Hari-hari belakangan ini saya dilanda banyak fikiran buruk. Saya mendapati diri menjadi manusia yang picik. Saya takut hal tersebut memengaruhi upaya saya untuk selalu berbuat baik. Meski berbuat baik bagi orang yang memiliki karakter jahat seperti saya bukanlah hal mudah, tapi saya sedang berusaha.
Belakangan, iblis dalam diri saya seperti meronta ingin keluar. Saya mencurigai orang-orang. Saya seperti tertekan dan merasa frustasi untuk hal-hal yang seharusnya bisa dimaklumi secara rasional. Jika sudah demikian saya hanya bisa mengingat kata-kata seorang teman. Tidak semua isi kepala orang sama. Kita memiliki fikiran yang berbeda-beda. Maka dari itu saya selalu berusaha merasionalisasi bahwa apa yang merupakan pengkhianatan bagi saya maka belum tentu juga disebut pengkhianatan bagi orang lain.
Salah satu masalah besar saya adalah saya benci melihat orang tidak fokus. Sama seperti cerita bijak yang sering kubaca tanpa sengaja. Jangan berusaha menangkap semua ikan di laut, kamu akan berakhir dengan kehilangan kesempatan menangkap 1 ikan besar dan hanya akan mendapat beberapa ikan kecil.
Tapi itu hanya idealitas yang tergambar di kepalaku. Mungkin ada beberapa orang yang bisa fokus menangkap dua atau tiga ikan besar dalam satu kali menjaring. Tapi tidak bagiku. Dan itu bisa jadi merupakan sebuah kelemahan. Saya memproyeksikan kelemahanku menjadi pengkhianatan. Itu Picik???
Sejak memulai sesuatu, saya berusaha untuk maksimal dalam mengerjakannya. Saya tahu saya malas tapi saya mencoba melawan kemalasan itu dengan satu harapan, saya bisa mewujudkan target secara maksimal. Namun pada akhirnya, ide itu menjadi lemah karena tidak semua orang memiliki fikiran yang sama.
Orang-orang yang optimistik dan paham kapasitas mereka mungkin punya fikiran yang bertolak belakang dengan saya. Mereka tidak akan menyianyiakan kesempatan yang datang. Sedangkan saya memilih untuk menutup semua pintu kemungkinan lain agar bisa fokus terhadap apa yang ku lakukan sekarang. Apakah ini sindrom kacamata kuda? Jika ini merupakan sebuah penyakit, saya berharap orang-orang yang bekerjasama dengan saya juga mengidap penyakit serupa.
Jika menjadi manusia yang fokus menatap dan memaksimalkan sebuah peluang adalah sebuah penyakit, saya ingin tim yang melibatkan saya juga mengidap penyakit yang sama. Tapi bukankah itu terlalu picik? Ya begitulah mungkin saya telah menjadi picik karena ketakutan untuk gagal.
Saya sejatinya tidak begitu takut untuk gagal, karena saya percaya hasil tidak akan menghianati usaha. Tapi, saya takut gagal karena tidak fokus dan tidak maksimal dalam menjalankan komitmen yang telah dibangun.
Hari ini rasanya saya ingin bermalas-malasan saja......

