Sudra dan Brahmana (#8)

0

Aku sedang kalut. Ini tentang Mileh, dan aku tak bisa tidur. Mileh sedang turun perang, membantu sebuah suku minoritas yang memaksa bertahan di dalam Kota, dengan adatnya sendiri. Namanya Suku Kecil, Bambu Gigi Gajah nama kampungnya. Sekira 250 orang jumlahnya. Dan raja Kota ingin merebut tanah Suku Kecil, mereka tentu tak mau. Mereka menolak, mereka bertahan. Beberapa Ksatria ada di sana membantu Suku Kecil. Mileh ada di sana. Dia bukan bagian dari Suku Kecil, tapi Milehku adalah Manusia, dia Brahmana yang berjiwa ksatria, dan berlaku seperti Sudra.
Ah, Mileh, aku khawatir. Sebagai perempuan yang mencintaimu, aku mengkhawatirkanmu. Aku khawatir kau kena tembak, sedang senjatamu hanya batu dan semangat, ditambah restu dan doaku. Semoga mampu melindungimu.
Tapi Mileh, sebagai manusia, sebagai seorang Sudra, aku mendukung langkahmu. Sebab perang harus dikumandangkan pada penindasan, aku bangga Mileh. Sebagai manusia, aku mendukungmu sepenuhnya.
Mileh, berjanjilah padaku, pastikan kau selamat, kembali dari perang untuk mendekapku. Pastikan batumu sampai kepada kepala mereka, kepala para penjaga makan firaun berkhakis.
Mileh, pastikan kau tak kekurangan tenaga dan nutrisi bagi tubuhmu, jiwa dan hatimu. Hei Mileh, aku perempuanmu yang khawatir, namun aku juga manusia sepertimu. Kita punya Pacce*.
Mileh, siang nanti, saat matahari sudah condong ke barat, kembalilah kemari, bawakan aku sebuah kabar gembira, tentang kemenangan. Kemenangan melawan tirani, kemanangan melawan penindasan. Mileh, pastikan tanganmu kuat melempar batu, pastikan bencimu membara, merah. Sehingga kita, dan seluruh Suku Kecil tak perlu menangis, tak perlu kehilangan tanah, tak perlu kehilangan rumah, tak perlu kehilangan harkat dan martabat sebagai manusia.
Mileh, siang nanti, saat peluh membasahi seluruh jubah dan tubuhmu, kembalilah kemari. Biarku seka peluh di keningmu. Biar ku kecup lelah di matamu untuk ku dekap, untuk ku kecup di pipi kirimu, untuk ku bisikkan betapa aku cinta dan bangga padamu.
Ah Mileh, bersama Surya dan anak-anak cahayanya yang semburat malu subuh ini, rinduku turut terbit, hangat, penuh kekuatan.
*Pacce : Bahasa suku Makassar, artinya belas kasih
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)