Pertama-tama rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Maha, atas
cinta yang besar lewat semesta. Terima kasih atas laut, bau asinnya yang
segar, pasir di pantai, angin dan gemuruh ombak, bau rumput laut, tanah
basah dan cengkeh.
Yang kedua rasa haru, Terima kasih atas
masjid-masjid yang dapat disinggahi kapanpun dan tentu saja terima kasih
kepada orang-orang yang mendirikannya sepanjang jalan.
Rasa hormat, Terima kasih untuk tidur yang nyeyak di dua rumah berbeda,
di Jeneponto dan Bulukumba, kak Edi dan ka Wawan, Ummi yang baik hati.
Rasa bahagia, Terima kasih kepada semesta atas pernikahan kak Mao,
Saudara laki-lakiku, dia membuktikan, tidak semua cinta yang dijalani
lama akan berbuah sia-sia. Dia bisa. Dan semoga selalu bahagia.
Rasa gembira, Terima kasih untuk Bundara Phinisi Bulukumba dan Cafe
Galau yang tidak berhasil membuat galau, terima kasih untuk 153 langkah
kakinya (random) diameter diukur berdasarkan got. Untuk, 147 langkah
kakiku (random) diameter undakan ke dua. Terima kasih untuk kesempatan
menjadi kanak-kanak kembali.
Lebih dari semua itu, dengan segala
rasa syukur, rasa hormat, rasa bahagia, gembira dan sayang yang dalam,
TERIMA KASIH, KARENA YANG MENDAMPINGI PERJALANAN KEMARIN ADALAH DIA
(hhhy)
Bulukumba, 02.38, 14 Oktober 2015
