Di penghujung Desember tahun lalu

0

“Hai gadis malam!” sapanya


“Kau tidak tau sopan santun ya? Kau tak tau mengetuk pintu dan memberi salam? heh Dasar orang hutan.”


“Kau terlalu sok idealis. Kau tak mengunci pintumu dan kau juga sudah tau aku yang akan datang.” Dia berhasil menyerang balik dan memojokkanku.


“ terserah apa katamu.” Aku merasa tersudut, marah adalah satu – satunya senjataku


“Hahahahaha” dia tertawa terbahak - bahak sambil berjalan keluar pintu dan menutupnya kembali.


“ Permisi? Boleh saya masuk?” suaranya terdengar dari balik pintu lalu kepalanya mengintip dari balik pintu yang terbuka.


“Masuklah “kataku kikuk


“Bagaimana? Kau puas? Apa aku harus minta izin juga untuk duduk?” dia bicara seolah – olah sedang serius padahal dia hanya mengolok – olok keidealitasanku.dan tanpa menunggu aku menjawab dia lalu duduk dan membakar rokoknya. Aku hanya memandanginya dengan kesal. Menyimpan buku yang sedang ku baca dan membuatkannya kopi.





  Namanya wildan,  ahmad wildan, aku menemukannya di sudut – sudut malam, ketika terang menjelma menjadi gelap, hitam, pekat. perkenalan di sebuah kegiatan pelatihan jurnalistik untuk wartawan kampus dimana dia menjadi salah satu pemateri membuat kami berdua dekat dan semakin dekat sampai dia sering mengunjungiku di kost ku.. Dia mengajakku bercerita mengenai banyak hal, tentang kehidupannya, keluarganya dan tentang lagu yang selalu membuatnya rindu pada tanahnya. Dia hanya seorang mahasiswa yang datang dari kampungnya, jauh merantau kekotaku, membawa cita – cita luhur kedua orang tuanya dan ketujuh  orang saudaranya.  Ibunya yang sedang sakit keras dan ayahnya yang kehilangan kedua kakinya karena kecelakaan kerja, itupun ku dengar dari ceritanya sendiri, dikala malam tiba. Karena harinya ia habiskan dengan kuliah dan bekerja.paruh waktu pada subuah perusaan yang bergerak dalam bidang jurnalistik sisa waktuny adia gunakan  untuk mengurusi lembaganya ,mengerjakan tugas – tugas kuliah dan kerjanya yang menumpuk. Entah dari mana datangnya waktu yang ia sisihkan untukku,untukku mendengar ia berkisah.


“ Kau mau ikut denganku meliput? Wildan memulai pembicaraan


“ Kemana? Aku malas “ jawabku cuek sambil melanjutkan bacaanku


“ Apa – apaan kau itu? Baru jadi wartawan, kau sudah malas. Lalu buat apa aku ikut pelatihan?” wildan mencibirku


  “ Baik lah, aku ikut, jika liputanmu di tempat yang menarik.” Aku mulai tegerak dengan sndirannya


“ Meliput kehidupan gepeng di seputaran jalan pettarani, bagaimana? Cukup menarik?”


“Aku ikut, kapan?” aku tetarik dengan objek yang akan wildan liput


“ Hari minggu, dini hari. Bisa?”


“Tentu saja, jemput aku”


“Itu baru wartawan.” Wildan menepuk pundakku lalu tersenyum manis. Ada yang aneh.








***











Dan semua berjalan begitu saja, ketika malam – malam berikutnya kembali mempertemukan kami. Menciptakan kedekatan – kedekat  Ditengah bisingnya deru mesin kendaraan yang lalu lalang di sepanjang jalan mallengkeri ( salah satu nama jalan di makassar ). Dari atas lantai dua rumah kostku,yang katanya nyaman baginya untuk sejenak memejam mata.Terkadang aku mencuri kesempatan untuk menikmati wajahnya, kharismanya yang tersembunyi di balik dekilnya penampilannya. Rambut panjangnya yng tak terurus, yang katanya jarang bertemu dengan sabun pencuci rambut. Kulit cokelatnya dan pakaiannya yang kadang terlihat tidak wajar bagiku. Tapi itulah dia. Wildan, seorang pemuda yang membuatku tergila – gila padanya. Pemuda yang memberiku banyak inspirasi, pemuda yang mengajarkanku berbagi dalam kekurangan dan mengajakku bersyukur dalam kesusahan.





