(Bukan lagi) Sudra dan Brahmana (#9)

0
Sejak surat yang kuterima
beberapa waktu lalu tentang ketidak setujuan Mileh terhadap
stratifikasi, aku mulai merasa lega. Baiklah, tidak perlu lagi
kubawa-bawa ke-Sudra-an ku atau Brahmananya.

(Tidak) Sengaja Berkunjung.


Mileh tidak berkuda kepadepokan atau saat menemuiku di rumah
persinggahan. Kudanya, Spoky sakit dan harus dirawat. Hari itu, sedang
cerah, aku berencana pulang ke desa Entah. Mileh juga akan pulang ke
kampungnya. Aku memutuskan untuk mengantarnya dengan kudaku, Si Merah.
Tidak pernah kurencanakan, akan singgah di rumahnya. Saat tiba di depan
pagar, harusnya aku langsung melanjutkan perjalanan, tapi Mileh
terlanjur mengatakan pada bapaknya yang sedang duduk di beranda bahwa
dia diantar olehku.

"Assalamu Alaikum, pak, saya diantar Makhy,"
katanya pada bapaknya.
 "Masuklah dulu," katanya padaku.
 Dan dengan
segala perasaan cemas dan tidak percaya diri aku masuk, menyentuhkan
kaki kananku di dinginnya keramik lantai rumahnya

Aku disambut
oleh dua orang malaikat berwujud bocah berusia dua tahun, entah lebih
entah kurang. Mereka berdua berdiri berjejer di pintu. Aku sudah
mengenalnya sebagai Abir dan Nafi, lewat cerita-cerita yang dibagi
Mileh. Mata mereka berbinar menatapku, mereka seperti menyambutku, aku
tidak lagi cemas, aku tidak lagi tak percaya diri. Tatapan dua Malaikat
itu menguatkan.


Aku duduk dikursi ruang keluarga, mengambil jarak
agak jauh. Beruntung, ibu Abir, memanggilku ke dekatnya. Aku semakin
percaya diri. Aku merasa di rumah sendiri. Terlalu cepat? Entahlah.


Ayah Abir, kakak Mileh mengajak bicara, aku senang. Mereka ramah.
Bapaknya seorang pendiam. Aku rasa begitu, dia tegas dan berwibawa. Aku
hormat. Ibunya, keras dan juga tegas, itu gambaran pertamaku. Tapi aku
suka saat dia tersenyum, keduanya. 

Ada kasih sayang orang tua yang
hangat mengalir lewat senyum mereka. Kelak aku ingin memanggil mereka
bapak dan mamak, seperti Mileh memanggil mereka.

Waktuku banyak
ku habiskan dengan Abir dan Nafi, kami terasa akrab. Serasa dekat. Kami
bermain dengan seluruh mainan mereka, mengabsen satu per satu keluarga
besar Mileh lewat foto keluarga. Kami banyak tertawa bersama. Aku
menyayangi kedua malaikat kecil itu. Terasa Abir sedikit malu-malu tapi
suka mendekatiku, Nafi justru tidak rela aku pulang saat berpamitan.
Dia menangis. Aku ikut sedih.


"Sering-seringlah kesini," pesan
terakhir bapak Mileh saat aku berpamitan. 

Ku cium tangan dua orang yang
telah membesarkan Milehku, hingga dia kini seperempat abad. Diam-diam
aku berterimakasih kepada mereka. Telah menghadirkan Mileh di dunia ini.


Aku pulang ke desa Entah membawa rasa bahagia dan syukur, ah Rindu turut serta...

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)