mereka yang bersih hatinya.  Petuahnya adalah mutiara tak tenilai yang ingin ku bingkai lalu kujadikan pedoman dalam hidupku. Aku merasa rendah dihadapnnya. Merasa perlu belajar banyak hal dariinya. Tentang kesetiaannya menjaga alam dari  tangan – tangan tak bertanggunng jawab. Hidup dalam kesederhanaan dan kesendirian yang pasti. Dia hidup sendiri diantara kepungan gunung dan bukit. Merendah di lembah ramma.

***
            Tenda – tenda para pelancong, penikmat alam ramma telah terlepas dari fibernya dan tersimpan rapi di dalam carier –carier mereka. Satu persatu dari mereka melangkah. Berjalan terus kedepan. Mendaki menuju punjak talung. Melihat ramma dari ketinggian lalu pergi dan berjanji kelak akan kembali lagi untuk merasakan jernih airnya. Satu –satunya tenda yang masih tegak adalah tenda milikku. Lembah ramma yang luas dan hijau seakan menjani milikku selama beberapa menit. Sepi namun hidup dengan caranya sendiri. Sebelum senja kami membongkar tenda agar ada waktu untuk berbincang – bincang dengan tata mandong sebelum meninggalkan ramma dan benar – benar meninggalakan tata mandong di tanah seluas ini.
            Tata sedang duduk tafakkur menikmati tembakau yang dia selipkan di antara telujuk dan jari tengahnya. Duduk bersila penuh wibawa menghadap kepintu rumahnya seolah – olah telah menanti kedatangan ku dan kak aswar.
“assalamu alaikum, tata” kak aswar memberi salam lalu masuk dengan hati – hati kedalam rumah tata yang hanya berisi beberapa benda tua dan tampak tidak berharga. Namun penuh histori bagi tata. Tata mengenal dengan baik setiap senti meter benda –benda dan sudut –sudut rumah yang telah ditempatinya selama sembilan tahun itu
“walaikum salam, naik ki ri balla nak!” tata mempersilahkan kami dengan sangat ramah, lembut dan sopan. Kami berdua bergeser mendekati tempat tata duduk.  Bertanya basa – basi pada tata lalu mengalirlah percakapan diantara kami.
Sore ini menjadi waktu yang indah dalam perjalanan hidup ku dan kak aswar. Kami diberi kesempatan untuk bertemu dengan harta karun tanah ramma, megenalya lebih dekat melalui nasehat – nasehar berharganya. Dan waktupun bergulir sangat hati – hati seperti setiap kata yang diucapkan tata dengan penuh penghayatan. Tentang bagaimana ia memilih untuk menyendiri di sini. Menjaga hutan dari tangan – tangan kotor para pemburu kayu yang tak kenal belas pada pohon – pohon penahan longsor. Tentang prinsip hidup yang tak mampu terjamah oleh silau materi dan modernitas yang sesat. Tentang kesederhanaan hidup seorang pecinta alam sejati. Tentang pengorbanaan seumur hidup pada tanah yang dicintai. Tanah yang dijaganya tanpa sertifikat kepemilikan. Tanah yang di lindunginya tanpa pamrih.
“punna ni biayai tawwa antu katte, berarti ni jajah mi na inakke te ni jajah” begitu kira – kira kata tata. Pesan singkat berharga yang kubawa pulang sore itu. Harta karun yang kubungkus dan ku simpan baik – baik dalam lipatan kecil dihatiku. Coba ku hayati dan kuceritakan pada setiap mereka yang kutemui. Semoga bermamfaat bagi kami semua.
Dari tallung yang berada di ketinggian 1000 mdpl, tanah ramma terlihat sepi, hanya ada sebuah rumah kecil yang reot dan beberapa ekor sapi milik peduduk yang dibiarkan bebas merumput di tanah ramma yang luas. Seokor kuda tampak gagah diantara sapi – sapi tersebut. Seperti raja diantara budak – budaknya.
“tidak perlu menjadi singa untuk menjadi raja, cukup menjadi kuda diantara para sapi”kata kak aswar sambil menunjuk kearah kuda gagah itu. Seekor kuda jantan berwarna coklat gelap. Sangat gagah.
Selepas mengucap salam pada ramma, pada tallung dan kabut yang mengelilinginya kami berangkat, kembali ke lembana, menuju makasar. Meninggalkan tata mandong sendiri. Benar –benar sendiri dalam pelukan ramma yang dingin. Terima kasih tata mandong

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)