Kepada Kau, Laki-laki Bermata Elang

0
masihkah kau berdoa tentang aku yang akan menjadi imbuhan bagi kata dasarmu?

yang akan menjadi satu denganmu tanpa spasi.



aku ingat kala kau hadiahkan

20 potong puisi yang tak ingin ku sebut puisi cinta

di hari jadi ku yang  benar-benar genap

dua puluh



masihkah dompet usang mu itu setia memeluk foto ku yang berlatar hitam, katamu.



aku ingin mengatakan cinta

tapi apa artinya ucapan ku itu jika seluruh tubuhku telah mendahului lidah dan bibir ku?



katakanlah wahai kau yang mencintai ku seperti si bisu

kau tidak pernah bersuara tentang cinta, kau memberi isyarat

lewat senyum, sentuhan dan pengorbanan



apa yang sedang coba kau ajarkan padaku wahai kau laki-laki bermata elang?

inikah pengorbanan tertinggi sebuah cinta?

saat kau berdiri di luar kita dan masih tetap memeluk jiwaku



katakan padaku wahai kau kekasih jiwa yang terbantahkan

akankah ku temukan satu lagi yang seperti kau?

tidak, tidak, tidak bukan kau



seperti masa lalu, aku tak tahu jalan pulang

aku tidak akan pernah kembali





kepada dia, angin yang bertugas membawa surat dari masa lalu kepada mereka yang dirindukannya

bolehkah ku titipkan satu untuk laki-laki bermata elang itu?

ini bukan surat cinta



aku hanya ingin mengabarkan rindu yang datang tanpa persetujuanku

aku ingin menceritakan tentang hujan yang rintik-rintik di pelupuk mataku,



aku ingin mengatakan, aku benar-benar telah tersesat

dan, ah maaf aku tidak bisa pulang



katakan padanya wahai angin

seumpama ada rindu yang diam-diam ia semai

ubahlah ia menjadi doa lalu titipkan pada angin

sisipkanlah namaku pada doa paling subjektif nya pada semesta



ia, seperti yang selalu ku lakukan untuknya.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)