CERBUNG (Bab 2 Kenangan )

0

Apakah Kumbang itu sebegitu pecundangnya? Hingga dia tidak ingin menunggu. Apakah Kumbang itu benar-benar seekor Kumbang yang menginginkan semuanya berjalan dengan cepat? Sehingga ia begitu ingin segera menghisap Sari bunga lalu pergi? Dan ketika setangkai Mawar yang angkuh ini tidak berhasil dia rayu maka dia akan terbang , pergi jauh mencari bunga bunga lainnya?
Mawar gelisah, dia tidak pernah menyangka bahwa pertemuan keduanya dengan laki-laki itu 5 bulan yang lalu  akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Mawar tidak pernah berfikir bahwa pesan terakhir yang dia terima dari laki-laki itu sehari setelah pertemuan itu, akan menjadi pesan terakhir yang diterimanya.  Mawar tertunduk lemas di dalam kamarnya. Ya, selama  ini tidak pernah ada kabar dari laki-laki yang dikenalnya sudah hampir setahun itu.
Kumbang menghilang, menghilang dari kehidupannya, menghilang dari kebiasaannya, mengilang dari pesan-pesan yang masuk kedalam ponselnya. Sayangnya dia tidak pernah menghilang dari fikiran dan hatinya. Ada perasaan aneh dalam dirinya. Hatinya menginginkannya. Fikirannya memutar kenangan tentang laki-laki itu. Dia merindukannya.
Tidak banyak yang berubah dalam diri Mawar, dia masih tetap seorang aktivis perempuan di kampusnya. Mawar masih tetap mengikuti aksi aksi demonstrasi dalam berbagai momentum peringatan hari-hari nasional. Mawar berharap suatu hari akan bertemu lagi dengan laki-laki itu. Berharap mendapatkan penjelasan dari laki-laki itu. Bagaimanapun Kumbang adalah seorang aktivis juga. Ada banyak kemungkinan bagi mereka untuk bertemu dalam sebuah aksi demonstrasi. Bukankah mereka dulu dipeertemukan di sana? Di jalanan.
                                    ***
09 desember 2009, hari ini adalah hari momentum yang sangat penting bagi banyak orang. Terutama para mahasiswa di seluruh dunia. Di Indonesia dan di kota Mawar, juga bagi Mawar sendiri. Hari anti korupsi sedunia. Ribuan massa aksi dari hampir seluruh universitas turun kejalan. Berrgabung dalam satu kesatuan aksi bernama “FRONT MAHASISWA ANTI KORUPTOR”. Mereka semua turun kejalan dalam satu tujuan, meneriakkan protes dan kritik kepada pemerintah dan pemerintahan yang kotor. Penuh dengan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Mawar ada dalam salah satu barisan massa berjaket almamater orange. Berjalan dari kampusnya bersama ratusan teman-temanya menuju titik aksi di jembatan layang di pusat kota. Di titik aksi itu, ratusan bendera telah berkibar, puluhan warna jas almamater -sebagai identitas kampus masing masing- dan ribuan orang bersatu pada satu titik aksi. Puluhan dari mereka secara bergiliran menyampaikan orasi politiknya. Yang lain berteriak menyetujui dan menyemangati satu sama lain. Mereka adalah mahasiswa yang terbuka fikirannya. Mengingatkan mereka yang lupa untuk apa sebenanrnya mereka duduk di kursi-kursi terhormat pemerintahan.
Meskipun Mawar adalah seorang perempuan. Mawar adalah salah satu aktivis yang diperrhitungkan. Dia terkenal di dalam dan di luar kampus. Maka namanya sudah pasti ada dalam daftar mahasiswa yang akan menyampaikan orasi politiknya.
