Perjalanan Rasa (jilid 2)

0
Sabtu, 28 November, pukul 02.31 kami
kembali melakukan perjalanan rasa. Perjalan rasa jilid 2. Bukan sekadar
menyakinkan diri. Perjalanan kali ini untuk mengenali diri.

Tidak
begitu jauh, tidak ada bau asin laut, tidak ada bau cengkeh. Tapi ada
kami, yang sudah mengenal beberapa kebiasaan, kesukaan, kebencian. Ada
banyak pengertian, penerimaan, dan tunas-tunas harapan. Mimpi-mimpi.




Perjalan kali ini memakan waktu cukup lama, meski jarak tak begitu
jauh. Terima kasih pada warung lesehan nasi campur dan warung kelontong
di Maros. Ada toleransi di sana. Ada saya yang mudah mengantuk, ada dia
yang memahami. Ada mata yang tertutup, ada mata yang mengamati. Ada jiwa
yang kosong, ada jiwa yang mengisi semangat. Ada dia, ada saya.




Terima kasih kepada kepiting bakau, perahu kecil, dan ikan yang dapat
melompat, berjalan dan berenang. Terima kasih pada dermaga, vandalisme,
angin barat, dan ombak.



Perjalanan kali ini soal berkenalan
dengan rumahnya. Terima kasih pada rumah yang luas dengan banyak
anak-anak di dalamnya, yang dibesarkan oleh pendidikan, yang dibesarkan
oleh proses belajar. Menapak tilas rumah tanpa bangunan yang telah
menempanya, menanamkan proses padanya.

Terima kasih pada
saudara-saudaranya, yang menerka, menebak, berdoa, berharap untuk
kebahagiaannya. Dan saya, menyangkal dan mengaamiinkan beberapa di
antaranya. Dalam diam, tentu nya. Saya ingin mengenal nya dari mata
saudara-saudaranya.



Hei, kau, mari menyederhanakan rindu dengan
bertemu, mari menyederhanakan amarah menjadi pengertian, mari
menyederhanakan lelah dengan istirahat, mari menyederhanakan harapan ke
dalam doa. Dan mari mewujudkan mimpi dengan usaha.



hhyy,
Pangkep, 28 Nov' 15

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)