(Bukan) Sudra dan Brahmana (#4)

0

Suara Mileh


Saya Mileh. Bukan Sudra dan bukan Brahmana. Saya menyayangi Makhy, tapi ada beberapa hal yang pasti dia berbohong dalam ceritanya pada kalian.



Pertama, tentang Sudra dan Brahmana saya jelas tak setuju. Sebab saya, Mileh dan dia, Makhy adalah manusia. Begitupun kalian. Saya punya sepasang mata, dia juga. Bedanya, saya pakai mata ini mengagumi matanya. Dan matanya sibuk memamerkan semangat nya. Dapat saya pastikan mata kalian, tentu ingin juga melihat matanya.


Biar saya ceritakan sedikit. Pernah sekali, saat saya ngotot mengikutinya ke sungai. Dia mencuci setumpuk pakaian. Hingga jarinya terluka, dia tidak peduli. Sedang saya hanya diam menikmati, Makhy mengoceh, menghalau lelahnya. Saat itu, saya berkata, cukup dalam hati, biar Makhy tak perlu tahu.

"Dari mana saja saya? Dari mana saja perempuan merah ini. Selama ini berapa lama kami dipisahkan?" kataku.


Kebohongannya yang kedua, katanya, saya tidak pernah menoleh padanya. Dia berbohong. Setahun lalu, ku buka diam-diam buku catatannya. Ku baca sepenggal-sepenggal sekadar ingin tahu bagaimana dia. Dia memang seorang penulis. Fikir saya. Tapi dia tidak akan mengalahkan saya dengan mudah. Saya akan belajar menulis untuk membalas tulisannya.


Melihat lebih jauh ke belakang. Saya sering melihatnya lalu lalang. Sejak kasus pemecatan 19 orang temannya dari padepokan. Dia selalu ada di sana, ribut. Dia sangat ribut. Saya menoleh sesekali karena gaduhnya, tapi saya tidak peduli. Saya tidak tahu namanya. Saya tidak mengenalnya. Dia sok kenal, saya menutup jalan.


Pernah sekali, terpaksa ku tanyakan namanya kepada seseorang. Sebab tiap bertemu, dia selalu membuat saya jengkel dan gemas bersamaan. Dari sebuah jawaban singkat. Saya tahu, namanya Makhy.


Ujian


Adapula yang luput Makhy ceritakan pada kalian. Ialah kawannya, Zifzy Seorang perempuan yang lebih muda setahun dari Makhy. Dari dialah, si Zifzy cerita ini di mulai. Melalui kisah perjalanan Makhy yang kulihat dari sudut pandang Zifzy, saat itu dengan seenaknya ku klaim dia sebagai separuhku. Terlalu cepat? Saya rasa tidak.


Malam itu, saya sengaja atur siasat dengan Zifzy. Saya ingin menjebak Makhy. Untuk kepentingan pribadi saya. Saya berusaha menyulutnya, saya mencoba membakarnya. Saya berpelukan dengan Zifzy, seolah-olah baru saja berikrar akan sehidup semati. Dan tahukah kalian? Perempuan merah itu, terbakar. Dia menarik bajuku, tepat di pangkal leher. Dia memaki.

"Brengsek, kau fikir, aku suka melihat adegan itu?" katanya. Saya diam. Setelah itu, kalian pasti bisa menyimpulkan.


Boleh saya culik dia dari orang tuanya?


Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)