Mawar maju kedepan begitu namanya dipanggil oleh jendral lapangan aksi tersebut. Mawar mengangkat tangan kirinya-simbol perlawanan- lalu berteriak lantang
“Hidup mahasiswa, hidup mahasiwa, hidup mahasiswa, hidup rakyat!” Mawar mengedarkan pandangannya kepada seluruh massa aksi. Berdiri di atap sebuah mobil pick up membuat Mawar tampak gagah sekaligus anggun, dialah bunga bangsa yang hidup untuk bangsanya. Setangkai bunga revolusi.
“Kawan-kawan” Mawar berteriak lagi “hari ini kita berkumpul bersama di sini di bawah terik matahari, tidak peduli panas, kita tetap bersemangat, dengan satu tujuan. Tujuan kita bersama. Kita harus mengingatkan mereka. Pemimpin-pemimpin kita yang katanya terhormat. cuihh” Mawar meludah buas ke sisi kirinya. Peluh mengalir di dahinya, turun kepipinya.
“Mereka memakan harta rakyat, mereka memperkaya diri sendiri dan melupakan penderitaan kita. Mereka lah para koruptor yang perutnya membuncit karena harta haram yang mereka makan. Haruskah kita berdiam diri?” Mawar meneriakkan pertanyaan membakar semangat massas aksi lainnya.
“TIDAAAAKKKK!” Ribuan suara bersatu, menggema menjadi satu.
“Kawan-kawan, jangan lengah! Ini adalah tugas kita bersama. Untuk menyampaikan kebenaran, kita hanya punya satu pilihan, mati tertindas atau bangkit melawan. Karena diam adalah bahasa penghianatan. Hidup mahasiswa!” Mawar mengakhiri orasi polotiknya di ikuti oleh riuh tepuk tangan. Mawar merasa lega. Tapi tidak bertahan lama. Laki-laki itu tidak nampak batang hidiugnya. Dia tidak ada di sana.
                                                            ***

Mawar melepaskan sepatu ketsnya di depan kamar kostnya lalu membuka pintu kamar dan melemparkan daypacknya kesembarangan arah. Mawar melangkah masuk sambil mengambil ponsel dari saku celananya. Jari-jarinya dengan lincah menari di atas keypadponselnya, mengetik pesan singkat yang segera meluncur menuju nomer ponsel Kumbang.
To : Kumbang
Km g’ ikt aksi td?
Rame bgt loh. J 
Terkirim.
Mawar menuggu balasan. Masih berharap ada keajaiban dan Kumbang membalas pesannya. Lima menit berlalu, 10 menit, 30 menit. Balasan itu tidak pernah datang.
“Seperti biasa.” Mawar berbicarap ponselnya. Lalu menyimpan ponsel itu sembarangan di atas kasurnya dan ikut menghempaskan dirinya. Berbaring dan fikiranya melayang entah kemana mencari-cari keberadaan laki-laki bernama Kumbang itu.
Entah itu adalah yang ke ratusan berapa kalinya Mawar mengirimkan pesan secara satu arah pada Kumbang. Terkirim tapi tidak pernah ada balasan.
 Mungkin Kumbang tidak punya pulsa. Mawar tersenyum sinis mendengar penjelasan yang diteriakkan hatinya.
 Lima bulan tanpa pulsa? Mustahil. Logikanya ikut berteriak. Mawar tertidur. kelelahan

                                    ***
Mawar terbangun dari tidurnya. Mencari-cari ponselnya yang sejak tadi terbaring dengan setia menemaninya tidur. Ada rasa berharap dalam hatinya bahwa akan ada balasan dari Kumbang. Mawar tidak pernah kehilangan harapan sampai saat dia melihat layar ponselnya tidak memberikan pemberitahuan bahwa sebuah pesan telah masuk.  Mawar bangun dan duduk di sisi tempat tidurnya menatap kosong pada jendela kamarnya. Tidak benar-benar kosong. Ada banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalannya.
