Dear Hikmah

0

Dear hikmah, diriku, saya.



Ada harga mahal yang harus kamu bayar untuk nilai sebuah mimpi. Keinginanmu untuk berada dekat dengan orang tuamu satu-satunya. Keinginanmu untuk bersenang-senang diluar sana. itu adalah keinginan yang harus kamu tunda untuk mahalnya sebuah mimpi.


Untuk tanganmu yang lebam karena beradu dengan meja dan keyboard laptop. Untuk air mata yang mengalir sembari tetap menyelesaikan tugasmu sebagai satu-satunya orang yang bisa kamu andalakan. Itu adalah harga yang harus kamu bayar untuk sebuah mimpi besar.


Untuk perut yang kelaparan,untuk hasrat makan yang harus ditunda demi memastikan kebutuhan perusahaan terpenuhi, itu adalah konsekuensi besar yang harus kamu tanggung. 


Untuk luka-luka yang harus kamu telan sendiri. Untuk sikapmu yang begitu keras kepada diri sendiri. Tentang perlawananmu yang dianggap sebagai pengkhianatan. Telan itu, itu adalah obat pahit yang harus kamu teguk tanpa air. Sulit ? Iya karena semahal itu harga mimpi yang ingin kamu gapai. 


Hikmah, menangislah hanya untuk dirimu sendiri namun kamu harus berdiri tegak di hadapan manusia lain. Diamlah dan kerjakan yang bisa kamu kerja. Selebihnya biarkan seleksi alam bekerja. 


Untuk kesepian yang kamu rasakan, untuk waktu tidur yang berkurang. Dan untuk pencapaian dan usaha yang tidak pernah dihargai, jadikan itu pupuk untuk mentalmu. Kamu mempersiapkan dirimu untuk sesuatu yang besar. Dan kamu sudah di jalan yang tepat.


Hikmah, terima kasih sudah menjadi hikmah yang seperti ini. Hikmah yang diam terhadap mereka yang menyalak. Hikmah yang diam adalah hikmah yang paling kuat. Kamu tidak akan membuat orang lain mendapat kesempatan untuk menyakitimu... 


Hikmah terima kasih, kamu hebat kamu cukup kamu akan selalu seperti itu, aku mencintaimu,,,, Diriku...

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)