Malam ini  wildan tak banyak bicara. Katanya dia amat mengantuk dan lebih memilih untuk tidur. Aku megamatinya dalam tidurnya. Seperti tak terusik oleh jari – jariku yang menelusuri setiap lekuk – lekuk wajahnya, membelai rambutnya dengan perasaan meluap – luap. Aku menyadari kekagumanku atas dirinya. Aku menyadari akan perasaan ganjil yang kurasakan setiap kali aku berada di sampingnya, setiap kali aku mendengar tawa renyahnya. Setiap kali aku memandangnya kemudian pandangan kami beradu. Dan aku menikmati setiap moment indah itu. K


***


“ wil, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Ini “ kataku menyodorkan secarik kertas pada wildan.


“apa ini?” wildan mengambil kertas itu dari tanganku lalu mengalihkan perh atiannya pada kertas itu. Wildan mulai membaca





Aku pernah bertemu seseorang di salah satu sudut kehidupanku


Sebuah pertemuaan singkat yang melahirkan keakraban yang tak wajar.


 Entah bagaimana aku mampu menyimpulkan akan apa yang sedang tejadi.


 Aku ingin dia mengerti tapi entah dengan cara apa.


 Aku tau tentang luka yang pernah menggoresnya


 Aku tau tentang uka yang pernah menemaninya.


 Dan aku tak tau bagaimana menyembunyikannya.


 Kini saat hari – hariku terlewati tanpanya.


 Maka hampalah yang akan selalu membayang pada setiap langkah, kata dan tingkah.


Aneh.


Sangat aneh.


Dengarkan aku yang ingin mendengarkan aku berkisah.


Biarkan ku katakan tentang perassan aneh yang mengerogoti logikaku


 Mematahkan setiap persepsiku.


 Pada setiap idealisme yang ku anut.


 Setiap pembenaran yang ku anggp benar.


 Tentang standar – standar yang ku bentuk.


 Dan kini akhirnya kau takluk dan semuanya runtuh karenanya


Nah, kini aku masih harus bercerita.


Tantangnya yang berkisah


Pada separuh malamku di sudut kamarku


Yang membiarkanku larut dalam kisahnya


Memperkenalkanku dunianya


Membawakan rasa baru dalam kehidupanku yang kadang – kadang menghampa


Lalu saat dia akan beranjak dariku


Kemana aku harus mencarinya


Sosoknya


Wajahnya


Suaranya


Tawanya


Tapi sudahlah


Aku tak ingin mempermasalahkannya


Biarkan ku lanjutkan langkahku


Jika harus tanpa sepengetahuaannya


Jika harus tanpa pembenaranya


Akan ku lanjutkan kedekatan itu


Kedekatan tak wajar itu


Yang tak mampu ku beri judul


Seperti perasaanku yang tak berjudul


Seperti hubunganku yang tak berjudul





“apa yang kau harapkan dariku, ha? “ tiba - tiba  dia menggenggam pergelangan tanganku dengan erat , memamerkan sifatnya yang kasar. Sudut bibir kanannya memamerkan senyum liciknya amat mengerikan.


“aku…. “ suaraku tercekat, dan akhirnya aku hanya dapat tertunduk, tunduk pada malam dan tatapannya yang menelanjangiku.


“ kau tidak akan menemukan apaapun dalam diri dan hatiku. Karena di sini telah kosong.”dia menunjuk garang ke dalam dada kirinya.


“aku tahu seseorang telah meniggalkanmu karena harta dan kedudukan. Tapi jangan tutup dirimu atas semua orang” emosiku membuncah, aku tak akan pernah rela ketika dia mensederajatkanku dengan gadis yang dulu meninggalkannya karana tak mencintai latar belakang sosial tentang dia yang seorang perokok dan pecandu minuman keras.


“kau tahu itu, dan aku yakin kaupun akan memandangku sebelah mata karena itu, cihh! “ dia meludah tepat diujung kakiku lalu mengisap dalam sisa rokoknya yang telah sekarat dan melemparkan puntungnya ke tembok begitu saja, mematikan baranya dengan kaki telanjangnya.