Apakah Kumbang benar-benar sangat pecundang? Benarkah dia menghindar karena aku menolak keinginannya untuk menjadikanku pacarnya –yang kedua-? Apakah dia begitu menginginkan hubungan bernama pacaran? Begitu besar keinginannya untuk menjadikan aku selingkuhannya? Perempuan lain yang akan hadir di antara dia dan tunangannya, yang kemudian dapat dengan mudah dia tinggalkan begitu saja ketika hubungan pertunangannya berlanjut ke jenjang pernikahan.dan ketika aku menolak keinginannya, Kumbang dapat pergi begitu saja? Seperti yang  dilakukannya sekarang? Tanpa sepatah katapun!Apakah sesederhana itu?  Pertanyaan itu berputar putar di kepala Mawar. Berulang-ulang selama hampir 5 bulan terakhir. Dan hari ini fikiran itu benar-benar telah menguasai fikirannya. Hari ini Mawar memutuskan untuk  berhenti mengirimkan pesan. Berhenti menelpon. Dan berhenti berharap.
Mawar turun dari tempat tidurnya. Berjalan mendekati tumpukan buku-bukunya dan memilih salah satu buku yang ada di sana. Mawar membuka buku itu di bagian tengahnya, lalu berjalan kembali menuju tempat tidurnya dan mengambil ponselnya dan mencari nomer telpon Kumbang. Dengan berat hati Mawar menggoreskan pulpennya membentuk jejeran 12 angka. Sebuah nomer telpon. Setelah itu Mawar menghapus nomer ponsel Kumbang dari kontak ponselnya.  Mawar berlajan menuju sebuah kardus di sudut kamar, tempat dia menyimpan buku-buku lama yang tidak akan dibukanya lagi dalam waktu yang lama. Mawar memandangi nomer ponsel itu lalu menutup bukunya. Sekilas Mawar melihat judul buku itu
Supernova : akar.
Mawar menyimpannya di dasar kardus,. Menutupinya dengan buku-buku lain. Sama seperti nama Kumbang yang telah ditulis dan disimpannya di satu lipatan paling dalam dan rahasia di hatinya hingga tak seorang pun akan tahu. Tak seorangpun dapat melihatnya, tak seorangpun dapat menyentuhnya selain dirinya sendiri. Lipatan rahasia itu bernama:kenangan
                                    ***
Apakah Mawarku yang angkuh itu tahu? Aku sedang kehilangan sayapku. Aku tidak bisa terbang jauh menemuinya, bahkan hanya dalam mimpi sekalipun. Duri dari bunga lain mengoyak sayapku. Memaksaku tetap di sisinya. Bunga Mawar merahku yang kanguh, maafkan Kumbang pecundang ini.
Seekor kumbang sedang merayap di batang bunga mawar yang berduri. Dia tidak bisa terbang karena sayapnya sudah terkoyak oleh duri. Dan kini sekujur tubuhnya telah penuh luka  karena merayap di batang mawar yang berduri itu. Kumbang memaksa dirinya hidup bersama tunangannya. Bagaimanapun. Tidak ada seorang wanita yang ingin kekasihnya meninggalkannya untuk perempuan lain. Apalagi hubungan mereka bukan hanya sekadar pacaran. Mereka berdua telah bertunangan. Hubungan mereka telah berjalan sejak lama. Tidak ada alasan untuk tidak memperrtahankan hubungan itu. Apapun alasannya.
Sementara tubuhnya merayapi batang yang berduri itu.  Fikirannya justru tertuju pada bunga yang lain. Setangkai mawar merah yang dulu membuatnya terpesona. Yang dia temukan justru di tempat yang bungan lain tidak ingin tumbuh besar di sana. Di jalanan. Bunga Mawar itu sangat sulit untuk didekati. Apalagi untuk mengisap Sarinya. Sangat sulit. Kumbang terlalu pengecut untuk itu. Menikmati keindahan bunga mawar itu sudah mampu menghilangkan dahaganya. Memandangi mawar itu tersenyum merekah dan berdiri angkuh sudah cukup baginya.
