Aku sedang kalut. Ini tentang Mileh,
dan aku tak bisa tidur. Mileh sedang turun perang, membantu sebuah suku
minoritas yang memaksa bertahan di dalam Kota, dengan adatnya sendiri.
Namanya Suku Kecil, Bambu Gigi Gajah nama kampungnya. Sekira 250 orang
jumlahnya. Dan raja Kota ingin merebut tanah Suku Kecil, mereka tentu
tak mau. Mereka menolak, mereka bertahan. Beberapa Ksatria ada di sana
membantu Suku Kecil. Mileh ada di sana. Dia bukan bagian dari Suku Kecil, tapi Milehku adalah Manusia, dia Brahmana yang berjiwa ksatria, dan berlaku seperti Sudra.
Ah, Mileh, aku khawatir. Sebagai perempuan yang mencintaimu, aku
mengkhawatirkanmu. Aku khawatir kau kena tembak, sedang senjatamu hanya
batu dan semangat, ditambah restu dan doaku. Semoga mampu melindungimu.
Tapi Mileh, sebagai manusia, sebagai seorang Sudra, aku mendukung
langkahmu. Sebab perang harus dikumandangkan pada penindasan, aku bangga
Mileh. Sebagai manusia, aku mendukungmu sepenuhnya.
Mileh,
berjanjilah padaku, pastikan kau selamat, kembali dari perang untuk
mendekapku. Pastikan batumu sampai kepada kepala mereka, kepala para
penjaga makan firaun berkhakis.
Mileh, pastikan kau tak kekurangan
tenaga dan nutrisi bagi tubuhmu, jiwa dan hatimu. Hei Mileh, aku
perempuanmu yang khawatir, namun aku juga manusia sepertimu. Kita punya
Pacce*.
Mileh, siang nanti, saat matahari sudah condong ke barat,
kembalilah kemari, bawakan aku sebuah kabar gembira, tentang
kemenangan. Kemenangan melawan tirani, kemanangan melawan penindasan.
Mileh, pastikan tanganmu kuat melempar batu, pastikan bencimu membara,
merah. Sehingga kita, dan seluruh Suku Kecil tak perlu menangis, tak
perlu kehilangan tanah, tak perlu kehilangan rumah, tak perlu kehilangan
harkat dan martabat sebagai manusia.
Mileh, siang nanti, saat
peluh membasahi seluruh jubah dan tubuhmu, kembalilah kemari. Biarku
seka peluh di keningmu. Biar ku kecup lelah di matamu untuk ku dekap,
untuk ku kecup di pipi kirimu, untuk ku bisikkan betapa aku cinta dan
bangga padamu.
Ah Mileh, bersama Surya dan anak-anak cahayanya yang semburat malu subuh ini, rinduku turut terbit, hangat, penuh kekuatan.
*Pacce : Bahasa suku Makassar, artinya belas kasih