Aku meringis melihat pemandangan itu,dapat kupastikan telapak kakinya melepuh tapi dia tak bergeming, entah kenapa. Mungkin dia terluka,karna aku dengan sangat sengaja mengorek luka lamanya. Aku tahu berapa besar dia menyimpan rasa terhadap gadis itu.


“kau belum mendangarkanku bicara!” sebuah tamparan telak mendarat di pipinya,tangan kiriku terasa panas, aku terprovokasi terhadap kata-katanya tadi,sebuah kalimat judge yang sama sekali tidak relevan dengan apa yang ada di dalam hati dan pikiranku.


“kau,berani kau lakukan itu padaku heh?” dia menatapku bengis tangan kanannnya menyentuh pipinya,aku tahu tamparanku itu tidak terlalu menyakiti fisiknya,tapi cukup melukai hatinya.


“itu balasan bagimu,yang selalu menyamakanku dengan gadis itu.aku berbeda!  harusnya kau sudah tahu itu” ku tundukkan pandanganku, suaraku melemah aku pasrah,aku ingin mengatakan yang sebenarnya tentang seperti apa perasaan yang kumiliki.hanya saja,budaya bahwa perempuan sangatlah tidak etis jika secara gamblang menyatakan perasaan terhadap laki-laki yang disukainya, maka aku bungkam.sedangkan dia, sepertinya sudah membaca perasaanku dengan jelas seperti tinta hitam di atas kertas putih. Dan dengan licik dia memaksaku untuk mengaku.


“sudahlah. Besok aku tidak akan ke sini” katanya sambil duduk mencoba meredam emosinya sendiri


“kenapa? Karena masalah ini? “ aku merasa menyesal memperlihatkan kertas itu.


“ tidak. Kau terlalu sensitif “ katanya santai


“lalu apa ?” aku tak mampu menyembunyikan perasaan was – was ku


“ aku harus ke kolaka, aku harus meliput.”


“ benarkah? Berapa lama? “


“ tidak sampai setahunlah.” Candanya


“ aku serius. Kau tak bisa sedikit serius? “ aku pura – pura marah


“hahahaha, kau tampak cantik saat cemberut.” Wildan coba menggodaku


“ tapi tak secantik dia, buktinya kau belum bisa melupakannya untuk berpaling pada kecantikanku.” Gumamku dengan suara yang hampir hanya aku yang mendengarnya.


Wildan menoleh padaku sambil membakar rokoknya.


“ apa tadi katamu?”


“tidak, aku tak berkata apapun” elakku


“ baiklah, aku kembali kekampus, isrirahatlah. Besok sebelum berangkat aku akan menelponmu.” Wildan melangkah dan menghilang di balik pintu kamarku.


“ wildan, tunggu,” aku mengejarnya hinnga ke tangga.


“ada apa.” Wildan menoleh


“ berhati – hatilah, jaga kesehatanmu, kurangi rokokmu.” Pesanku


“ j angan larang aku merokok.” Wildan menjawab dengan nada kesal


“aku hanya memperingatkan, sudahah bawakan aku anggrek.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan


“ dasar wanita, apa bagusnya bunga itu?,  tapi akan ku usahakan. Jika aku mengingatnya.” Kata wildan sambil berlalu.


Kembalilah untukku wildan, bukan membawa anggrek, bawa hatimu untukku. Aku berbicara pada diriku sendiri.





***


Kami harus menunda pembicaraan kami waktu itu, malam-malamku untuk sementara waktu harus sepi,ia takkan datang dan berkisah,tak juga aku mampu mendatanginya. Wildan  pergi karena tugas,tugasnya terhadap lembaga yang menaunginya. Berat rasanya ditinggalkan dalam keadaan seperti ini. Perasaanku  yang  belum juga terselesaikan dan perasaanya yang belum juga terjelaskan. Meski dia sering dengan sengaja memhubungiku,via pesan singkat dan sambungan jarak jauh  telepon seluler, itu sama sekali tidak mampu menghalau dan menyingkirkan rindu yang berkecamuk. Aku menghitung hari-hari demi hari,dan tibalah pada hari dimana dia akan kembali, kembali mengisi malam-malamku. Aku rindu dia mengetuk pintu kamarku dan menyapaku dengan sebutan gadis malam,bukan karna aku adalah seorang pekerja seks komersial tapi karena aku sanggup terjaga sepanjang malam,bersamanya.