Aku merindukanmu Mawar. Aku sungguh tidak menginginkan keadaan ini. Kehilangan kehidupanku sendiri. Kehilangan keindahanmu. Aku harus menebus sebuah kesalahan dan dosa di masa lalu. Sekarang aku mungkin sudah kehilangan keakuanku. Kumbang sedang duduk di teras kamar kostnya.  Sambil memandangi kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, berharap menemukan sosok yang dirindukannya melalui jalanan itu.  Sosok yang diharapkannya tidak pernah muncul. Ingatan tentang kecerian perempuan itu. Sikap positifnya dalam memandang banyak hal dan cita-citanya tentang kehidupan yang lebih baik untuk seluruh bangsa. Perempuan itu mengingatkan kumbang pada dirinya di masa lalu. Apakah perempuan itu masih perempuan yang sama dengan yang dikenalnya beberapa bulan yang lalu?  Kumbang begitu merindukannya.
Namun bukan hanya Mawar angkuh itu yang dia rindukan. Teman-temannya, pengurus BEM di Fakultas Hukum, suara megaphone, teriakan orasi, dan ribuan mahasiswa yang memenuhi jembatan layang. Kumbang sudah melewati banyak aksi demonstrasi, sejak dia memutuskan untuk meninggalkan dunianya. Meninggalkan tempatnya merasa berguna sebagai manusia. Manusia yang paham tentang perlawanan terhadap ketidak adilan dan pemberontakan terhadap penindasan. Kumbang merasa inilah saatnya Kumbang harus kembali kesana kedunianya, meskipun hanya untuk sekadar menuntaskan kerinduan.
                                                ***
Kumbang berdiri di depan sebuah gedung berlantai tiga. Menatap tingkat ketiga dari gedung itu. Ada rindu yang ingin dilepaskannya pada gedung itu. Gedung sekretariat BEM fakultasnya yang telah 5 bulan tidak didatanginya. Gedung itu dia tinggalkan 5 bulan yang lalu. Tepat ketika dia mengundurkan diri -meninggalkan tanggung jawabnya- sebagai ketua BEM.  Ada perasaan malu untuk menemui teman- temannya lagi. Namun rindu itu harus terpenuhi. Kumbang melangkah menuju gedung itu dan berniat untuk berkunjung ke sekretariat itu.
Sambutan teman-temannya ternyata masih hangat. Sama hangatnya dengan mereka yang dulu. Tidak ada yang benar-benar berbeda disana. Sekretariat itu masih ramai dengan diskusi-diskusi, bunyi gitar dan asap rokok. Ada perasaan lega dalam diri Kumbang. Hari ini dia menemukan dirinya kembali hidup dan penuh harapan. Ingatan-ingatan tentang masa lalu memenuhi kepala Kumbang, saat dia turun kejalan bersama teman-temannya. Protes terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat kecil. Membunyikan sirine megaphone. Dan menyampaikan orasi. Dan sebuah ingatan tentang perempuan beralmamater orange itu menabrak tubuhnya dengan keras. Kumbang tersenyum.
Setelah cukap lama berbincang-bincang dengan teman-temannya. Kumbang menuju kesalah satu sudut sekretariat-tempat faforitnya-. Kumbang mengambil ponselnya lalu memandanginya lekat-lekat. Hari ini, akhirnya ponsel itu berada dalam genggamannya lagi setelah lima bulan ditahan oleh Sari-tunangannya-. Kumbang meringis, pertengkaran lima bulan yang lalu melintas dengan cepat dalam fikirnya. Pertengkaran hebat saat Sari akhirnya tahu bahwa seorang perempuan bernama Mawar telah hadir di antara mereka. Merebut posisinya dan merebut semua dari kehidupannya, cinta Kumbang. Kenapa namanya harus Mawar? Seolah-olah dia memang diciptakan untuk Kumbang. Fikiran Sari kalap, perasaan takut kehilangan Kumbang berkecamuk dalam benakknya. Dengan kesetanan Sari merebut ponsel Kumbang. Memaki-maki dengan teraikan yang mengerikan. Bukan hanya memekakakkan pendengaran tapi juga perasaan.
