Terjebak antara makan dan belajar, sekolah atau bekerja. Sebagian besar
dari kalian mungkin tidak perlu repot-repot memikirkannya. Punya ayah
dan ibu dengan pendapatan tetap. Atau kakak yang sudah lebih dulu sukses
sehingga bisa pasang badan atau gesek kartu saat kalian butuh apa-apa.
Tapi tidak dengan saya yang harus bergelut dengan pilihan menjijikkan
itu. Di saat kalian bingung dengan pilihan black canyon atau starbucks
untuk menghilangkan penat pasca proposal atau kerja sripsi.
Saya masih harus berfikir harus makan apa hari ini sekadar menambah
energi agar tubuh tetap tegap untuk duduk menganalisa segala tetek
bengek yang ku saya butuhkan untuk instrumen penelitian. Dan sialnya
lagi, saya sebagai anak sulung harus pura-pura tegar melihat adik
bungsuku harus memilih antara menahan lapar agar tetap bisa bersekolah,
atau mengeluh pada ayahku lalu diminta berhenti sekolah.
Saya dan
adik ku memang sama-sama punya tekad dan kemauan yang keras. Untuk
menjadi manusia berpendidikan sesuai pandangan masyarakat. Sayangnya.
Sayangnya, sayang sekali, saya sebagai anak sulung tidak bisa berbuat
apa-apa untuk adik ku. Sekadar meringankan bebannya. Dan di sinilah
sata terjebak lagi, antara lapar atau belajar. Rasanya, saya ingin
mengurungkan lagi niat ku untuk menyelesaikan studi ini. Rasanya tiga
huruf gelar sarjana di belakang namaku kelak itu tidak ada artinya jika
harus mendengar adik ku kelaparan.
Saya sekarang hanya memiliki
dia, adik ku. Ayahku sudah di miliki oleh istri barunya itu. Adik ku
yang kedua sudah berkeluarga. Kini tinggal saya dan sibungsu, yang
seharusnya ku topang. Beberapa bulan lalu saya merasa takabur,
meninggalkan pekerjaanku agar dapat menyelesaikan kuliah. Sekarang? Saya
justru makin pesimis. Takut tak sampai garis finish. Entah karena
terlambat waktu, tak mampu bayar, mati kelaparan, atau mati stressing
adik ku yang masih saja pura-pura tegar. Sepertinya, sekolah memang
bukan untuk kami yang miskin.
