jangan pandang sebelah mata

0


`Jangan Pandang Sebelah Mata’




Kepada kawan-kawan yang selalu memandang kami dengan sebelah mata. Mungkin hanya satu kalimat ini yang dapat ku persembahkan. “kalian tidak akan pernah mengerti sampai kalian merasakan apa yang kami rasakan selama ini.”

Kami yang selalu disalahkan pada setiap kerusakan yang terjadi, kami dijadikan kambing hitam. Kami yang berjuang dianggap penghianat. Kami yang mengorbankan jiwa dan raga bukan hanya demi memperjuangkan keadilan tapi juga untuk sebuah kebebasan. Lalu apa yang kalian berikan untuk sekadar mengapresiasi kami, kawan?

Kami tak meminta sanjungan, kami tak memohon pujian dan kami tak mengharapkan decak kagum. Kami hanya ingin supaya kalian melihat jauh kelangit yang luas. Kawan, langit begitu luas, kenapa tidak dengan pikiranmu?

Seandainya saja kalian mau mendengarkan aku marah dan memaki, aku akan mengacungkan telunjuk tepat satu senti didepan mata kalian dan berkata

“Tau apa kalian tentang peluru karet yang menembus kulit kami, tau apa kalian tentang gas air mata yang seakan membakar kulit kami, yang menggerogoti tubuh kami. Tau apa kalian tentang pukulan tongkat aparat-aparat keparat itu, tau apa kalian, tau apa kalian tentang apa yang kami perjuangan, kalian hanya tau duduk manis didepan TV, menyaksikan kami, memberikan komentar-komentar “pahit” yang men-jugde.”

Rahman berjalan terpincang-pincang, kaki kirinya menjadi landasan mulus peluru karet milik aparat-aparat keparat itu. Dedi meringis menahan perih di wajahnya, kelopak matanya tertutup, dan terpaksa dipapah oleh  Dewa kawan yang lain yang kondisinya tak kalah memprihatinkan.

Berikutnya ledakan-ledakan senapan berganti dengan dentuman-dentuman bunyi gas air mata yang dilesapkan oleh para aparat-aparat yang sama bejatnya dengan setiap otoritas yang ingin menguasai manusia. Gas air mata adalah senjata paling ampuh yang pernah kulihat, yang membuat barisan para demonstran berhamburan. Massa berteriak, mengaung, meringis, memaki. Derap langkah kaki yang berlari, menghujam bumi Pettarani (salah satu nama jalan di makassar). Para demonstran berlari menghindari peluru-peluru karet yang membabi buta, melindungi wajah dan mata dari senjata para fasist pecundang (gas air mata).

Hatiku piluh, lalu membatu, membentuk gumpalan-gumpalan benci pada aparat-aparat keparat itu walupun kami sadari bahwa mereka bergerak atas nama perintah atasan dan selalu begitu (menjadi gembalaan) demi mempertahankan kekuasaan, aku mematung melihat kawan-kawanku tumbang satu persatu, kalah oleh peluru karet, takluk oleh gas air mata, tapi itu hanya sesaat, ketika rasa sakit mereka kembali terobati oleh api semangat perjuangan yang membara, mereka kembali berdiri mengepalkan tinjunya jauh melambung kelangit, meneriakkan perlawanan demi sebuah kebebasan “kalian memang pecundang, dasar pembunuh” sambil berlari menggenggam batu di tangan dengan harapan bisa menghancurkan kepala para aparat bangsat, fasis, anjing, babi itu. Apakah kawan-kawan yang melempar itu akan kembali kalian persalahkan, atau kalian hanya melakukan aksi damai yang terpimpin dan tersentral yang tak jauh beda dengan supporter bola yang sedang kampanye? Tidak kawan, tidak…. Kami takkan pernah sepakat dengan kalian, itu sama saja dengan memberi obat pada pasien yang sudah sekarat. Kami  hanya melakukan sebuah perlawanan, karena kami bukan individu yang mudah takluk dan tunduk dan tidak juga berpatokan dengan perintah para pemimpin, kami hanya menyalurkn hasrat, menuntut hak, dan untuk sebuah kebebasan!

