Makassar hujan, tidak ada yang istimewa sebenanrnya. seperti biasa, titik-titik air itu jatuh dari awan membasahi apapun yng dijumpainya pertama kali.
kemarin, pasar sentral terbakar, semua warga kota makassar sudah tahu, ada ribuan orang yang harpannya hangus berssama lapak dan kios mereka. ada hujan yang jatuh dipelupuk mata ribuan orang itu.
Penyesalan terjadi, kenapa hujan tidak turun kemarin? membantu memadamkan api yang sangat sulit untuk ditaklukkan. namun ini adalah kehendak. kehendak alam. Alam ingin saya memaknai hujan kali ini lebih dalam. bukan sekadar rintiknya, bukan sekadar basah, atau dingin yang tiba-tiba bersambut.
Hujan kali ini , saya benar-benar akan memaknainya lain. saya ingin melihatnya lebih dalam ke hati. hujan kali ini datang untuk meredam amarah. amarah mereka yang terluka oleh bencana yang entah dibuat oleh siapa. tuhankah? atau keserakahan kah?
Hujan kali ini saya ingin memaknainya berbeda, seolah datang untuk menyejukkan ribuan fikiran yang datang hari ini, menjumpai walikota makassar yang baru. bertukar fikiran. tuhan ingin fikiran yang ditukar adalah pikiran yang sejuk.
Hujan kali ini saya ingin memaknainya berbedaa,
hanya saja saya tidak ingin hujak kali ini untuk mencuci, mencuci tangan orang-orang yang senang dibalik musibah ini.
saya tidak ingin hujan kali ini untuk mencuci dosa mereka yang berdiri dibalik api yang maha dahsyat ini.
saya ingin..
hujan kali ini untuk membawa sabar..
hujan kali ini untuk mengingatkan...
bahwa hujan kali ini membawa makna yang lain. bahkan , langit pun. ingin menyampaikan pesan....