“Apa yang diberikan perempuan itu padamu?” Sari berteriak pada Kumbang yang duduk mematung disudut tempat tidur. “Aku sudah memberikan semuanya padamu Kumbang. Semuanya. Apa lagi yang kamu inginkan? Katakan Kumbang. Katakan!” Sari lagi-lagi berteriak karena Kumbang tetap diam. Tak ada penjelasan untuk hal itu.
“Dasar perempuan jalang. Pelacur!” Sari kali ini memaki-maki perempuan yang bahkan belum pernah dia lihat. Kumbang mengangkat kepalanya mendengar kalimat itu dari Sari. Ada perasaan tidak rela dam dirinya mendengar Sari menjelek-jelekkan Mawar.
Dia tidak seperti iti. Pembelaan itu hanya tinggal di dalam hati Kumbang. Dia tidak mungkin membela Mawar. Sari sedang hancur sekarang. Segala hal bisa terjadi. Sari adalah orang yang nekat.
                                    ***
Kumbang menutup matanya, berusaha menghalau adegan yang tergambar di kepalanya itu. Setelah membuka mata, Kumbang meraba-raba ponselnya.berharap dalam hati agar Mawar mengirim pesan untuknya.  Berharap Mawar itu masih menunggunya.  Kumbang yakin Mawar itu masih menunggunya namun ponsel itu justru tidak berdering sepanjan malam. Keyakinan itu goyah.
Apakah benar mawar itu sebegitu angkuhnya sehingga ia tidak ingin menungguku. Apakah mawar itu tidak berusaha mencegahku pergi. Ataukah telah ada seekor kumbang lain yang menemaninya? Apakah aku sama sekali tidak meninggalkan sebuah pesan dalam hidupnya? Benarkah dia sudah benar-benar melupakanku.
Kumbang merasa usahanya untuk berlaku baik pada Sari- agar mendapatkan kembali ponselnya dan kebebasannya- benar-benar sia-sia. Bahkan setelah ponsel itu ada di tanganya dan kebebasan untuk bepergian sendirian -tanpa Sari disisinya- dia tetap tidak dapat menghubungi Mawar. Lalu apa yang diharapkannya sekarang? Apakah kali ini Kumbang harus percaya pada takdir dan menggantungkan harapannya pada takdir? Memohan agar takdir berbaik hati padanya. Kumbang tidak pernah peercaya pada takdir. Tapi sekarang tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu keputusan takdir. Akankah takdir akan berpihak padanya? Ataukah takdir justru telah mengakhiri kisah mereka lima bulan yang lalu, bersama pesan terakhir Mawar yang bahkan tidak sempat dia balas. Kumbang hanya berharap pilihan pertama yang akan terjadi. Semoga saja.
                                                            ***
Berbulan-bulan telah berlalu, berbulan bulan Kumbang berharap. Dan tidak ada tanda-tanda akan terjadi lagi komunikasi diantara dirinya dan Mawar. Kumbang mulai menyadari satu hal. Takdir tidak pernah berharap pada cerita indahnya bersama Mawar. Kumbang memutuskan untuk membunuh harapannya  untuk bertemu Mawar. Kini dia meyakinkan dirinya sendiri untuk melanjutkan perjalanannya bersama Sari saja. Tidak ada gunanya mengharapkan seseorang yang yang mungkin sudah lama melupakan namanya.  Kumbang berjanji pada dirinya sendiri dia akan berhenti mencari tahu tentang Mawar dan melanjutkan kisahnya bersama Sari. Membahagiakan Sari, menebus kesalahannya di masa lalu.
Cinta itu, cinta kepada perempuan yan baru 2 kali ditemuinya itu. Perempuan dengan nama yang sepenuhnya berjodoh dengan namanya. Nama itu akan disimpan selamanya  di dalam sebuah lipatan paling dalam dan rahasia di hatinya. Hingga tak seorangpun tahu. Tak seorangpun dapat menyentuhnya selain dirinya sendiri. Dan lipatan itu bernama kenangan.

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)