Yang miskin dilarang sekolah

0
Terjebak antara makan dan belajar, sekolah atau bekerja. Sebagian besar dari kalian mungkin tidak perlu repot-repot memikirkannya. Punya ayah dan ibu dengan pendapatan tetap. Atau kakak yang sudah lebih dulu sukses sehingga bisa pasang badan atau gesek kartu saat kalian butuh apa-apa. Tapi tidak dengan saya yang harus bergelut dengan pilihan menjijikkan itu. Di saat kalian bingung dengan pilihan black canyon atau starbucks untuk menghilangkan penat pasca proposal atau kerja sripsi. Saya masih harus berfikir harus makan apa hari ini sekadar menambah energi agar tubuh tetap tegap untuk duduk menganalisa segala tetek bengek yang ku saya butuhkan untuk instrumen penelitian. Dan sialnya lagi, saya sebagai anak sulung harus pura-pura tegar melihat adik bungsuku harus memilih antara menahan lapar agar tetap bisa bersekolah, atau mengeluh pada ayahku lalu diminta berhenti sekolah.

Saya dan adik ku memang sama-sama punya tekad dan kemauan yang keras. Untuk menjadi manusia berpendidikan sesuai pandangan masyarakat. Sayangnya. Sayangnya, sayang sekali, saya sebagai anak sulung tidak bisa berbuat apa-apa untuk adik ku. Sekadar meringankan bebannya. Dan di sinilah sata terjebak lagi, antara lapar atau belajar. Rasanya, saya ingin mengurungkan lagi niat ku untuk menyelesaikan studi ini. Rasanya tiga huruf gelar sarjana di belakang namaku kelak itu tidak ada artinya jika harus mendengar adik ku kelaparan.


Saya sekarang hanya memiliki dia, adik ku. Ayahku sudah di miliki oleh istri barunya itu. Adik ku yang kedua sudah berkeluarga. Kini tinggal saya dan sibungsu, yang seharusnya ku topang. Beberapa bulan lalu saya merasa takabur, meninggalkan pekerjaanku agar dapat menyelesaikan kuliah. Sekarang? Saya justru makin pesimis. Takut tak sampai garis finish. Entah karena terlambat waktu, tak mampu bayar, mati kelaparan, atau mati stressing adik ku yang masih saja pura-pura tegar. Sepertinya, sekolah memang bukan untuk kami yang miskin.


Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)