Entah masyarakat kita ini terlalu naïf atau mereka sengaja menutup mata dan telinga dari kebenaran bahwa para mahasiswa yang berdemonstrasi itu untuk siapa? Mereka tidak pernah menyadari bahwa hal ini kami lakukan untuk sebuah keadilan bagi masyarakat yang selalu diexploitasi tenaganya yang digantungkan haknya, yang ditipu mentah-mentah oleh Korporasi dan Negara. Dan mereka mahasiswa-mahasiswa pengejar Ijazah dan sertifikat, dan para pemburuh rangking, yang selalu mengeluh lewat status-status tak pentingnya di jejaring sosial Facebook. Mengeluhkan tindakan kekerasan dan kerusuhan kami, mengeluhkan kemacetan. Dan mereka tidak pernah mengeluhkan tindak kekerasan para aparat-aparat keparat itu, Karena mereka tidak tahu yang sebenarnya. Mereka terlalu gengsi, terlalu takut berkeringat, terlalu takut riasan-riasan mahal mereka luntur, takut merusak dan meleceti pakaian dan sepatu bermerknya  yang diproduksi oleh korporat- korporat bangsat dan kalian hanya bisa menikmati tanpa kalian sadari kalian telah tereksploitasi dan terhegemoni oleh iklan- iklan tv yang sebenarnya sangat tidak berguna, dalam pikiran kalian hanya ada satu pertanyaan “SUDAHKAH ANDA CANTIK HARI INI?” hahhhahahhaha tai itu semua…… dan satu lagi, mereka lupa cara untuk melupakan dan membuang jauh- jauh rasa TAKUT. Lalu pantaskah kalian di sebut sebagai manusia? Tidak, kalian hanya pantas disebut ROBOT, atau disebut GEMBALAAN yang hanya bisa patuh dan tunduk!

 “Kami hanya ingin menyampikan curahan hati kami kepada ayahanda kami yang katanya terhormat itu, apa tujuan kalian menghalangi kami. Keparat?” pekik Doni sambil melayangkan batu sebesar kepalan tangannya, mendarat mulus disalah satu tameng aparat itu.

            “Kalian menutupi jalan kami, kami ingin membuka jalan, kmi ingin bertemu dengan bapak terhormat itu, tai, serang!, suara Rahman menggelegar. Puluhan batu melayang menghujani aparat-aparat keparat, pecundang yang kini tak berdaya, bersembunyi dibalik tameng berlukiskan identitas mereka, mereka yang selalu ingin pamer.

            Gas air mata kembali beraksi membubarkan para demonstran, memukul mundur, menyapu rata seluruh yang ada disekitarnya bahkan masyarakat yang sedang melintas juga menjadi sasaran. Namun entah mengapa, doktrin apa yang mereka terima sehingga mereka memaafkan pemilik senjata pecundang itu. Apa karena mereka takut pada tulisan besar di kaos aparat keparat, atau yang ditamengnya atau mobilnya? Dasar tukang pamer.

            Para demonstran dipukul mundur dengan gas air mata dan peluru karet, bukan oleh pecundang-pecundang yang bersembunyi dibalik tameng itu. Para demonstran kini kembali kekampus membawa rasa sakit, kecewa dan harapan. Apakah kalian akan tetap berdiri diam di situ atau ikut menjadi bagian dari kami mengangkat tangan jauh melambung ke langit,  melakukan perlawanan, menyanyikan lagu-lagu perjuangan, bukan hanya untuk kedilan tapi juga untuk kebebasan.



Didedikasikan kepada kawan-kawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, materi, ruang dan waktu demi menciptakan perubahan.

PANJANG UMUR PERLAWANAN TERHADAP KETIDAK ADILAN

PANJANG UMUR PERLAWANAN PARA MAHASISWA YANG INGIN BEBAS!

                                                                                                            Makassar , 20 Oktober 2010

                                                             





Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)