(Tidak) Sengaja Berkunjung.
Mileh tidak berkuda kepadepokan atau saat menemuiku di rumah
persinggahan. Kudanya, Spoky sakit dan harus dirawat. Hari itu, sedang
cerah, aku berencana pulang ke desa Entah. Mileh juga akan pulang ke
kampungnya. Aku memutuskan untuk mengantarnya dengan kudaku, Si Merah.
Tidak pernah kurencanakan, akan singgah di rumahnya. Saat tiba di depan
pagar, harusnya aku langsung melanjutkan perjalanan, tapi Mileh
terlanjur mengatakan pada bapaknya yang sedang duduk di beranda bahwa
dia diantar olehku.
"Assalamu Alaikum, pak, saya diantar Makhy," katanya pada bapaknya.
"Assalamu Alaikum, pak, saya diantar Makhy," katanya pada bapaknya.
"Masuklah dulu," katanya padaku.
Dan dengan
segala perasaan cemas dan tidak percaya diri aku masuk, menyentuhkan
kaki kananku di dinginnya keramik lantai rumahnya
Aku disambut oleh dua orang malaikat berwujud bocah berusia dua tahun, entah lebih entah kurang. Mereka berdua berdiri berjejer di pintu. Aku sudah mengenalnya sebagai Abir dan Nafi, lewat cerita-cerita yang dibagi Mileh. Mata mereka berbinar menatapku, mereka seperti menyambutku, aku tidak lagi cemas, aku tidak lagi tak percaya diri. Tatapan dua Malaikat itu menguatkan.
Aku disambut oleh dua orang malaikat berwujud bocah berusia dua tahun, entah lebih entah kurang. Mereka berdua berdiri berjejer di pintu. Aku sudah mengenalnya sebagai Abir dan Nafi, lewat cerita-cerita yang dibagi Mileh. Mata mereka berbinar menatapku, mereka seperti menyambutku, aku tidak lagi cemas, aku tidak lagi tak percaya diri. Tatapan dua Malaikat itu menguatkan.
Aku duduk dikursi ruang keluarga, mengambil jarak agak jauh. Beruntung, ibu Abir, memanggilku ke dekatnya. Aku semakin percaya diri. Aku merasa di rumah sendiri. Terlalu cepat? Entahlah.
Ayah Abir, kakak Mileh mengajak bicara, aku senang. Mereka ramah. Bapaknya seorang pendiam. Aku rasa begitu, dia tegas dan berwibawa. Aku hormat. Ibunya, keras dan juga tegas, itu gambaran pertamaku. Tapi aku suka saat dia tersenyum, keduanya.
Ada kasih sayang orang tua yang
hangat mengalir lewat senyum mereka. Kelak aku ingin memanggil mereka
bapak dan mamak, seperti Mileh memanggil mereka.
Waktuku banyak ku habiskan dengan Abir dan Nafi, kami terasa akrab. Serasa dekat. Kami bermain dengan seluruh mainan mereka, mengabsen satu per satu keluarga besar Mileh lewat foto keluarga. Kami banyak tertawa bersama. Aku menyayangi kedua malaikat kecil itu. Terasa Abir sedikit malu-malu tapi suka mendekatiku, Nafi justru tidak rela aku pulang saat berpamitan. Dia menangis. Aku ikut sedih.
Waktuku banyak ku habiskan dengan Abir dan Nafi, kami terasa akrab. Serasa dekat. Kami bermain dengan seluruh mainan mereka, mengabsen satu per satu keluarga besar Mileh lewat foto keluarga. Kami banyak tertawa bersama. Aku menyayangi kedua malaikat kecil itu. Terasa Abir sedikit malu-malu tapi suka mendekatiku, Nafi justru tidak rela aku pulang saat berpamitan. Dia menangis. Aku ikut sedih.
"Sering-seringlah kesini," pesan terakhir bapak Mileh saat aku berpamitan.
Ku cium tangan dua orang yang
telah membesarkan Milehku, hingga dia kini seperempat abad. Diam-diam
aku berterimakasih kepada mereka. Telah menghadirkan Mileh di dunia ini.
Aku pulang ke desa Entah membawa rasa bahagia dan syukur, ah Rindu turut serta...
Aku pulang ke desa Entah membawa rasa bahagia dan syukur, ah Rindu turut serta...
