Kepada Kamuku
Mengeja namamu pun aku masih terbata
Menyentuh wajahmu pun aku masih bergetar
Namun, dalam tiap sujud terakhir yang panjang, aku terang-terangan memintamu pada Dia yang bukan kau
Menatap matamu, aku rasa haru
Melihat tawamu, aku terus bersyukur
Namun dalam angan-angan, aku terang-terangan mengharapkanmu, meminta dukungan semesta
Sampaikan salamku, salam hormat kepada ayah hebat yang sudah mendidikmu
Sampaikan terima kasihku, kepada ibu hebat yang telah melahirkanmu
Memilikimu adalah mimpi
Mendampingimu adalah cita-cita
Dan aku....
Sedang berjalan menuju mimpi dan cita-citaku
Di sebuah desa yang sepi, di malam yang sunyi, di subuh yang damai, di kelilingi gunung dan sawah-sawah terasering
Kita bercerita sambil berpelukan, ditemani secangkir kopi
Aku sudah hapal takarannya, tiga sendok bubuk kopi hitam dan sepertiga sendok gula
Kopinya dari kebun, dari pohon, dari buah yang kau petik sendiri.
Dari biji kopi yang ku keringkan, ku sangrai dan ku tumbuk sendiri. Itu untuk kita.
Kita yang lelah, kita yang bersyukur, kita yang gembira, kita yang bahagia.
Aku ingin bersandar padamu, di suatu malam yang basah oleh hujan.
Aku ingin bercerita...
Tentang seorang perempuan merah, yang sangat mencintaimu....
Rappocini, 2 November 2015
23.22
