(Bukan) Sudra dan Brahmana (#7)

0


Surat Dari Mileh

Aku
sedang di desa Entah. Malam ini, dingin dan dengan keterbatasan
komunikasi. Aku sedang berbaring membaca sebuah cerita tentang Api Awan
dan Asap. Tiba-tiba seekor merpati putih singgah di terali jendela
kamarku. Di jatuhkannya sebuah benda putih di lantai batu kamarku.
Itu sebuah surat, dari Mileh.



Begini katanya,

Kepada Makhy Saya telah membaca beberapa tulisanmu, dan saya fikir, ada beberapa hal perlu saya bantah. Lagi.

Makhy, setiap orang punya rasa takut. Saya punya rasa takut, dirimu
juga. Itu wajar dan sangat manusiawi. Saya, dirimu dan kita semua adalah
manusia. Dan begitulah fitrah kita semua. Bersyukurlah untuk itu.
Stratifikasi hanyalah alasan pembenar untuk melegitimasi eksploitasi
manusia yang satu terhadap yang lain. Dan kau kira saya suka itu, Makhy?

Saya tak ingin memberimu contoh-contoh atau sosok-sosok yang keren.
Saya tidak punya sosok yang keren tuk dijadikan contoh perlawanan,
seperti Kurt Cobain, Jim Rotten, Sid Vicious, Pramoedja Ananta Toer, dan
lain sebagainya yang banyak digandrungi anak-anak muda seumuran kita,
tentang bagaimana gaya hidup yang keren. Saya menolak mereka hadir dalam
sederetan wali untuk saya ikuti ataupun pedomani.

Sejak
beranjak remaja saya belajar De Kinesh, kami lebih mirip segerombolan
murid Shaolin yang dandannya culun. Biarlah seperti itu. Namun, ini
persoalan jalan hidup Makhy, prinsipil. Saya harap kamu paham bahwa
saya, Kamu, dan semua manusia hari ini merupakan hasil dari proses di
hari kemarin.Di De Kinesh saya belajar persoalan sikap, komitmen,
konsistensi, dan tetap Fight.

Hei Makhy, kau masih membacanya bukan?

Di suatu waktu yang lain, saya bersama kawan-kawan punya kelompok
belajar sendiri di Padepokan, Na Demon, kedengarannya seperti
perkumpulan penganut setan?. Hahaha tidak Makhy, lain kali saya ajak kau
ke sana.

Di situ saya belajar banyak hal, melalui praktek, dan
menggugurkan beberapa teori usang. Dan membentuk karakterku sendiri,
saya ingin bergumul dengan tanah. Berlawan dengan api. Berlaku seperti
air. Dan keberadaan seperti angin.

Yang dikatakan kebanyakan
manusia tentang saya, tidaklah benar. Jauh, di dalam Mileh ada seorang
penakut, banyak hal yang Mileh takuti. Termasuk kalau Makhy khawatir,
Makhy tak betah dan meninggalkan. Ah, sungguh saya takut Makhy.

Itu saja Makhy, Semoga kau mengerti.

Aku menggosok hidungku, usai membaca surat yang dikirim Mileh. Entah
apa yang berusaha ku seka. Merpati pengantar surat sudah pergi, aku lupa
mengucap terima kasih. Tak apa, sebab merpati itu tidak perlu melihatku
meneteskan air mata. Tidak, aku tidak sedih. Ini haru.

Hei Mileh, dari dinginnya malam di desa Entah, aku rindu..

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)