“ aku Mawar, shima warangkuh”
“ namamu aneh hahaha, saya kumbang. Sukmadi kumbang jaya” kumbang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“ tidak mungkin. Kamu bohong” kata mawar tanpa menyambut tangan kumbang
Kumbang mengambil dompet di saku belakangnya dan menunujukkan KTP nya sambil tersenyum bangga.
“ ini kebetuan?” tanya mawar tidak percaya, lalu mengulurkan tangannya yang tadi enggan menjabat tangan kumbang
“ tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua karena hukum sebab akibat” kumbang berbicara sambil menyambut tangan mawar dengan hangat.
Mereka berdua tertawa.
Pertemuan pertama berakhir. Mawar berlalu, kumbang diam terpaku.
***
Kutemukan seekor kumbang terbang rendah disekitar kelopak bungaku sore ini. Kumbang itu mendekat, merendah memandangi aku yang bersembunyi diantara tajamnya duri – duri yang melindungi setiap mahkotaku yang merah. Aku berdiri angkuh, karena aku adalah mawar yang merah, buka merah mudah yang lemah dan mudah layu. Tepat seperti namaku. Aku adalah mawar yang angkuh.
Lekat ku pandangi duri – durinya yang entah berapa banyak kumbang yang telah tertusuk dan dibuat menyerah karena tajamnya. Aku berayun – ayun bersama angin. Menikmati wanginya kelopak –kelopak merahnya. Aku tak berani menyentuh kelopaknya apalagi meminta sari bunganya. Apakah aku kumbang pecundang ini sedang terjatuh pada keangkuhan sang mawar?
Pertemuan kedua terjadi begitu saja, Tanpa rencana. Sementara teori bahwa pertemuan kedua akan menimbulkan rasa rindu satu sama lain telah mereka sepakati. Tangan takdir telah ikut campur dalam hubungan mereka.
Tanpa mempertimbangkan status hubungan kumbang yang telah bertunangan dengan seseorang, mereka melakukan pertemuan kedua itu. Pertemuan kedua yang membuat mereka semakin mengenal satu sama lain. Menimbulkan perasaan berbeda diantara mereka.
”“aku menyukai laki – laki yang cerdas.” Mawar berucap mantap saat lumbang bertanya tentang laki –laki idamannya
“ meskipun sudah ada yang punya?” tanya kumbang
“seperti kamu” jawab mawar
“hahaha”
“itu tawa apa” mawar menyelidik
“analisa saja sendiri” kumbang tertawa saja tanpa mempedulikan pertanyaan mawar.
“ ah, kamu itu” mawar cemberut
“saya tau kamu cerdas mawar,saya tidak pernah meragukanmu. saya hanya ingin menjadi muridmu” sembari tersenyum, kali ini lebih tenang.
“kamu terlalu berlebihan dan sedikit gombal” elak mawar dan kumbang hanya tersenyum.
“izinkan kumbang pecundang ini menaklukkan hati mawar yang angkuh” ucap kumbang hampir tidak terdengar dia seperti berjanji pada dirinya sendiri, bukan berbicara kepada mawar.
***
Kumbang adalah laki –laki cerdas dan mawar menyadari itu. Kumbang ini adalah kumbang yang pandai yang merendah dihadapan mawar yang angkuh agar tidak merasa disaingi. Seorang mahasiswa yang memilih untuk menjadi aktifis kampus. Jalan yang juga dipilih oleh mawar. Maka diskusi tentang tuhan, tentang keadilan, atau tentang romantisnya sastra menjadi hal yang ringan dan menyenangkan bagi mereka. Kumbang yang begitu tertarik dengan karl max dan manifesto komunisnya tidak percaya pada takdir dan teori air mengalir juga tentang perempuan yang diciptakan dari rusuk laki – laki. Sementara mawar adalah orang yang paling percaya pada hal tersebut, terutama pada takdir.
“jika kelak aku jatuh cinta padamu dan kau masih bersama kekasihmu. Maka berikan lah aku tempat yang lebih rendah darinya dihatimu” pinta mawar pada kumbang
“ loh, kenapa mawar anngkuh ini menjadi layu?” kumbang merasa heran dengan pernnyataan mawar yang sangat pesimis menurutnya. Namun ternyata kumbang salah melihat peryatan itu.
“aku sama sekali tidak layu. Ini adalah bentuk keangkuhanku. Aku tidak ingin mendapatkan hatimu dengan mudah hai kumbang. Berikan saja yang ku minta, karena tempat yang tertinggi akan ku rebut sendiri tanpa kau memberikannya dengan Cuma – Cuma. Dan ingat, jika nanti telah kumiliki yang tertinggi. Tidak akan ku biarkan seseorang selain aku mengambil tempat dihatimu” penjelasan mawar membuat kumbang terkagum.
“ benar – benar angkuh dan cerdas” tegas kumbang, tanpa senyum ataupun tawa. Dalam ekspresi hanya kumbang yang dapat mendefenisikannya.
Dalam percakapan – percakapan selanjutnya, meskipun hanya lewat telepon atau pesan singkat SMS, mereka menyadari satu hal. Teori tentang pertemuan kedua yang menyisakan rasa rindu akhirnya terbukti. Dan suatu hari saat kumbang bertanya pada mawar tentang kelanjutan perjalanan mereka mawar menjawabnya dengan sebuah kalimat sastra yang dalam.
“bersabarlah sayang, mawar angkuh ini tidak akan mudah untuk ditaklukkan, kau membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya. Aku hanya ingin setiap kisah yang kujalani tidak berakhir seperti puisi, singkat dan menyisakan interpretasi ambigu meskipun sarat makna. Aku ingin kisah kita berjalan seperi sebuah cerpen. Memiliki alur yang sederhana namun indah, karakter tokoh yang kuat dan akhir yang jelas, semoga indah”