Akhir desember memang sudah pertengahan musim penghujan, hujan bukan lagi hal yang aneh, tapi entah mengapa hujan malam ini terasa amat beda.ada kekuatan lain dalam hujan kali ini penantianku terasa amat panjang.waktu seperti merayap dengan susah payah.aku benci keadaan ini.tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Semakin larut,semakin deras. Aku baru saja mendapat pesan singkat darinya,seperti katanya mungkin dia tak bisa langsung menemuiku malam ini.hujan memperlambat laju mobil dan sepertinya dia akan tiba di Makassar pukul 03.00 dini hari.sekarang sudah pukul 12 malam,sedetik lagi hari akan berganti sedangkan hujan masih tetap deras menghujam tanah makassar tanpa ampun. Dan aku terlelap dalam tidurku. Aku jatuh pada sebuah mimpi. Mimpi indah tentang wildan.


Sudah pukul 03.30 saat aku sadar.sepertinya aku tertidur amat pulas malam ini,pengaruh hujan.segera aku meraih telpon genggamku hendak menelponya mungkin dia sudah ada di sekitar makassar.- 7 panggilan tidak terjawab tulisan itu tertera dilayar ponselku.pukul 02.15-02.30.dari dia.cepat-cepat aku menelponya,besok mungkin kami akan bertemu di kampus,hanya saja aku tidak punya kesabaran untuk menanti hingga esok.


Berkali-kali aku coba untuk menghubunginya,hujan juga nampak telah lelah.sedikit demi sedikit dia mereda,bau tanah yang basah menyeruak kedalam penciumanku,dia tetap tak mengangkat telponku,mungkin dia tertidur karena kelelahan,tampaknya kami memang di takdirkan untuk bertemu dan berkomunikasi esok hari.aku untuk memutuskan untuk kembali membenamkan wajahku kedalam bantal gulingku.aku terlelap.





***


“dasar jahanam kau!!! Kau tega meninggalkanku,aku benci padamu!” aku mengenggam erat secarik kertas lusuh yang telah kubaca berkali – kali, satu – satu kenangan yang menyakinkanku tentang perasaan kami yang sama.sebuah surat yang dia tulis dengan tinta hitam yang kini meleleh. Karena air mataku yang jatuh di atasnya,setiap kali aku membacanya. Betapa dengan mudah ia mengatakan apa yang selama ini kutunggu-tunggu.sebuah pernyataan bahwa ia pun menginginkan keberadaanku.lalu apa gunanya jika sekarang ia tak ada disini untuk mendengarkan jawaban atas permintaannya,bahwa aku pun mencintainya.


Aku berdiri, beringsuk dari tempatku diam, bukan sepenuhnya diam, aku mengingatnya, mengenang setehun kepergiaannya. Mengenang kisahnya. Ku fikir dia akan senang saat aku datang mengunjunginya. Membawakan bunga mawar yang sebenarnya tidak begitu dia sukai, kini ku langkahkan kakiku dengan tekad yang bulat, tahun ini untuk pertama kalinya aku akan menunjunginya makam wildan.


Pemakaman umum kota makassar tampak sepi. Aku memaksakan langkahku yang terasa amat berat mendekati sebuah makam.





Ahmad Wildan bin rahman


Lahir 23 mei 1990


Wafat 27 desember 2009





Batu nisan itu seperti menghantam kepalaku, hatiku tiba tiba mengkerut,  paru – paruku menyempit dan nafasku tersengal. Perlahan – lahan tangisku pecah di hadapanya. Ingatan tentangnya menjadi semakin nyata, berpendar di kepalaku dan membuatku tak sanggup untuk tidak memanggil namanya.


“ wildaan… kak wildan.. aku merindukanmu. Aku selalu merindkanmu” rengek ku lalu ku jatuhkan tubuhku di pusaranya. Memeluk nisan yang mewakili keberadaanya. Entah apakah dia masih ada dalam gundukan tanah di depanku, ataukah dia telah ada di surga sana. Melihatku dan menertawai tindakan konyolku ini. Entah apa yang membuat pintu di hatiku ini seakan tertutup rapat untuk orang lain, untuk mencoba menggantikannya.


