Hari ini Rabu (8/3), katanya diperingati sebagai hari perempuan internasional. Media sosial, portal berita mainstream hingga media alternatif ramai memperbincangkan momentum ini.
United Nations of Woman (UN Woman), organisasi KHUSUS perempuan yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setiap tahun bahkan memberikan tema khusus untuk perayaan ini. Tahun 2023 UN Woman mengangkat tema, DigitALL: Innovation and Technology for Gender Equality" atau "DigitALL: Inovasi dan Teknologi untuk Kesetaraan Gender".
Kedengarannya sangat wah, diperingati di seluruh penjuru dunia. Tokoh-tokoh perempuan diulas biografinya dan karya-karyanya yang berdampak bagi masyarakat. Sekali lagi, seperti hari ibu dan hari Kartini, perempuan diberikan panggung untuk mengaktualisasi diri.
Sayangnya, tidak ada panggung yang berdiri selamanya. Panggung-panggung itu akan dibongkar ketika acara selesai. Momentum usai, panggung pun bubar. Perempuan kemana? Menanti perayaan-perayaan selanjutnya.
Sebuah ironi yang masih menjadi pertanyaan mengganjal di dalam diri saya sendiri , sebagai perempuan? Bukan! sebagai manusia, sebagai mahluk hidup.
Saya tidak berusaha mendiskreditkan perempuan-perempuan hebat dibalik tercetusnya, International Woman Day. Tapi semakin banyak perayaan-perayaan demikian membuat saya semakin bertanya-tanya. Apakah perempuan masih akan tetap bersinar meski tidak diberi panggung-panggung tersebut?
Semakin saya dicekoki dengan hal-hal yang berbau momentum untuk menghargai perempuan, harga diri saya justru semakin tergores. Saya mungkin memikiki perspektif yang salah. Atau bisa jadi saya hanya tidak mengerti dengan hal-hal yang demikian.
Satu hal yang pasti bahwa saya selalu mengganggap hal-hal serupa memang sengaja dibuat untuk mengganggu alam bawa sadar perempuan. Memaksa mereka untuk mengamini bahwa mereka memang tidak setara dengan laki-laki.
Tulisan saya ini mungkin akan berbau agak feminis. Tapi percayalah bahwa saya bukan penganut isme apapun dari belahan ide siapapun.
Saya menulis ini sebagai manusia merdeka yang tidak butuh peraturan yang memaksa masyarakat harus menyediakan jatahu kursi 30 persen untuk legislator perempuan di kursi-kursi parlemen.
Saya adalah perempuan yang berharap seluruh ruang-ruang publik dan seluruh posisi strategis di manapun di dunia ini dijadikan sebagai area yang fair untuk diperjuangkan oleh setiap individu tanpa melihat kelamin mereka.
Karena sejak kapanpun saya percaya bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Sehingga tidak ada di antara kedua jenis kelamin ini yang perlu memperjuangkan kesetaraan tersebut.
Saya adalah mahluk hidup berjenis kelamin betina yang percaya bahwa yang perlu sama-sama kita perjuangkan adalah keadilan dalam menjalani kehidupan. Hak asasi yang paling dasar. Hak untuk hidup dalam masyarakat dengan menyandang status yang sama, Manusia.
Saya tidak berani untuk mengajak kalian membenci feminisme, saya juga tidak mengajak anda membenci isme atau menganut isme apapun. Saya hanya berbicara sebagai manusia biasa yang bertanya-tanya. Sampai kapan perempuan harus menunggu panggung selesai dibangun?
Bukankah sudah waktunya kita turun ke arena dengan bekal mumpuni sebagai individu merdeka. Sehingga kita tidak perlu lagi memperdebatkan soal isi celana dalam?
*lain kali saya akan membahas, tempat duduk khusus wanita, gerbong khusus wanita, tempat parkir khusus wanita, hingga hal-hal khusus lainnya.