“ oia, aku lupa. Ini ku bawakan bunga mawar, aku tau. Kamu tidak menyukai mawar, bahkan kau tak suka bunga jenis apapun, kau kan tidak romantis. Iya kan??” ku coba menghalau perasaanku. Ku coba melawan sakitku. Dengan berbicara dengan nisan yang tak mungkin membalas pertanyaanku. Yang tak mungkin mencubit lenganku, seperti yang dilakukan wildan saat aku mengejekknya. Ku letakkan mawar itu pelan di atas gundukan tanah yang memisahkan jasad kami.kembali memelukknya mencoba menyatukan perasaan kami bedua mencoba merasakan kehadirannya di sampingku.


Kecelakaan mobil itu merenggutnya dariku,dia tak akan pernah kembali dia tak memenuhi janjinya untuk kembali menemani malam-malamku,menceritakan kisah-kisahnya. dia, hanya seorang pembohong .lalu mengapa air mataku begitu deras mengiringi kepergiannya bahkan setelah setahun berlalu.  Aku membencinya.


Dan inilah surat itu, surat yang membuatku bertahan untuk tetap menjaaga perasaan aneh yang kini berani kuberi judul cinta. jika kalian ingin tahu apa isi suratnya,bacalah……..





“aku tak tau harus memulainya dari mana.


Kau tau aku bukan orang yang romantiskan, aku bahkan lupa membawakan anggrek yangkau minta. Aku menulis ini  semata mata ingin membalas tulisan yang tempo hari kau berikan padaku. Aku tak tau harus menanggapai kata- katamu dalam kertas itu seperti apa. Aku, saat itu aku ragu dan aku tak tau harus berbuat apa.kini saat aku berada jauh dari mu aku merasakan hal yang koyol, kau tau aku merindukanmu. Lucu memang karena aku pernah membentakmu karena masalah ini. Sekali lagi ku katakan aku hanya tak tau bagaimana menanggapinyas. Kini saat aku berada sudah tak jauh lagi darimu aku bahkan  tak bisa menanti hari esok untuk meberitahumu,aku benci karna ternyata aku menginginkanmu meski kutau kau mungkin sama saja dengan yang dulu,kau harus tau,aku menginginkanmu gadis malamku.”





                                                                                    Kolaka menuju makassar


 27 desember 2009


Dini hari.


Wildan ahmad





 Sepucuk surat yang tak ingin ku sebut surat, secari kertas lusuh yang tak wangi, tak berwarna. Tapi apa lagi yang bisa ku kenang selain tulisan ini? Kertas ini? Ada yang mengganjal di hatiku kalimat terakhir ddari surat itu. Bahwa aku mungkin sama saja dengan yang dulu. Yang memandangnya sebelah mata. Aku ingin mengelak, aku ingin membuktikan padanya. Aku berbeda. Kini dia pegi membawa fikiran itu fikiran bahwa aku tak dia tak pantas untukku. Persepsiinya tentang ku yang keliu. Seandainya dia bisa melihatku, seandainya penantiaan ku terhadapnya, kesetiaanku mencintai kenangan tentangnya, kesetiaanku mencintai dia tanpa jasad maupun jiwanya.dan seandainya dia akulah yang merasa beruntung mengenalnya,karena aku mencintainya sebagaimana adanya dirinya tanpa alasan apapun.di penghujung desember  tahun lalu, saat aku menemukannya di sudut – sudut malam, saat aku membelai wajahnya dalam tidurnya, saat aku mendengarnya berkisah, saat aku mendengarnya bernyanyi, saat aku mendengar tawa renyahnyahingga desember tahun ini, dimana aku hanya dapat mengenangnya, aku hanya dapat mencintainnya dari jauh, saat aku tak mampu lagi menggapainya, saat aku hanya mampu menangis saat merindukannnya dan saat aku hanya mampu mengirim do’a unntuknya,  aku masih sama, dengan satu harapan. MENANTINYA BANGUN DARI TIDUR PANJANGNYA. Atau kah akan ada kehidupankan kedua, kesempatanku menyampaikan apa yang tak pernah sampai.




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)